Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
WALAUPUN saat ini Indonesia sudah memasuki musim kemarau, tetapi fenomena La Nina yang dimulai dari Juni hingga November disebut akan membawa peningkatan intensitas curah hujan tinggi di sejumlah wilayah Tanah Air. La Nina adalah fenomena ketika suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik menjadi lebih dingin dari biasanya.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun meminta pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiap-siagaan terutama terkait bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan, intensitas curah hujan yang tinggi meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi basah yang tinggi.
Baca juga : BNPB Imbau Masyarakat Siap Siaga Hadapi Bencana Hidrometeorologi
Namun, katanya, tidak semua daerah yang mengalami intensitas curah hujan tinggi akan mengalami bencana. Sebaliknya, tidak selamanya daerah-daerah yang intensitas hujannya tidak terlalu tinggi juga tidak mengalami bencana.
“Kadang-kadang tergantung dari kerentanan wilayah itu. Misalkan di satu tempat ada tebing yang curam dan tidak ada vegetasi. Untuk kondisi itu mungkin tidak perlu intensitas hujan sangat tinggi untuk membuatnya longsor,” kata Muhari dalam program Disaster Briefing yang disiarkan di Youtube BNPB Indonesia, Senin (24/6).
“Pada sisi lain, ada daerah yang sebenarnya cukup rimbun, tebingnya tidak terlalu terjal, tetapi karena hujannya misal durasi 4 jam, intensitasnya tinggi, sehingga akar-akar tumbuhan itu tidak mampu untuk menyerap keseluruhan debit air yang turun, sehingga tetap longsor,” imbuhnya.
Baca juga : 2.125 Jiwa Terdampak Banjir di Gorontalo
Karena itu, kata Muhari, BNPB tidak hanya berpatokan pada prakiraan daerah yang akan mengalami peningkatan intensitas curah hujan, tetapi juga melihat data historis bencana di wilayah tersebut.
“Karena kalau kita bicara hidrometeorologi basah, itu recurrent (berulang), sekali terjadi di masa lalu atau tahun lalu, misalnya banjir besar sepanjang Sungai Kapuas, kalau tidak ada perubahan ekosistem yang signifikan, pasti akan terjadi lagi,” jelasnya.
Untuk itu, BNPB akan mengirimkan peringatan ke daerah-daerah, tidak hanya yang diprakiraan terdampak La Nina tahun ini, tapi juga daerah-daerah yang secara historis pada bulan Juni sampai November dalam 10 tahun terakhir mengalami bencana hidrometeorologi basah.
Baca juga : La Nina Diprediksi akan Menguat di Wilayah Indonesia pada Juli Mendatang
Data BNPB mengungkapkan daerah dengan potensi banjir kategori tinggi untuk dasarian 3 bulan Juni (21-30 Juni). Daerah tersebut rata-rata berada di Papua, antara lain Kabupaten Maybrat (di Kecamatan Mare), Sorong (di Kecamatan Makbon dan Sayosa), Sorong Selatan (di Kecamatan Sawiat), dan Nabire (di Kecamatan Makimi, Siwiwio, dan Uwapa).
Sementara itu, berikut daerah yang diprediksi mengalami peningkatan intensitas curah hujan tinggi akibat fenomena La Nina dari Juni hingga November 2024.
Juni 2024: Sebagian Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.
Baca juga : BNPB Sebut Curah Hujan di Jawa dan Bali Masih Tinggi Sepekan Kedepan
Juli 2024: Sebagian Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.
Agustus 2024: Sebagian kecil Aceh, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, dan Papua Tengah.
September 2024: Sebagian Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, dan Papua Tengah.
Oktober 2024: Sebagian Aceh, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Jawa Barat, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, dan Papua Selatan.
November 2024: Sebagian Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Papua Barat Daya, Papua Barat, dan Papua Selatan. (Z-10)
Banyak orang mengira bintang benar-benar berkelip atau berubah-ubah cahaya. Namun, faktanya tidak demikian. Dilansir dari laman Online Star Register, efek berkelip tersebut bukan berasal
Kemiringan Bumi pada porosnya menjadi penyebab dari pergeseran jalur Matahari ke utara pada waktu yang sama setiap tahunnya.
Februari 2026 menghadirkan parade planet langka. Merkurius, Venus, Neptunus, Saturnus, Uranus, dan Jupiter akan terlihat bersamaan, puncaknya pada 28 Februari.
Fenomena astronomi langka akan menyapa langit Bumi pada akhir Februari 2026 lewat peristiwa yang dikenal sebagai parade enam planet.
Gerhana Matahari total adalah salah satu pertunjukan langit paling menakjubkan yang bisa disaksikan manusia. Tapi ada kabar mengejutkan: fenomena itu tidak akan selamanya ada.
Sayangnya, Gerhana Matahari Cincin sempurna kali ini tidak melewati wilayah Indonesia dan hanya melintasi wilayah terpencil di Antartika.
BMKG memprediksi hujan masih melanda Indonesia hingga 27 April 2026, dari ringan hingga lebat disertai angin kencang. Waspadai potensi banjir dan cuaca ekstrem di sejumlah wilayah.
Pakar IPB menjelaskan fenomena El Nino Godzilla, penyebab hujan di masa pancaroba, dan prediksi kemarau panjang selama enam bulan di Indonesia.
Jakarta ditetapkan masuk dalam kategori Siaga akibat potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat memicu gangguan aktivitas masyarakat serta risiko bencana hidrometeorologi.
BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat hingga sangat lebat di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Maluku
BMKG menghimbau peningkatan kesiapsiagaan potensi hujan lebat hingga sangat lebat di wilayah Kupang, Rote Ndao, Alor, dan Mamuju.
Terpantau Siklon Tropis Nuri yang sedang aktif di Samudra Pasifik bagian utara Papua. Fenomena ini menyebabkan belokan dan perlambatan angin di sekitar wilayah Maluku Utara.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved