Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MUSISI Audy Item membagikan pengalaman pribadinya dalam berjuang melawan obesitas. Pelantun lagu Cinta Dibalas Dusta ini mengaku sempat mengalami kenaikan berat badan yang signifikan pascamelahirkan, hingga mencapai 30 kilogram. Kondisi tersebut memicunya untuk berjuang keras kembali ke berat badan ideal demi kesehatan jangka panjang.
“Hamil saya naik itu sekitar 30 kilo, memang besar banget dan anak saya juga besar pas lahirnya. Dan memang saya struggle banget untuk balik lagi kayak dulu badannya,” ujar Audy, dikutip Rabu (11/3).
Menariknya, istri dari aktor Iko Uwais ini mengaku awalnya tidak menyadari bahwa dirinya telah masuk kategori obesitas. Ia baru mengetahui kondisi kesehatan tersebut setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh ke dokter.
Sebelum diagnosis medis keluar, Audy kerap merasakan gejala fisik yang mengganggu produktivitasnya, seperti pusing, mata berkunang-kunang, dan tubuh yang mudah lemas.
“Perasaan badan biasa-biasa aja tapi ada timbunan lemak. Aku baru tahu kalau aku obesitas itu karena aku ke dokter dicek semua. ‘Oh kamu sudah obesity di tingkat ini’,” ungkap Audy.
Sebelum memutuskan untuk berkonsultasi dengan ahli, Audy sempat mencoba berbagai metode diet dan olahraga berdasarkan informasi dari internet maupun rekomendasi teman.
Meski sempat membuahkan hasil instan, penurunan berat badan tersebut tidak bertahan lama dan justru berdampak buruk pada psikisnya.
“Aku ikutin semuanya, cepat turun tapi bounce back-nya cepat juga, bisa tiga kali lipat. Jadi bener-bener aku sampai frustrasi," katanya mengenang masa-masa tersebut.
Audy juga menyadari bahwa tidak semua jenis olahraga cocok untuk setiap individu. Ia sempat memaksakan diri berolahraga namun justru merasa tubuhnya tidak nyaman.
"Kadang suka ngeyel ya ‘ah, aku mau diet kayak si itu’. Ternyata itu belum tentu bagus buat badan kita,” tambahnya.
Kini, Audy lebih berani menyuarakan isu obesitas karena menyadari risiko gangguan kesehatan lain yang jauh lebih berbahaya.
Baginya, obesitas bukan sekadar masalah penampilan, melainkan penyakit serius yang memerlukan penanganan tepat.
“Aku berani untuk menyuarakan tentang obesitas ini karena memang obesitas ini adalah penyakit yang memang bisa dikatakan gawat karena bisa menimbulkan banyak penyakit yang lain,” tutur dia.
Di akhir pernyataannya, Audy mengingatkan masyarakat agar tidak menghadapi masalah kesehatan sendirian dan tidak mudah tergiur informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Ia menekankan bahwa gaya hidup modern dengan banyaknya makanan olahan memerlukan kewaspadaan lebih.
“Kita tidak bisa hanya mendapatkan informasi cuma dari omongan orang atau cuma dari internet saja yang kita belum tentu tahu itu benar apa enggak, memang harus didampingi oleh yang ahli yaitu dokter,” tutupnya. (Ant/Z-1)
Jeni memang tercatat sebagai pemegang gelar Puteri Indonesia Riau 2024. Namun, posisi tersebut dinilai membawa tanggung jawab besar.
Dalam keseharian yang sepenuhnya ia atur sendiri, Aruma mulai disiplin menjaga waktu tidur dan menyisakan ruang jeda di tengah kesibukan.
Mengingat usia buah hatinya yang masih sangat kecil, Nikita Willy lebih fokus pada pengenalan suasana dan nilai-nilai spiritual ketimbang praktik fisik berpuasa.
Bagi Atta Halilintar, keterlibatannya dalam Lamak Rasa adalah bentuk komitmen untuk mengangkat cita rasa lokal ke level yang lebih kompetitif.
Meski memiliki latar belakang profesi yang berbeda, Syifa Hadju dan El Rumi ternyata memiliki satu kesamaan prinsip: pantang menyantap makanan berat sesaat setelah azan Maghrib berkumandang.
Pasar kebugaran digital Tanah Air diproyeksikan melonjak dari US$ 3,8 miliar (2025) menjadi US$ 12,7 miliar (2031).
Studi ATTICA selama 20 tahun mengungkap bahwa individu dengan obesitas sehat secara metabolik (MHO) tetap memiliki risiko penyakit jantung 39% lebih tinggi.
Obesitas saat ini merupakan salah satu tantangan kesehatan global yang terus meningkat, dengan dampak signifikan terhadap kualitas hidup
Konsumsi minuman berpemanis (SSB) di Indonesia meningkat tajam. Pakar Gizi IPB ingatkan risiko diabetes dan pentingnya membatasi asupan gula harian.
Peningkatan prevalensi obesitas dan penyakit metabolik di Indonesia mendorong perlunya pendekatan penanganan yang lebih komprehensif.
Riset terhadap 16 ribu anak menunjukkan pubertas datang lebih dini. Faktor berat badan, stres, dan lingkungan ikut berperan besar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved