Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Utama Pusat Kesehatan Jiwa Nasional, Nova Riyanti Yusuf, mengatakan orang dengan kepribadian ceria dan humoris sangat memungkinkan mengalami gangguan kesehatan mental dan justru kondisinya lebih parah atau mendalam dari mereka dengan kepribadian lainnya.
"Orang seperti ini termasuk ke dalam masked depression, atau depresi terselubung, dan ini sebenarnya (rasanya) lebih menyakitkan," kata Nova, dikutip Selasa (6/2).
Psikiater yang juga anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia itu mengatakan orang dengan kepribadian tersebut namun mengalami gangguan kesehatan mental seperti depresi, bipolar, atau lainnya, namun tidak terlihat, umumnya melakukan represi terhadap perasaan mereka.
Baca juga : Ketahui Bahaya Self Diagnosis Kesehatan Mental
Nova menyebut, merepresi atau menekan perasaan sehingga tidak menunjukkan gejala atau tanda di depan orang lain sering kali justru memperburuk keadaan mereka.
"Artinya dia merepresi, menekan ke bawah emosi dan perasaan dia. Namun, represi itu bukan mekanisme pertahanan diri yang baik, itu malah lebih merusak dan berbahaya buat dia," jelas Nova.
Orang dengan depresi terselubung, lanjut Nova, sangat perlu diwaspadai oleh orang-orang terdekat, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan seperti yang terburuk, mengakhiri hidupnya.
Baca juga : Mengenal Art Theraphy, Terapi Alternatif Mengatasi Kecemasan dan Atur Emosi lewat Seni
Bahkan, orang yang masih sangat produktif dan cukup aktif dalam kesehariannya juga sangat memungkinkan untuk mengalami hal tersebut.
Adapun cara yang dapat dilakukan orang terdekat, menurut Nova adalah melakukan 3P, yakni mendeteksi Pikiran, Perasaan, dan Perilaku mereka.
Orang dengan gangguan mental, utamanya depresi, umumnya akan merasa tidak berdaya atau tidak menemukan pentingnya hidup di dunia. Mereka mungkin akan memberikan pandangan bahwa hidup di dunia adalah hal yang melelahkan dan tidak ada artinya, meski menyampaikannya diiringi candaan.
Baca juga : Gangguan Bipolar Bisa Dorong Penderitanya Lakukan Bunuh Diri
Menunjukkan perhatian adalah hal pertama yang bisa dilakukan bila memiliki orang terdekat dengan gangguan mental.
"Tidak perlu menyinggung apa yang ia alami dan berniat menyelesaikan masalahnya, cukup misal berikan segelas kopi dan mengajaknya berbicara hal lain, dengan ini dia akan merasa bahwa masih ada orang yang peduli dengannya," kata Nova.
Meski begitu, perlu dicatat bahwa bukan berarti orang dengan kepribadian tidak ceria dan humoris tidak bisa mengalami gangguan kesehatan mental yang juga parah dan membutuhkan pertolongan.
Baca juga : Makan Buah Kiwi Dapat Tingkatkan Kesehatan Mental Selama 16 Hari, Studi Terbaru
Siapapun dapat mengalami masalah kesehatan mental, berapa pun usianya, dan tiap orang tentu akan mengalami pemicu yang berbeda-beda. (Ant/Z-1)
Psikolog Ratih Ibrahim memperingatkan risiko PTSD pada korban kecelakaan kereta api. Simak gejala, faktor risiko, dan pentingnya penanganan dini di sini.
Penelitian terbaru mengungkap konsep 'affective tactile memory'. Ternyata, tubuh kita merekam sentuhan bermakna sebagai sensasi fisik yang membentuk rasa aman seumur hidup.
Psikolog Ratih Ibrahim menjelaskan pentingnya resiliensi dan dukungan keluarga bagi korban kecelakaan kereta api untuk pulih dari trauma psikologis.
Ia juga mengingatkan bahwa menghindari sepenuhnya stimulus yang berkaitan dengan trauma dalam jangka panjang dapat menghambat proses pemulihan.
Ia menjelaskan, gejala yang muncul bisa beragam, seperti perasaan cemas berlebihan, jantung berdebar saat berada di keramaian.
Masalah emosi dan perilaku pada anak usia dini kerap kali dipersepsikan sebagai fase perkembangan yang wajar.
Anak-anak mungkin membenci sebuah lelucon yang basi, namun lelucon buruk yang sama mungkin menjadi kunci untuk membuat mereka selamanya mencintai Anda
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved