Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Kebiasaan tidur seseorang kerap dikaitkan dengan kondisi emosional dan mentalnya. Banyak yang meyakini posisi saat tidur dapat mencerminkan keadaan psikologis individu. Informasi semacam ini banyak ditemui di media sosial serta dalam percakapan tentang kesehatan sehari-hari.
Berdasarkan penjelasan dari UNICEF, Hello Sehat, dan Alodokter, ungkapan tersebut mengandung sebagian kebenaran. Namun tidak sepenuhnya tepat, jika dijadikan satu-satunya acuan. Hello Sehat mengungkapkan posisi tidur faktanya bisa terkait dengan kondisi emosional.
Contohnya, tidur dalam posisi meringkuk seperti bayi sering diasosiasikan dengan perasaan cemas atau stres. Sementara itu, tidur miring dianggap lebih nyaman secara emosional, terutama bagi individu yang tengah menghadapi tekanan.
Posisi tidur tidak bisa dijadikan sebagai penentu pasti untuk kesehatan mental seseorang. Pasalnya ada banyak faktor lain yang memengaruhi kebiasaan tidur.
Alodokter juga menyebutkan posisi tidur lebih berkaitan dengan kualitas tidur dan kenyamanan fisik. Tidur dalam posisi tengkurap berisiko mengganggu pernapasan dan menimbulkan nyeri otot, yang pada akhirnya bisa berdampak pada suasana hati.
Masalah tidur dalam jangka panjang, seperti kesulitan tidur yang nyenyak atau sering terbangun, memang berkaitan dengan gangguan mental seperti kecemasan atau depresi. Namun, posisi tidur itu sendiri tidak bisa dijadikan sebagai diagnosis.
Dalam laporannya mengenai kesehatan mental remaja, UNICEF menekankan pentingnya memperhatikan pola tidur sebagai salah satu tanda kondisi psikologis. Kurang tidur atau perubahan mendalam dalam pola tidur dapat menjadi sinyal awal adanya gangguan mental.
Namun, UNICEF tidak menyebutkan posisi tidur tertentu sebagai satu-satunya ukuran untuk menilai kesehatan mental.
Memang, posisi tidur dapat memberikan indikasi awal terkait kondisi emosional, tetapi bukanlah indikator medis yang berdiri sendiri.
Mitos bahwa posisi tidur dapat secara akurat menunjukkan kesehatan mental masih sering diyakini, padahal tidak ada bukti ilmiah yang kuat untuk mendukung klaim tersebut dalam semua konteks.
Kebiasaan tidur dipengaruhi berbagai faktor, seperti stres sehari-hari, gaya hidup, pola makan, dan kualitas tempat tidur. Oleh karena itu, menilai kondisi mental hanya berdasarkan posisi tidur adalah mitos jika tidak dilengkapi dengan penilaian menyeluruh lainnya, seperti perilaku sehari-hari, emosi, dan interaksi sosial.
Dengan demikian, posisi tidur mungkin mencerminkan kenyamanan atau kebiasaan pribadi. Bukanlah alat untuk mendiagnosis masalah kesehatan mental.
Jika seseorang mengalami perubahan dalam pola tidur bersamaan dengan gejala psikologis lainnya, langkah yang bijak adalah berkonsultasi dengan profesional medis atau psikolog.
(allo dokter/Unichef/hellosehat/Z-2)
Psikolog Ratih Ibrahim memperingatkan risiko PTSD pada korban kecelakaan kereta api. Simak gejala, faktor risiko, dan pentingnya penanganan dini di sini.
Penelitian terbaru mengungkap konsep 'affective tactile memory'. Ternyata, tubuh kita merekam sentuhan bermakna sebagai sensasi fisik yang membentuk rasa aman seumur hidup.
Psikolog Ratih Ibrahim menjelaskan pentingnya resiliensi dan dukungan keluarga bagi korban kecelakaan kereta api untuk pulih dari trauma psikologis.
Ia juga mengingatkan bahwa menghindari sepenuhnya stimulus yang berkaitan dengan trauma dalam jangka panjang dapat menghambat proses pemulihan.
Ia menjelaskan, gejala yang muncul bisa beragam, seperti perasaan cemas berlebihan, jantung berdebar saat berada di keramaian.
Masalah emosi dan perilaku pada anak usia dini kerap kali dipersepsikan sebagai fase perkembangan yang wajar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved