Rupiah Tersungkur ke Rp17.287, Konflik AS-Iran & Lonjakan Minyak Jadi Pemicu

 Gana Buana
23/4/2026 18:41
Rupiah Tersungkur ke Rp17.287, Konflik AS-Iran & Lonjakan Minyak Jadi Pemicu
Rupiah ditutup melemah ke Rp17.287 per dolar AS dipicu lonjakan harga minyak dan konflik AS-Iran.(Antara)

Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan serius. Pada penutupan perdagangan Kamis (23/4), rupiah melemah tajam sebesar 106 poin atau 0,62 ke level Rp17.287 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.181.

Tekanan terhadap rupiah kali ini datang dari kombinasi faktor global dan domestik, dengan sentimen utama berasal dari lonjakan harga minyak dunia yang dipicu eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai situasi geopolitik menjadi pemicu dominan. Kenaikan harga minyak dipicu oleh ketegangan yang belum mereda, termasuk langkah Amerika Serikat yang melakukan blokade di Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global.

Kondisi ini semakin diperparah setelah perundingan damai antara AS dan Iran gagal terlaksana, menyusul absennya Iran dalam pertemuan putaran kedua. Ketegangan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menilai langkah AS sebagai penghambat serius dalam proses negosiasi. Ia menegaskan bahwa tekanan dan ancaman yang terus dilakukan menjadi penghalang utama tercapainya kesepakatan damai.

Di pasar energi, dampaknya langsung terasa. Harga minyak mentah melonjak signifikan. Brent tercatat di kisaran 102,25 dolar AS per barel, sementara WTI naik ke 93,47 dolar AS per barel, mencerminkan meningkatnya ketidakpastian global.

Dari dalam negeri, tekanan tambahan datang dari pasar obligasi. Aksi jual besar-besaran pada Surat Berharga Negara (SBN) mendorong kenaikan imbal hasil di hampir seluruh tenor, menandakan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan ekonomi.

Imbal hasil tenor 10 tahun bahkan naik ke level 6,73%, mempertegas sentimen negatif di pasar keuangan domestik.

Sejalan dengan pelemahan rupiah di pasar spot, kurs referensi Bank Indonesia (JISDOR) juga ikut terkoreksi ke level Rp17.308 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.179.

Situasi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah belum mereda, dengan faktor eksternal masih menjadi penentu utama arah pergerakan dalam waktu dekat. (Ant/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya