Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER Spesialis Kedokteran Olahraga Andhika Respati mengatakan menari secara rutin mampu meningkatkan VO2 max, yang merupakan indikator kemampuan tubuh bisa meningkatkan penggunaan oksigen dengan lebih efisien dan efektif.
"Dance (menari) itu ternyata secara ilmiah sudah terbukti, jadi dia bisa meningkatkan ambilan oksigen kita atau VO2 max lah ya," kata Andhika, dikutip Senin (1/9).
Andhika mengatakan meningkatnya VO2 max dari gerakan tari tersebut memiliki manfaat memperkuat fungsi paru-paru sehingga membantu terhindar dari masalah pernafasan.
"Dengan fungsi paru jadi lebih baik, dia bisa bernafas dengan lebih optimal maka akan lebih mudah untuk bekerja dan beraktivitas," ujar dokter lulusan Universitas Indonesia itu.
Andhika menilai pola hidup masyarakat yang semakin bergantung pada teknologi membuat aktivitas fisik semakin berkurang. Akibatnya, rentan terhadap masalah kesehatan.
"Selain karena faktor lain karena makanan apa segala macam. Kita bisa katakan faktor gerak juga sangat mempengaruhi nih imun seseorang," imbuh dia.
Andhika mengatakan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan minimal 75 menit aktivitas fisik berintensitas sedang ke tinggi setiap minggu.
Menurut dia, menari termasuk olahraga intensitas tinggi, dengan durasi 15 menit per hari, dinilai cukup untuk memenuhi rekomendasi WHO.
Menari, lanjut Andhika, tidak hanya berdampak pada kekuatan fisik, tetapi juga meningkatkan sistem imun tubuh, merangsang kerja sel darah putih.
"Jadi lebih kuat karena ikutan pelatih sama tariannya, enggak cuma pada kekuatannya doang, tapi juga di sistem imun secara keseluruhannya. Akhirnya enggak gampang sakit seperti batuk," pungkas dia. (Ant/Z-1)
Dance singkat ini bukan cuma bisa membantu memperkuat sistem imun dan menjaga kesehatan paru-paru, tapi juga menjadi langkah mudah untuk hidup lebih sehat dan lebih lama.
VO2 max bukan sekadar daya tahan fisik, tapi juga berkaitan langsung dengan kesehatan paru-paru dan daya tahan tubuh terhadap penyakit pernapasan.
Guru Besar FKUI Prof. Faisal Yunus menegaskan vape dan rokok konvensional sama-sama berbahaya bagi kesehatan dan bukan alternatif yang aman.
Prof. Agus Dwi Susanto memperingatkan bahaya vape pada remaja yang memicu adiksi nikotin hingga risiko paru-paru bocor dan peralihan ke rokok konvensional.
Guru Besar FKUI Prof. Agus Dwi Susanto memperingatkan dampak buruk vape bagi remaja, mulai dari paru-paru bocor hingga risiko penyakit kronis dini.
PDPI menyoroti tingginya angka perokok, termasuk pada anak-anak, serta makin maraknya penggunaan rokok elektronik.
Kandungan kimia dalam gas air mata yang terhirup masuk ke dalam paru berpotensi meningkatkan risiko gejala akut dalam paru dan saluran napas.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved