Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENYAKIT demam rematik (DR) dan penyakit jantung rematik (PJR) kini mengintai anak-anak di Indonesia, dengan potensi dampak yang semakin besar akibat kondisi lingkungan yang buruk. Status endemis yang masih melekat pada kedua penyakit ini di Indonesia menjadi alarm yang tidak bisa diabaikan oleh orangtua maupun pemerintah.
DR, yang disebabkan oleh infeksi bakteri Streptococcus Grup A (SGA), muncul akibat radang tenggorokan yang tidak segera diobati. Tanpa penanganan medis yang tepat, infeksi ini bisa berkembang menjadi PJR, yang merusak katup jantung secara permanen dan berpotensi menyebabkan komplikasi serius seperti gagal jantung atau stroke. Bahkan, pada kerusakan yang parah, penderita bisa membutuhkan operasi katup jantung.
Walau keduanya adalah penyakit yang terpisah, mereka saling terkait dan bisa mengancam kualitas hidup anak-anak. Gejala yang perlu diwaspadai sebagai tanda DR meliputi:
Anak-anak berusia 5 hingga 15 tahun menjadi kelompok yang paling rentan terhadap DR dan PJR. Penyebabnya sangat berkaitan dengan lingkungan yang padat, ventilasi yang buruk, sanitasi yang tidak memadai, serta minimnya akses terhadap layanan kesehatan. Infeksi tenggorokan berulang dan penularan dari keluarga atau teman sekolah yang terinfeksi memperburuk risiko terkena penyakit ini.
Menurut Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Kardiologi dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Rizky Ardiansyah, penyakit ini lebih sering ditemukan pada keluarga dengan kondisi sosial-ekonomi menengah ke bawah. “Kondisi ekonomi yang lebih baik dapat menurunkan prevalensi DR dan PJR,” ujar Rizky dalam sesi media briefing di Salemba, Jakarta, Senin (10/11).
Berdasarkan data UKK Kardiologi IDAI pada 2018, angka kematian akibat PJR mencapai lebih dari 0,15 per 100.000 penduduk, yang berarti sekitar 15 orang per juta penduduk meninggal akibat penyakit ini. Data dari World Health Organization (WHO) juga mencatat bahwa saat ini terdapat sekitar 40 juta penderita PJR di seluruh dunia, dengan 300 ribu kematian setiap tahunnya.
Namun, yang lebih mengkhawatirkan, menurut Rizky, adalah diagnosis PJR yang sering terlambat, umumnya setelah kerusakan katup jantung terjadi parah.
"Program pencegahan penyakit ini masih sangat terbatas. Deteksi dini yang rendah dan tidak adanya program screening khusus untuk jantung rematik menjadi kendala besar," ujarnya.
Penting bagi orangtua dan pemerintah untuk meningkatkan kesadaran dan melakukan tindakan preventif lebih awal. Tanpa langkah konkret, masa depan kesehatan anak-anak kita akan semakin terancam oleh penyakit yang seharusnya bisa dicegah. (Z-10)
Demam rematik (DR) yang dapat berkembang menjadi penyakit jantung rematik (PJR) pada anak masih menjadi ancaman yang belum dapat diatasi secara optimal
Pendekatan life-course immunization menjadi fokus utama di IVAXCON 2026 untuk memperkuat perlindungan kesehatan dari bayi hingga lansia dan melawan misinformasi.
Bertambahnya suhu bumi membuat kuman maupun virus bisa bertumbuh dengan lebih subur sehigga cukup berbahaya pada anak yang belum terproteksi dengan imunisasi rutin.
Dokter spesialis kedokteran olahraga dr Andi Kurniawan Sp.KO ingatkan jemaah haji waspadai risiko diabetes, hipertensi, hingga jantung akibat cuaca ekstrem.
Berdasarkan data Kemenkes, grafik kasus campak sempat melonjak tajam pada pekan pertama Januari 2026 dengan total 2.220 kasus.
Obesitas bukan sekadar persoalan penampilan atau gaya hidup. Ini penyakit kronis yang risikonya besar terhadap kesehatan.
Kemenkes menyebut terdapat 3 penyakit yang banyak ditemukan pada pemudik lebaran 2026 yakni hipertensi (darah tinggi), cephalgia (nyeri kepala), dan gastritis (maag).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved