Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENYANYI multitalenta Doja Cat kembali menjadi sorotan setelah memberikan pengakuan jujur mengenai kondisi kesehatan mental. Termasuk dinamika hubungannya dengan para pendukung maupun pengkritik di media sosial.
Dalam sesi wawancara terbaru untuk sampul majalah Vogue, bintang berusia 30 tahun ini mengungkapkan alasan di balik kebiasaannya membalas komentar pedas atau clapping back kepada para perundung (haters). Doja Cat memang dikenal vokal dalam menanggapi berbagai tuduhan, mulai dari isu rasisme, perubahan warna kulit dalam foto, hingga kritik mengenai operasi plastik.
"Nah, itu adalah pertanyaan yang sudah saya tunggu-tunggu," ujar pelantun "Say So" tersebut kepada Vogue. "Ketika saya merasa terancam, meskipun itu mungkin bukan ancaman sama sekali, itu terdengar seperti, Kamu gagal."
Ia mengakui dorongan untuk membela diri sering kali muncul secara impulsif. “Saya merasa harus membela pilihan kreatif saya, dan kemudian saya memberikan kekuasaan kepada orang-orang itu padahal mereka bisa saja siapa saja, mereka bisa saja memiliki remah Cheeto di jari mereka dan tidak punya pekerjaan,” lanjutnya.
Secara mengejutkan, Doja Cat mengaku terkadang sengaja mencari komentar negatif untuk mengonfirmasi rasa tidak aman (insecurity) yang ia rasakan terhadap dirinya sendiri. Menurutnya, melihat orang lain mengkritik hal yang ia benci dari dirinya sendiri justru memberikan rasa kendali yang semu.
"Anda merasa lebih memegang kendali dalam arti tertentu," jelasnya. "‘Saya sudah tahu semuanya. Saya tidak bisa menyanyi. Saya sudah tahu semuanya. Saya jelek. Saya sudah tahu semuanya. Pergelangan kaki saya besar’."
Namun, ia menyadari bahwa kebiasaan tersebut tidak sehat. "Itu adalah cara yang sia-sia untuk menghabiskan waktu Anda. Itu tidak memberikan apa pun bagi Anda selain menghibur bagian dari diri Anda yang dibangun selama masa kanak-kanak, bagian dari diri Anda yang terjebak di masa lalu," tambahnya.
Keterbukaan Doja Cat mencapai puncaknya saat ia melakukan siaran langsung di TikTok pada Jumat (13/3/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia secara terbuka mengumumkan bahwa dirinya baru saja didiagnosis mengidap Borderline Personality Disorder (BPD) atau gangguan kepribadian ambang.
Ia menjelaskan bahwa selama ini ia terbiasa memendam perasaan aslinya demi tuntutan citra publik. "Saya telah belajar sejak usia sangat muda untuk berpura-pura menyukai sesuatu, berpura-pura bahagia, berpura-pura tidak menyukai hal-hal yang sebenarnya saya sukai, agar terlihat seolah-olah semuanya baik-baik saja," ungkap Doja Cat.
Kondisi tersebut akhirnya mencapai titik jenuh. "Saya akan menyelesaikannya. Dan itu mulai membebani saya, dan saya pikir itu selalu terjadi pada orang-orang. Saya sekarang berjuang melawan BPD," pungkasnya.
Hingga kini, dukungan terus mengalir dari para penggemar di berbagai platform media sosial, berharap sang idola mendapatkan penanganan terbaik untuk kesehatan mentalnya. (People/Z-2)
Psikolog Ratih Ibrahim memperingatkan risiko PTSD pada korban kecelakaan kereta api. Simak gejala, faktor risiko, dan pentingnya penanganan dini di sini.
Penelitian terbaru mengungkap konsep 'affective tactile memory'. Ternyata, tubuh kita merekam sentuhan bermakna sebagai sensasi fisik yang membentuk rasa aman seumur hidup.
Psikolog Ratih Ibrahim menjelaskan pentingnya resiliensi dan dukungan keluarga bagi korban kecelakaan kereta api untuk pulih dari trauma psikologis.
Ia juga mengingatkan bahwa menghindari sepenuhnya stimulus yang berkaitan dengan trauma dalam jangka panjang dapat menghambat proses pemulihan.
Ia menjelaskan, gejala yang muncul bisa beragam, seperti perasaan cemas berlebihan, jantung berdebar saat berada di keramaian.
Masalah emosi dan perilaku pada anak usia dini kerap kali dipersepsikan sebagai fase perkembangan yang wajar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved