Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MUSIK bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga memiliki kekuatan untuk mempengaruhi suasana hati dan kesehatan mental secara signifikan. Namun ketika seorang merasa sedih, menangis bisa menjadi terapi mandiri yang murah dan efektif.
"Pada saat dalam kondisi kesedihan yang cukup dalam, memang tidak dianjurkan untuk mendengarkan lagu. Kalaupun ingin mendengarkan lagu dengan beat yang tenang, sebaiknya jangan ada lirik, apalagi lirik yang sedih. Hal ini bisa membuat orang menjadi lebih depresif. Jadi, jika ingin mendengarkan lagu dengan beat yang tenang, pilihlah yang tanpa lirik," ujar Irma Gustiana Andriani, seorang psikolog dan pakar Self-Growth dalam konferensi pers Kampanye #MyKilauTime dari Sunsilk Black Shine, Rabu (12/6).
Menangis tidak selalu merupakan tanda kelemahan atau sesuatu yang negatif. Sebaliknya, menangis adalah cara tubuh untuk melepaskan emosi yang terpendam, yang pada akhirnya membawa rasa lega.
Baca juga : Ed Sheeran Berusaha tidak Kelelahan Agar tidak Alami Masalah Kesehatan Mental
Penelitian menunjukkan menerima dan mengeluarkan emosi dapat meningkatkan detak jantung sementara, yang kemudian diikuti oleh perasaan damai. Air mata juga berfungsi untuk melepaskan ketegangan fisik yang menumpuk.
Namun, Irma mencatat menangis saat menonton film sedih mungkin membuat perasaan semakin terpuruk, berbeda dengan menangis sambil mendengarkan musik. Mendengarkan musik sambil menangis bisa memberikan efek rileksasi yang lebih baik, membantu mengeluarkan emosi negatif dengan lebih efektif, dan memperbaiki suasana hati.
Perasaan bahagia sangat berhubungan dengan kondisi kesehatan seseorang. Kebahagiaan dapat memicu produksi hormon yang menguatkan sistem kekebalan tubuh, membuat seseorang lebih sehat.
Baca juga : Pilih Fokus pada Kesehatan Mental, Shawn Mendes Tunda Tur Dunia
Sebuah tinjauan dari 400 penelitian menunjukkan bahwa bermain dan mendengarkan musik bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh, mengurangi stres, dan meningkatkan ikatan sosial.
Mendengarkan musik yang menyenangkan mengaktifkan area sistem penghargaan otak, sama seperti perasaan senang yang dihasilkan dari seks, makanan, atau aktivitas menyenangkan lainnya.
Musik dapat membantu menyalurkan rasa frustrasi dan membersihkan emosi negatif seperti kemarahan dan kesedihan.
Baca juga : Lewat Adiksi, Sweet The Band Kritisi Swadiagnosa Kesehatan Mental
Ritme internal tubuh, seperti detak jantung, bisa diselaraskan dengan alunan musik. Musik dengan ritme stabil yang lambat, seperti musik meditatif, terbukti mengurangi stres dengan mengubah ritme tubuh dan menghasilkan relaksasi yang lebih besar.
Musik yang menenangkan bisa digunakan sebagai pengganti sementara interaksi sosial, mengurangi perasaan kesepian, dan menyuarakan perasaan yang mungkin sulit diungkapkan.
Selain mendengarkan musik, menjaga kesehatan fisik juga penting. Konsumsi makanan bergizi dan suplemen vitamin dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian, mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Dengan memahami cara kerja musik dan menangis dalam mengelola emosi, kita bisa lebih bijak dalam merawat kesehatan mental. Seperti yang disampaikan oleh Irma Gustiana Andriani, jangan ragu untuk menangis dan mendengarkan musik sebagai bagian dari terapi mandiri. Hal ini bisa membantu memperbaiki suasana hati dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. (Z-3)
Psikolog Ratih Ibrahim memperingatkan risiko PTSD pada korban kecelakaan kereta api. Simak gejala, faktor risiko, dan pentingnya penanganan dini di sini.
Penelitian terbaru mengungkap konsep 'affective tactile memory'. Ternyata, tubuh kita merekam sentuhan bermakna sebagai sensasi fisik yang membentuk rasa aman seumur hidup.
Psikolog Ratih Ibrahim menjelaskan pentingnya resiliensi dan dukungan keluarga bagi korban kecelakaan kereta api untuk pulih dari trauma psikologis.
Ia juga mengingatkan bahwa menghindari sepenuhnya stimulus yang berkaitan dengan trauma dalam jangka panjang dapat menghambat proses pemulihan.
Ia menjelaskan, gejala yang muncul bisa beragam, seperti perasaan cemas berlebihan, jantung berdebar saat berada di keramaian.
Masalah emosi dan perilaku pada anak usia dini kerap kali dipersepsikan sebagai fase perkembangan yang wajar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved