Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEKITAR 2 juta orang diperkirakan akan tetap mudik ke kampung halaman masing-masing di saat pandemi virus korona atau covid-19.
"Masih ada (11,8%) responden yang menyatakan akan mudik. Jika diasumsikan jumlah pemudik dalam kondisi normal 20 juta orang, angka 11,8% ini sekitar 2 juta orang. Suatu angka yang sesungguhnya masih sangat besar dan membuka peluang ekspor virus covid-19 ke pedesaan (kampung halaman). Perlu persuasi yang lebih kuat dan pesan yang lebih jelas serta kompak dari pemerintah untuk mencegah peluang mudik ini," kata Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari dalam keterangan tertulis yang diterima Media Indonesia, Kamis (23/4).
Hal itu adalah hasil survei Jurnalisme Presisi hasil kerja sama Puslitbangdiklat Radio Republik Indonesia (RRI) dan Indo Barometer (IB) bertema PSBB yang diterima Media Indonesia, Kamis (23/4).
Baca juga: Edukasi Masyarakat Perlu Digencarkan
Qodari menuturkan, survei jurnalisme presisi RRI pada April 2020 mencoba memotret persepsi dan opini publik tentang PSBB dan mudik lebaran.
Survei yang dilaksanakan pada 9–15 April ini melibatkan 400 responden berdasarkan quota & purposive sampling yang tersebar secara proporsional. Margin of error survei ini ± 4.90% pada tingkat kepercayaan 95%.
Wilayah pelaksanaan survei di tujuh provinsi di Indonesia yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, Banten, Sumatra Utara, dan Sulawesi Selatan yang memiliki populasi 64,9% populasi nasional.
Baca juga: Survei: Mayoritas Publik Percaya Pemerintah Mampu Atasi Covid-19
Kegiatan lain yang perlu dikerjakan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah, lanjut Qodari, adalah membuat konsep dan simulasi isolasi/karantina diri dalam konteks lebaran di desa (kampung halaman).
Di sisi lain, sambung dia, pemerintah pusat dan pemerintah DKI Jakarta dan Jabotabek pada umumnya, perlu juga mengantisipasi dan merumuskan langkah menghadapi situasi arus mudik pasca-Lebaran 2020.
"Misalnya meminta pemudik untuk tinggal di desa (kampung halaman) minimal 14 hari. Atau menyiapkan protokol atau mekanisme isolasi diri di Jabotabek untuk para pemudik yang kembali ke Jakarta," kata dia.
Dari survei, mayoritas besar publik menyatakan tidak akan mudik (86,3%). Tapi masih ada 11,8% yang menyatakan akan mudik. Yang menjawab tidak tahu/tidak jawab sebesar 2%.
Alasan responden yang menyatakan akan mudik pada Idul Fitri Mei 2020 yaitu silaturahmi dengan keluarga (40,8%), jika kondisi lebih baik akan mudik (19,7%), rindu kampung halaman (17,1%), di kota tidak ada pekerjaan/menganggur (11,8%), jarak mudik tidak terlalu jauh/dekat (6,6%), dan tradisi berkumpul keluarga/momen tahunan (3,9%).
Sedangkan mereka yang tidak mudik beralasan takut tertular atau menularkan virus korona (38,5%), mencegah penyebaran virus korona (21,2%), ikut anjuran pemerintah (14,6%), sulit karena pembatasan wilayah (12,2%), asli daerah setempat (8,2%), tidak punya kampung halaman (4%), dan tidak mempunyai biaya untuk mudik (1.3%).
Terhadap tiga pilihan kebijakan pemerintah terkait mudik Lebaran 2020, yakni membolehkan, melarang, atau menunda masyarakat mudik, mayoritas responden (64%) setuju dengan kebijakan menunda masyarakat untuk mudik pada Lebaran 2020. Terbanyak kedua adalah responden yang setuju pemerintah melarang masyarakat untuk mudik Lebaran 2020 berjumlah 23,5%. Adapun responden yang setuju pemerintah membolehkan masyarakat untuk mudik berjumlah paling kecil, yakni 12,3%. Sisanya menjawab tidak tahu/tidak jawab sebesar 0,3%.
Alasan responden setuju sebaiknya pemerintah menunda masyarakat untuk mudik yaitu mudik bisa dilakukan setelah kondisi normal dari virus korona (28,2%), dengan menunda mudik artinya menekan laju penyebaran virus korona (21%), mencegah penularan virus korona (11,3%), sebaiknya ditunda karena saat ini tidak kondusif (10,8%), agar penyebaran virus korona dapat ditekan/distop (9,2%), mengurangi penyebaran virus korona (6,2%), ada pergantian libur lebaran di waktu lain (5,1%), jika dipaksakan mudik kondisi tetap tidak aman (3,6%), mudik lebaran masih dapat ditunda (3,1%), dan penyebaran virus korona sangat cepat (1,5%).
Sedangkan yang mendukung agar pemerintah melarang masyarakat mudik yaitu supaya virus korona tidak semakin luas (32,3%), pemerintah perlu tegas melarang mudik (22,2%), tidak menjamin bahwa pemudik bebas dari virus korona (14,1%), tidak menularkan virus terhadap keluarga di kampung atau sebaliknya (11,1%), mencegah penularan virus korona (10,1%), karena cepatnya penyebaran virus korona (6,1%), dan agar penularan virus korona segera berhenti (4%).
Sedangkan mereka yang ingin pemerintah membolehkan mudik beralasan kesempatan silaturahim dengan keluarga setahun sekali (36,1%), melihat situasi dan kondisi tentang virus korona (23,1%), setiap lebaran pasti mudik (17,6%), boleh mudik asal jaga jarak aman (10,2%), di kota tidak ada kegiatan (8,3%), mencegah kriminalitas (2,8%), dan boleh mudik lebaran diikuti dengan pengecekan bagi yang melakukan mudik (1,9%). (X-15)
Survei global GSK mengungkap risiko cacar api pada lansia dengan penyakit kronis. Di Indonesia, biaya rawat inap mencapai Rp10 juta per kasus.
Survei mencatat tingkat kepuasan yang tinggi terhadap sejumlah layanan utama, antara lain sektor kesehatan sebesar 85,9 persen, administrasi kependudukan 84,3 persen
Sebanyak 88,0 persen publik mengetahui program yang diluncurkan pada Januari 2025 tersebut merupakan program unggulan pemerintahan Prabowo-Gibran.
Survei Sun Life 2026 mengungkap 57% perempuan Indonesia abaikan kesehatan demi keluarga. Simak tantangan finansial dan beban sandwich generation di sini.
Meski pengetahuan tinggi, sikap menghindari orang yang hidup dengan HIV (ODHIV) juga sangat tinggi.
AKADEMISI Universitas Nasional (UNAS) Jakarta, Firdaus Syam, mengatakan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin berpotensi jadi matahari baru dalam Pilpres 2029.
Muncul istilah varian Cicada dalam perkembangan covid-19. Simak penjelasan mengenai status validasi dan karakteristik varian baru ini.
Tri Wibawa mengingatkan bahwa langkah pencegahan terhadap varian Cicada pada dasarnya tidak berbeda dengan upaya menghadapi Covid-19 secara umum.
Pakar UGM memastikan varian Covid-19 Cicada belum terdeteksi di Indonesia. Simak penjelasan mengenai gejala, asal-usul, dan efektivitas vaksinasi di sini.
Ia menegaskan, terdapat tiga virus pernapasan utama yang idealnya terus dipantau, yakni COVID-19, influenza, dan Respiratory Syncytial Virus (RSV).
Objektif harus diakui bahwa sekolah daring adalah proses pembelajaran yang menyebabkan lahir generasi covid-19
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved