Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TUBERKULOSIS (TB) tetap menjadi salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia. Penyakit ini sering disebut sebagai silent killer karena bakteri penyebabnya dapat berdiam dalam tubuh tanpa menimbulkan gejala apa pun selama bertahun-tahun. Kondisi inilah yang dikenal sebagai TB laten, dan menjadi salah satu tantangan terbesar dalam upaya pengendalian TB.
TB disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Meski terutama menyerang paru-paru, bakteri ini juga dapat menginfeksi organ lain seperti otak, kelenjar getah bening, ginjal, tulang belakang, dan laring. Penularan terjadi melalui udara ketika penderita TB aktif batuk, berbicara, atau bernyanyi.
Menurut para ahli, bakteri TB dapat “bersembunyi di area kecil paru-paru atau kelenjar getah bening dan tetap dalam kondisi tidur selama berminggu-minggu hingga bertahun-tahun sebelum aktif kembali.” Saat aktif, bakteri mulai berkembang biak, menyebabkan gejala, dan dapat menular kepada orang lain.
Namun, risiko meningkat pada orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah.
Meski tidak menular, infeksi laten tetap berbahaya karena dapat berubah menjadi aktif kapan saja jika imun menurun, misalnya saat sakit atau mengalami kondisi medis tertentu.
Bakteri berkembang biak dan menyebabkan gejala.
Gejala TB aktif meliputi:
Jika terjadi di luar paru-paru, dapat menimbulkan gejala spesifik, misalnya pembengkakan merah keunguan pada kelenjar getah bening.
Beberapa kelompok lebih rentan terinfeksi TB laten maupun aktif, seperti:
Deteksi TB laten sangat penting agar infeksi tidak berkembang menjadi aktif. Beberapa pemeriksaan yang digunakan antara lain:
1. Tes Mantoux (Uji Tuberkulin)
2. Tes Cepat Molekuler (TCM)
3. IGRA (Interferon Gamma Release Assay)
Pengobatan TB laten bertujuan mencegah bakteri “tertidur” berubah menjadi aktif. Obat yang umumnya diresepkan meliputi:
Di Indonesia, terapi pencegahan TB (TPT) biasanya menggunakan regimen jangka pendek berikut:
Regimen dapat disesuaikan jika:
Pengobatan TB aktif memerlukan kombinasi beberapa antibiotik sekaligus. Terapi ini umumnya berlangsung selama 6 bulan, dan dalam beberapa kasus dapat diperpanjang hingga 9 bulan.
Pengawasan ketat diperlukan karena banyak pasien merasa membaik dalam beberapa minggu pertama dan berhenti minum obat, padahal penghentian terapi terlalu cepat dapat membuat bakteri bermutasi dan menjadi resisten sehingga pengobatannya jauh lebih sulit. Ketidakpatuhan inilah yang menjadi salah satu penyebab utama munculnya TB resisten obat.
Program pengobatan TB banyak menerapkan Directly Observed Treatment (DOT), yaitu pemantauan langsung oleh tenaga kesehatan.
Beberapa langkah pencegahan dapat dilakukan, di antaranya:
Vaksin BCG juga tersedia dan umumnya diberikan kepada bayi di negara dengan beban TB tinggi. Meski tidak sepenuhnya mencegah TB, vaksin ini mengurangi risiko bentuk TB berat pada anak-anak.
TB tetap menjadi ancaman karena bakteri dapat berdiam tanpa gejala selama bertahun-tahun dan berkembang menjadi TB aktif jika tidak diobati. Karena itu, deteksi dini, skrining bagi kelompok berisiko, serta pengobatan yang tuntas menjadi langkah penting untuk mencegah penularan dan melindungi kesehatan masyarakat. (Alodokter, Public Good News/Z-1)
Dinkes terus memperkuat kerja sama dengan puskesmas serta berbagai yayasan atau lembaga kesehatan untuk menemukan kasus-kasus baru sedini mungkin.
Di Kalimantan Barat, capaian deteksi kasus dan keberhasilan pengobatan masih belum optimal, sementara cakupan Terapi Pencegahan Tb (TPT) pada anak masih rendah.
Selain penemuan kasus secara aktif, upaya ini juga diimbangi dengan pemberian obat yang tepat dan langkah pencegahan, antara lain dengan pemberian Terapi Pencegahan Tb.
Pemerintah menegaskan percepatan eliminasi tuberkulosis (Tb) sebagai langkah darurat nasional, menyusul tingginya angka penularan dan kematian akibat penyakit tersebut.
Estimasi kasus Tb di Indonesia mencapai sekitar satu juta kasus, namun hingga saat ini baru sekitar ratusan ribu kasus yang teridentifikasi dan tercatat secara medis.
Meski begitu ia tetap mengapresiasi langkah pemerintah dalam upaya pengentasan TB. Namun program eliminasi TB harus dipantau agar implementasinya optimal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved