Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Dokter spesialis kedokteran jiwa (psikiater) dari RSUP Persahabatan dr. Tribowo T. Ginting, SpKJ(K) mengatakan bahwa kondisi lingkungan keluarga yang baik dan harmonis penting untuk menjaga kesehatan mental ibu.
"Lingkungan keluarga penting untuk menciptakan kondisi (kesehatan mental) ibu yang baik," kata Bowo dalam acara bincang-bincang kesehatan yang digelar daring diikuti di Jakarta, Selasa (13/12).
Menurut Bowo, seorang ibu diibaratkan sebagai tiang bagi sebuah keluarga. Tiang akan kokoh jika lingkungan di sekitarnya mampu memberikan dukungan dengan baik. Sebaliknya, jika lingkungan sekitarnya tidak memberikan dukungan maka tiang tersebut akan rapuh bahkan roboh. "Ibu yang kuat secara mental pun kalau lingkungannya tidak mendukung dengan baik maka dia akan roboh juga, seperti tiang yang kokoh, tapi kalau ditumbuhi jamur, tanaman-tanaman liar, lama-lama kan keropos juga," ujarnya.
Untuk itu, Bowo mengatakan keluarga harus mampu menjadi lingkungan yang baik bagi ibu. Salah satu caranya adalah dengan banyak meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan bersama-sama. "Belajar bersama, berkreasi bersama, beribadah bersama, bercakap-cakap atau berbincang bersama, dan bercanda bersama. Artinya, keluarga harus membuat kegiatan bersama sehingga membantu ibu menjadi lebih tenang dan nyaman," katanya.
Jika kesehatan mental ibu sudah terjaga dengan baik, menurut Bowo, hal tersebut akan membawa pengaruh yang baik pula bagi keberlangsungan keluarga dan tumbuh kembang anak.
"Mungkin tidak mengalami gangguan. Tapi mengalami masalah mental misalnya stres. Bisa dibayangkan bagaimana cara dia dalam mengasuh, memperlakukan keluarga, dan memperlakukan anak tentu bisa terganggu, bagaimana sikapnya, pikirannya, perilakunya," ujar Bowo.
"Jadi kesehatan mental itu penting, sama seperti kesehatan fisik. Fisik sehat, mental tidak sehat ya percuma. Mental sehat, fisik tidak sehat ya kurang baik juga. Untuk itu, perlu menjaga keduanya," katanya. (Ant/OL-12)
Psikolog Ratih Ibrahim memperingatkan risiko PTSD pada korban kecelakaan kereta api. Simak gejala, faktor risiko, dan pentingnya penanganan dini di sini.
Penelitian terbaru mengungkap konsep 'affective tactile memory'. Ternyata, tubuh kita merekam sentuhan bermakna sebagai sensasi fisik yang membentuk rasa aman seumur hidup.
Psikolog Ratih Ibrahim menjelaskan pentingnya resiliensi dan dukungan keluarga bagi korban kecelakaan kereta api untuk pulih dari trauma psikologis.
Ia juga mengingatkan bahwa menghindari sepenuhnya stimulus yang berkaitan dengan trauma dalam jangka panjang dapat menghambat proses pemulihan.
Ia menjelaskan, gejala yang muncul bisa beragam, seperti perasaan cemas berlebihan, jantung berdebar saat berada di keramaian.
Masalah emosi dan perilaku pada anak usia dini kerap kali dipersepsikan sebagai fase perkembangan yang wajar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved