Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MANTAN simpatisan kelompok radikal Islamic State yang berbasis di Irak dan Suriah (ISIS), Nurshadrina Khaira Dhania, mengatakan, kalangan milenial harus kritis melawan propaganda radikalisme yang banyak bertebaran di media sosial.
"Paham-paham radikalisme ini banyak bertebaran di media sosial (medsos) walaupun offline juga ada. Nah, anak muda sebagai generasi milenial ini kan gak bisa jauh dari yang namanya medsos sehingga kita anak-anak muda itu harus bisa membentengi diri ketika bermain medsos. Salah satu caranya dengan berpikir kritis, meningkatkan critical thinking kita. Jadi kalau ada narasi-narasi yang agak aneh, menyebar kebencian, itu kita kritisi dulu, bener gak sih," kata gadis yang akrab disapa Dhania ini, seperti dilansir Antara, Rabu (20/11).
Orang yang telah meninggalkan ISIS atau kerap disebut returnis ISIS ini pun menjelaskan bahwa terorisme merupakan sebuah aksi yang tidak datang secara tiba-tiba. Tahapan seseorang memilih jalan kekerasan adalah diawali dengan kontaminasi doktrin radikalisme.
Oleh karena itu, kata dia, menyelamatkan bangsa dari aksi terorisme sejalan dengan pentingnya menyelamatkan anak bangsa dari virus dan doktrin intoleransi, kebencian, dan ajakan kekerasan yang bisa menyasar siapa pun dan di mana pun.
Dhania pun mengisahkan bahwa dirinya pernah terpapar ideologi dan rayuan paham ISIS melalui medsos saat berada di bangku SMA. Ia bahkan mengajak belasan keluarganya, termasuk ayah, ibu, kakak, adik, nenek, paman, dan lain-lain, pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS pada 2016 lalu.
Namun, harapannya untuk hidup di negeri khilafah ternyata hanya mimpi belaka. Di sana, Dhania dan keluarganya hidup tersiksa dengan kebiadaban dan kesadisan ISIS. Janji-janji manis yang pernah ia bayangkan pun tak terbukti. Yang ada, tiap hari ia dipaksa melihat kekerasan dan pembunuhan yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.
Beruntung, Dhania dan keluarganya bisa melarikan diri keluar dari Suriah dan kemudian berhasil dipulangkan oleh Pemerintah Indonesia, melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2017 lalu.
Dari pengalaman pahit itu lah, Dhania meminta generasi muda Indonesia untuk benar-benar mewaspadai apa pun bentuk propaganda yang dilakukan kelompok ISIS dan radikalisme lainnya. Ia bahkan menggarisbawahi terkait narasi-narasi yang menggunakan dalil-dalil agama.
"Dalam Surat Al-Hujurat Ayat 6 sendiri kan Allah memerintahkan kepada kita untuk selalu memeriksa berita yang datang kepada kita agar tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan kita. Setelah itu kita bertanya kepada orang-orang yang lebih mengetahui, apakah itu aparat pemerintahan atau kepada alim ulama," tutur gadis berumur 20 tahun itu.
Baca juga: Soal Dana First Travel, Wapres: Harus Dikembalikan ke Jemaah
Lebih lanjut Dhania mengatakan sulit untuk mengetahui ciri-ciri orang yang menyebarkan radikalisme karena hal itu berkaitan dengan paham atau ideologi yang ada di kepala.
"Kita tidak bisa menilai seseorang terkena paham radikalisme dari fisiknya saja, apa dia berjenggot atau pakai celana cingkrang. Kita baru bisa mengetahuinya ketika kita berbincang dengan mereka atau dengan melihat tulisan-tulisannya di medsos," katanya.
"Berdasarkan yang saya ketahui itu biasanya mereka yang terpapar paham radikalisme ini merasa dirinya paling benar yang lainnya salah. Dan biasanya juga setuju kepada tindakan-tindakan kekerasan. Lalu ketika ada kelompok lain yang menyampaikan argumen tidak mau didengarkan," ungkap Dhania.
Menurut dia, radikalisme ini bisa muncul karena pemahaman agamanya yang kurang. Padahal, seharusnya jika dipelajari lebih dalam ternyata tidak seperti itu.
"Dengan kita mendalaminya jadi lebih paham, sehingga nanti ketika kita bertemu orang baik di offline maupun bertemu narasi-narasi berita di online kita bisa mengetahui kalau ada yang menggunakan dalil a, dalil b hanya untuk kepentingan mereka," katanya.
Dia menjelaskan bahwa mereka ambil dalilnya ada satu ayat dicomot kemudian dibuat doktrin. Padahal, sebenarnya Allah menjelaskan bahwa ayat-ayatnya itu saling menjelaskan satu sama lain.
"Contoh seperti ayat membunuh, kita lihat-lihat dulu ayat sebelum atau sesudahnya atau di surat lain bahwa konteksnya untuk apa, kenapa ada ayat ini. Jadi kita tahu arti sebenarnya jihad dan hijrah itu sebenarnya," ujarnya.
Dhania juga menuturkan sulit untuk menghapus narasi radikalisme di medsos karena mereka bisa saja membuat akun lagi meskipun sudah pernah dihapus sebelumnya.
Menurut dia, pemerintah berperan penting tidak hanya untuk melakukan kontra narasi tetapi juga bisa membuat sosialisasi kepada masyarakat sehingga bisa memberdayakan masyarakat untuk melakukan pencegahan di lingkungan sekitarnya.
"Harus ada kolaborasi antara pemerintah, organisasi sosial, dan juga masyarakat. Selain itu bisa juga dengan menampilkan orang-orang yang pernah terkena paham radikalisme ini untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa bahaya radikalisme ini memang nyata adanya dan ada
orang yang pernah terpapar, jadi bukan rekayasa atau buatan dari pemerintah atau pihak mana pun," tukasnya.
Saat ini, Dhania aktif menyebarkan narasi-narasi Islam yang damai serta kontra narasi melawan propaganda radikalisme baik melalui media online maupun medsos.
Dia mengatakan bahwa ini dilakukan karena harus ada narasi-narasi pembanding untuk melawan propaganda radikalisme.
"Kita mencoba terus campaign-campaign dan tidak dengan memojokkan. Biasanya orang yang ilmu agamanya rendah dan dia mencari agamanya untuk pertobatan jangan kita malah salah-salahkan justru harusnya kita rangkul," kata Dhania. (OL-1)
KPAI menyoroti risiko radikalisme anak di media sosial. Simak peran PP Tunas dan pentingnya pengawasan orang tua dalam melindungi anak di ruang digital.
Keterlibatan aktif orang tua dalam komunitas pengawasan dinilai menjadi faktor kunci dalam memutus mata rantai penyebaran paham ekstrem.
Mencegah radikalisme dan intoleransi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Ciri berikutnya adalah anak cenderung menarik diri dari pergaulan karena komunitas TCC membuat mereka nyaman sehingga anak-anak lebih suka menyendiri.
Densus 88 mengungkap remaja 14 tahun di Jepara memiliki koneksi dengan pendiri kelompok ekstremis Prancis BNTG dan aktif di komunitas True Crime.
BNPT mencatat 112 anak Indonesia terpapar radikalisasi terorisme lewat media sosial dan gimĀ online sepanjang 2025, dengan proses yang makin cepat di ruang digital.
Generasi Z dan Milenial di Jakarta mulai meninggalkan konsep kepemilikan rumah sebagai simbol sukses. Simak analisis pakar properti terkait tren ini.
Mulai dari kaset dianggap fosil hingga disket dikira ikon "Save" versi 3D, inilah kumpulan cerita kocak orangtua saat anak-anak mereka menemukan teknologi era 80-90an.
Milenial dan Gen Z Indonesia beralih ke multi-income stream dan pengelolaan uang real-time di tengah tekanan ekonomi. Simak perbandingan datanya di sini.
Riset Kaspersky mengungkap 90% Gen Z dan Milenial pilih simpan data digital. Simak tren penyimpanan data di Indonesia dan tips keamanan siber terbaru.
Milenial dan Gen Z mulai meninggalkan parameter kesuksesan tradisional seperti kepemilikan rumah atau tabungan jangka panjang, menuju pengelolaan keuangan yang personal dan berbasis nilai.
Bagi Gen Z dan milenial, kost bukan lagi sekadar tempat tinggal sementara. Hunian sudah menjadi bagian dari gaya hidup dan rutinitas harian.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved