Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
OBESITAS kini menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia maupun dunia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa 35,4% penduduk dewasa Indonesia mengalami obesitas, dengan angka tertinggi tercatat di DKI Jakarta (43,2%), Kalimantan Timur (41,3%), dan Sulawesi Utara (40,5%).
Lebih mengkhawatirkan lagi, prevalensi obesitas sentral juga meningkat signifikan, dari 26,6% pada 2013 menjadi 31,0% pada 2018 (laki-laki 21,8%, perempuan 39,3%).
Secara global, WHO memperkirakan 1 miliar orang akan hidup dengan obesitas pada 2030. Kondisi ini menimbulkan dampak serius berupa peningkatan risiko diabetes tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, stroke, kanker, hingga kematian dini, serta membebani biaya kesehatan dan produktivitas nasional.
Menjawab krisis ini, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama para ahli meluncurkan Pedoman Nasional Praktik Klinis (PNPK) Obesitas 2025, yang disusun berbasis bukti ilmiah terkini dan disahkan secara resmi untuk menjadi acuan praktik medis di seluruh fasilitas kesehatan di Indonesia.
Ketua Tim Penyusun PNPK, Lily Indriani O, menjelaskan bahwa pedoman ini ditujukan tidak hanya bagi dokter spesialis, tetapi juga dokter umum, perawat, ahli gizi, hingga psikolog klinis, serta dapat digunakan di rumah sakit, puskesmas, klinik, maupun layanan primer.
“PNPK Obesitas dirancang agar tenaga kesehatan memiliki panduan baku dalam mendiagnosis, menatalaksana, dan memantau pasien obesitas. Pendekatannya komprehensif dan berkelanjutan, mulai dari perubahan gaya hidup hingga terapi medis dan tindakan bedah bila diperlukan,” ujar Lily, yang juga dokter spesialis gizi klinik..
Isi PNPK mencakup:
Dokter spesialis gizi klinik Erwin Christianto menegaskan bahwa obesitas adalah masalah serius kesehatan masyarakat, bukan sekadar isu penampilan.
“Obesitas mempercepat munculnya komplikasi seperti diabetes, gangguan jantung, stroke, bahkan kanker. Dengan PNPK, penanganan bisa lebih terarah sehingga komplikasi dapat ditekan,” katanya.
Sementara itu, dokter spesialis gizi klinik Maya Surjadjaja menekankan pentingnya intervensi sejak dini.
“Faktor pola makan tinggi gula, rendah serat, kurang aktivitas fisik, dan stres menjadi penyebab dominan obesitas di Indonesia. Edukasi masyarakat dan pendampingan tenaga kesehatan harus berjalan seiring agar perubahan gaya hidup lebih efektif,” jelasnya pada diskusi di Jakarta, Sabtu (23/8).
Peluncuran PNPK juga mendapat dukungan dari Novo Nordisk Indonesia, perusahaan farmasi global asal Denmark yang fokus pada penyakit kronis, termasuk obesitas.
Medical Director Novo Nordisk Indonesia Riyanny Meisha Tarliman menyampaikan, “PNPK Obesitas adalah tonggak penting dalam upaya nasional mengatasi obesitas. Kami berkomitmen mendukung tenaga kesehatan dengan solusi inovatif berbasis ilmu pengetahuan yang berpusat pada pasien."
Dengan adanya PNPK Obesitas 2025, Indonesia kini memiliki standar nasional resmi berbasis evidence untuk menangani obesitas secara sistematis. Pedoman ini diharapkan mampu memperkuat peran tenaga kesehatan, menurunkan prevalensi obesitas, serta mengurangi beban komplikasi dan biaya kesehatan.
Lebih dari itu, keberadaan PNPK juga menjadi momentum penting menuju Indonesia yang lebih sehat, produktif, dan siap menghadapi tantangan penyakit kronis di masa depan. (Z-1)
Pasar kebugaran digital Tanah Air diproyeksikan melonjak dari US$ 3,8 miliar (2025) menjadi US$ 12,7 miliar (2031).
Studi ATTICA selama 20 tahun mengungkap bahwa individu dengan obesitas sehat secara metabolik (MHO) tetap memiliki risiko penyakit jantung 39% lebih tinggi.
Obesitas saat ini merupakan salah satu tantangan kesehatan global yang terus meningkat, dengan dampak signifikan terhadap kualitas hidup
Konsumsi minuman berpemanis (SSB) di Indonesia meningkat tajam. Pakar Gizi IPB ingatkan risiko diabetes dan pentingnya membatasi asupan gula harian.
Peningkatan prevalensi obesitas dan penyakit metabolik di Indonesia mendorong perlunya pendekatan penanganan yang lebih komprehensif.
Riset terhadap 16 ribu anak menunjukkan pubertas datang lebih dini. Faktor berat badan, stres, dan lingkungan ikut berperan besar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved