Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis anak yang juga tim ahli Satgas Covid-19 Tangsel, Tubagus Rachmat Sentika, mengatakan para calon ibu perlu gizi lengkap dan seimbang seperti karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin, dan air. Sebab hal itu akan mempengaruhi bayi mereka yang akan lahir kelak.
"Baik bayi, balita, ibu hamil, sampai lansia semuanya memerlukan gizi, cuma bentuknya berbeda-beda. Kalau bayi itu bentuknya cair makanan pendamping ASI tapi setelah 6 bulan 1 tahun harus ditambahkan dengan makanan-makanan lain," kata dr Tubagus, dalam webinar 'Siap Menjadi Ibu Pencetak Generasi Emas Bebas Stunting', Selasa (30/6).
Baca juga: Angka Stunting di Indonesia Masih Lebih Tinggi dari Toleransi WHO
Dia menjelaskan, khusus untuk ibu hamil yang perlu diperhatikan adalah pertemuan janin seribu hari pertama dalam kehidupan itu dimulai dengan 270 hari dalam kandungan. Pada fase itu ada pembentukan organ-organ setelah 8 minggu atau 4 bulan 10 hari.
"Dalam Al Quran juga dijelaskan bahwa setelah 4 bulan 10 hari ditiupkan ruh. Ini artinya pembentukan organ-organ dari saat fertilisasi sampai 4 bulan 10 hari terbentuk semua. Di sinilah perlunya asam folat, tablet zat besi (Fe), protein lengkap semuanya," sebutnya
"Kalau mereka tidak dapat vitamin D, tidak ada bentuk plasentanya," kata Tubagus Rachmat. Sebaiknya ibu hamil, kata dia mengonsumsi tablet vitamin B6 untuk membantu meningkatkan stamina tubuh.
"Jika tidak dapat vitamin B6, mereka pasti akan mual dan muntah. Itu sebabnya para dokter kebidanan memberikan makanan lengkap dan seimbang, termasuk asam folat dan tablet Fe. Jadi intinya harus diperhatikan oleh ibu yang sedang hamil dan ibu-ibu yang calon muda ini harus mempunyai kesiapan itu," jelasnya.
Dokter spesialis anak RS Premier Bintaro itu juga menyebut sisi lain, yakni pembentukan otak atau neuro development. Hal itu dari 25% sampai ke 80% dalam 2 tahun. Setelah 2 tahun sampai 3 tahun menjadi 80% dan setelah 6 tahun jadi 95%.
"Jadi nggak ada kesempatannya lagi itulah yang namanya golden period. Masa emas atau 1000 hari pertama kehidupan adalah masa-masa pembentukan otak karena itu protein asam amino harus cukup, karbohidrat cukup, semua harus cukup," paparnya.
Selanjutnya, harus dipantau sesuai dalam buku KIA. Dijelaskan badannya waktu lahir 3 kg, 1 tahun jadi 9 kg atau 3 kali berat badan lahir, 5 atau 6 bulan 2 kali berat badan lahir atau 9 kg dan 3 tahun seharusnya 11 kg lebih. Tentunya, semua ada grafiknya untuk menjadi panduan dan antisipasi pada pertumbuhan anak.
"Kalau dia di bawah garis merah jadi gizi buruk nanti setelah 3 tahun jadi stunting. Jadi jangan ngejar stunting, tatapi kejarlah yang gizi buruk, gizi kurang, alergi yang kurang masukannya sehingga akan menyebabkan stunting pada umur 5-6 tahun yang akan datang," lanjutnya.
Menurut dr. Tria Atika Endah Permatasari, Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat ’Aisyiyah ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah stunting. Di antaranya adalah pola asuh pola asuh menjadi kunci. Selain itu, parenting style juga diperlukan.
“Pengolahan pangan yang tepat diperlukan bagi generasi emas untuk balita kelompok berisiko tinggi terpapar infeksi yang berasal dari cemaran fisik, kimia, mikrobiologi dari makanan. 1000 HPK, periode pertumbuhan cepat (Growth Spurt) juga perlu pemenuhan Gizi Seimbang dalam tumbuh kembang optimal. Teknik pengolahan yang tidak tepat dapat menurunkan nilai gizi makanan, contoh Denaturasi protein, Reaksi Maillard pada Karbohidrat, dll. Yang perlu diperhatikan juga kandungan zat gizi makro & mikro dalam bahan pangan” ujarnya. (Fer/A-1)
Kemenkes RI luncurkan Konsorsium 1000 HPK bersama Rabu Biru Foundation untuk mengintegrasikan intervensi kesehatan ibu dan anak demi target Indonesia Emas 2045.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara mencatat prevalensi stunting di wilayah tersebut berada di kisaran 26,1 persen dan ditargetkan turun sebesar lima persen pada 2026.
Studi IHDC mengungkap hubungan signifikan antara stunting, anemia, dan rendahnya kemampuan working memory pada anak usia sekolah di Indonesia.
Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan targetkan angka stunting turun ke 7% pada 2026 melalui kolaborasi stakeholder dan penguatan peran SPPG.
IDAI ingatkan orangtua mengenai pentingnya kurva pertumbuhan untuk pantau tumbuh kembang anak secara akurat dan cegah salah diagnosis stunting.
Presiden INA Dr. dr. Luciana B. Sutanto menekankan pentingnya protein dan zat besi untuk kecerdasan anak serta pencegahan stunting dan anemia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved