Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMBUATAN bahan bakar nabati dari kelapa sawit seperti biodiesel membutuhkan katalis untuk mempercepat reaksi kimia pembuatan biodiesel.
ITB melalui Guru Besar Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Dr Subagjo bekerja sama dengan Pertamina mengembangkan katalis diesel dan nafta untuk reaksi kimia tersebut.
Hasilnya, tercipta Katalis PITD (Pertamina-ITB Treating Diesel) dan PITN (Pertamina-ITB Treating Naphta). Keduanya diberi nama Katalis Merah Putih.
"Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia harus mampu memanfaatkannya dengan maksimal," kata Subagjo saat ditemui di Laboratorium Industri Katalis Pendidikan, Teknik Reaksi Kimia dan Katalis, Fakultas Teknik Industri, ITB, belum lama ini.
Menggunakan katalis itu, Pertamina mampu membuat biodiesel dengan kandungan 12,5% minyak kelapa sawit. Katalis akan menghilangkan senyawa yang tidak dibutuhkan saat proses pembakaran. Katalis mempercepat reaksi kimia dengan kecepatan yang luar biasa hingga lebih dari triliunan kali lipat.
Tanpa katalis, diperlukan tempat yang sangat besar untuk melakukan reaksi kimia atau disebut reaktor. "Seperti reaksi untuk amonia, itu katalisnya mempercepat 10 pangkat 60-an. Artinya, kalau reaktornya berukuran 100m3, bisa menghasilkan reaksi secepat itu. Tanpa katalis, diperlukan reaktor sebesar 100 x 10 pangkat 60m3. Mungkin lebih besar daripada ukuran dunia," terang Subagjo.
Beda umur pakai
Pada minyak kelapa sawit, katalis akan bekerja untuk menghilangkan sulfur dan nitrogen yang tidak dibutuhkan saat proses pembakaran.
Setiap katalis, menurut Soebagjo, memiliki umur pakai yang berbeda-beda. Sebagai contoh, katalis PITN ciptaannya yang digunakan di kilang Balongan belum diganti sejak pertama kali digunakan pada 2014 lalu.
Semakin sedikit senyawa yang dihilangkan saat proses reaksi, umur pakai katalis akan semakin lama. Jumlah kebutuhan katalis dalam setiap pembuatan bahan bakar dari minyak kelapa sawit pun berbeda-beda. Sebagai contoh lagi, untuk perekahan (cracking) yang dilakukan Pertamina, dibutuhkan 0,5 kilogram katalis untuk satu barel minyak sawit (159 liter).
Kini sudah diproduksi sedikitnya 140 ton katalis yang digunakan di delapan reaktor di lima kilang Pertamina tersebut. Menurut Subagjo, campur tangan industri sangat signifikan dalam pengembangan katalis, mulai dari skala laboratorium hingga skala industri karena reaktor berskala besar hanya dimiliki industri. (BY/H-3)
Pengamat energi Elrika Hamdi menilai kinerja positif PGEO menunjukkan industri energi panas bumi di Indonesia semakin mendapat tempat dalam bauran energi nasional.
Pengembangan PLTS dapat difokuskan pada optimalisasi potensi yang telah ada, termasuk PLTS terapung di waduk-waduk strategis serta peningkatan kapasitas pembangkit yang telah beroperasi.
PLN EPI mendorong pengembangan gasifikasi biomassa sebagai solusi percepatan program dedieselisasi, khususnya di wilayah terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik interkoneksi.
Di Kalsel potensi EBT diperkirakan mencapai 3.270 mega watt yang berasal dari energi tenaga surya, bayu, air, biogas serta biomassa.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Ernest Gunawan menyampaikan alokasi program mandatori B40 pada 2026 ditetapkan sebesar 15,646 juta kiloliter.
Fokus utamanya adalah penambahan kapasitas pembangkit listrik hingga 100 gigawatt, di mana 75% di antaranya ditargetkan berasal dari Energi Baru Terbarukan (EBT).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved