Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Pemberlakuan kembali Ujian Nasional (UN) menjadi isu yang sedang menyeruak belakangan ini. Kabarnya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sedang mempertimbangkan untuk kembali menggunakan sistem UN. Menanggapi persoalan tersebut, Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Satriwan Salim sangat menyayangkan jika Kemendikdasmen di bawah kepemimpinan Abdul Mu’ti ingin mengembalikan UN sebagai penentu kelulusan.
“Jelas ini suatu langkah mundur karena pemberhentian UN adalah aspirasi dari hampir seluruh stakeholder pendidikan, para pakar, aktivis pendidikan, dan guru selama bertahun-tahun,” ungkapnya kepada Media Indonesia, Selasa (29/10).
Lebih lanjut, Satriwan menegaskan bahwa UN tidak layak dijadikan sebagai standar kelulusan anak-anak. Pasalnya, anak-anak hanya belajar untuk ujian bukan untuk membangun karakter dan kompetensi.
“Pola yang terbangun adalah teaching to the test. Lalu motivasi anak juga hanya ingin mendapatkan nilai berupa angka,” kata Satriwan.
Di sisi lain, mata pelajaran dalam UN hanya 5-6 mata pelajaran, padahal anak-anak belajar lebih dari 10 mata pelajaran. Sehingga mata pelajaran yang tidak ada di dalam UN akan menjadi hal yang tidak penting bagi anak-anak dan dikesampingkan atau disepelekan.
“Ini psikologi yang terbangun dulu. Jadi UN membentuk anak yang apatis. Sedangkan pelajaran seperti agama, kewarganegaraan, olahraga, seni bukan jadi mata pelajaran yang penting bagi anak-anak. Padahal pelajaran itu untuk membangun karakter anak bangsa. Ini kan sebuah bentuk tindakan yang sangat tidak menunjukkan pendidikan itu sendiri karena anak hanya belajar mata pelajaran tertentu yang masuk UN,” tegasnya.
Menurutnya, UN jelas harus ditolak karena memiliki konsep diskriminatif dan tidak berkeadilan. Hal ini didasarkan pada UN yang diberlakukan sama untuk seluruh siswa di Indonesia. Padahal kondisi siswa, sekolah, guru, dan kualitas sarana dan prasarana sangat beragam.
“UN itu justru bentuk represi negara pada siswa karena anak-anak hanya diuji dalam waktu singkat atau dalam waktu 3 hari saja. Padahal mereka belajar 3 tahun hanya untuk 3 hari saja,” ucap Satriwan.
UN juga dikatakan hanya akan meningkatkan kecemasan dan stres. Bahkan dulu terdapat kasus banyak anak melakukan tindakan bunuh diri karena pelaksanaan UN.
“Apalagi ada keamanan dan pihak kepolisian terlibat membawa senjata serta isu kebocoran ujian. Nah ini justru menimbulkan tindakan curang, kebohongan, dan upaya kecurangan yang bermuara pada nilai integritas yang hilang. Makanya UN memperburuk citra anak bangsa termasuk para guru karena mereka akan berupaya agar sekolahnya UN tinggi skornya. Alhasil guru berlomba-lomba melakukan tindakan kecurangan,” tuturnya.
“Sehingga tujuan pendidikan yang utama yaitu meningkatkan kompetensi dan membangun karakter anak bangsa tidak tercapai karena yang terjadi adalah sebaliknya, karena karakter yang tercipta adalah kebohongan, kecurangan berpikir instan pragmatis dan lainnya,” lanjut Satriwan.
Mendikdasmen menegaskan komitmennya dalam menjaga pelaksanaan TKA agar tetap kredibel, transparan, dan berintegritas di seluruh wilayah Indonesia.
WIC Jakarta sukses gelar Konferensi Biennial WCI ke-17. Fokus pada pemberdayaan perempuan, pendidikan, dan pelestarian warisan budaya di era transformasi.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk mengatasi kendala tersebut agar tidak terjadi di tahun berikutnya.
Dalam konteks ini, pendidikan vokasi seharusnya menjadi solusi strategis. Namun untuk memahami bagaimana seharusnya vokasi berfungsi, kita perlu melihat praktik terbaik global.
PRESIDEN Prabowo Subianto menyatakan komitmennya melakukan perbaikan besar-besaran sektor pendidikan, mulai dari renovasi fisik sekolah hingga penguatan kualitas pembelajaran.
President University mengukuhkan tiga Guru Besar baru: Prof. Anton Wachidin, Prof. Erwin Sitompul, dan Prof. Jhanghiz Syahrivar untuk perkuat riset nasional.
Dalam pelaksanaan program revitalisasi satuan pendidikan tahun ini, dia menekankan pentingnya perencanaan yang matang, transparansi dalam penentuan prioritas, serta sinkronisasi
BBPMP menjadi mitra dalam implementasi program di Jawa Timur, sementara Bakti Barito-STiR melanjutkan pendampingan di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Timur.
Gerakan Rukun sama Teman penting untuk mengembalikan sekolah sebagai ekosistem yang sehat secara fisik dan mental
Sebanyak 100 pelajar terpilih dari 87 sekolah di 25 provinsi berkesempatan menyampaikan aspirasi mereka kepada Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq.
DUA tenaga pendidikan di Luwu Utara, Sulawesi Selatan dipecat dengan tidak hormat karena memungut dana sebesar Rp20 ribu dari orangtua murid untuk gaji guru honorer.
Sebanyak 67,9 persen satuan pendidikan akan melaksanakan TKA secara daring, 12,2 persen secara semi-daring, dan 19,9 persen masih dalam tahap finalisasi moda pelaksanaan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved