Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DISFONIA dan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) ternyata memiliki hubungan yang signifikan. Pasalnya keduanya dapat mempengaruhi kesehatan suara dan sistem pernapasan.
Disfonia terjadi ketika suara terdengar kasar, serak, atau terengah-engah, yang sering disebabkan iritasi pada pita suara. Salah satu penyebab umum iritasi ini adalah refluks asam lambung, yang merupakan gejala dari GERD. Ketika asam lambung naik ke kerongkongan, ia dapat mencapai laring dan mengiritasi pita suara, menyebabkan perubahan suara dan disfonia.
Selain itu, gejala GERD seperti heartburn dan rasa terbakar di dada sering kali diperburuk saat berbaring atau membungkuk, yang dapat memperparah iritasi tenggorokan dan pita suara.
Dengan demikian, individu yang mengalami GERD berisiko lebih tinggi mengalami disfonia. Pasalnya asam lambung yang naik dapat merusak lapisan pelindung tenggorokan dan pita suara, menghasilkan suara yang tidak normal dan ketidaknyamanan saat berbicara.
Gejala utama disfonia meliputi suara yang terdengar serak dan kasar, serta perubahan dalam volume suara yang bisa jadi lebih lembut atau lebih keras dari biasanya. Selain itu, kondisi ini sering disertai gejala lain, seperti batuk, tenggorokan gatal, dan nyeri tenggorokan.
Anda disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter jika disfonia disertai dengan gejala berikut:
Meskipun disfonia sering kali sulit dicegah karena terkait dengan kondisi medis tertentu, ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi risikonya. Salah satu cara yang efektif adalah dengan memastikan asupan air putih yang cukup.
(Siloam Hospital/Z-2)
Pakar ungkap kaitan erat GERD dan serangan panik sebagai lingkaran setan medis. Simak penjelasan mengenai gejala, peran saraf vagus, hingga terapinya.
Fenomena GERD ternyata berkaitan erat dengan gangguan kecemasan. Simak fakta medis terbaru, penyebab sebenarnya, dan cara memutus siklusnya.
Meski bukan penyebab utama, berbagai penelitian menunjukkan bahwa stres dapat memperburuk gejala GERD dan membuatnya lebih sering kambuh.
Obat ini telah resmi memperoleh izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM) untuk indikasi pengobatan esofagitis erosif (erosive esophagitis/EE).
Masyarakat diingatkan agar tidak terlalu banyak mengonsumsi kue-kue lebaran karena bisa berdampak pada kesehatan.
Konsumsi daging merah yang berlebihan dalam sesi AYCE dapat memicu masalah pencernaan serius, terutama Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved