Pupuk Indonesia Kaji Ekspor Urea, Prioritaskan Kebutuhan Dalam Negeri

Naufal Zuhdi
17/4/2026 20:29
Pupuk Indonesia Kaji Ekspor Urea, Prioritaskan Kebutuhan Dalam Negeri
Ilustrasi(Dok Pupuk Indonesia)

PT Pupuk Indonesia memastikan kesiapan pasokan dan produksi dalam merespons peluang ekspor pupuk urea ke pasar global, di tengah dinamika geopolitik yang memicu gangguan rantai pasok dunia.

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menegaskan bahwa kebijakan ekspor tetap mengedepankan kebutuhan domestik, khususnya untuk sektor pertanian.

“Arahan dari Kementerian Pertanian sangat jelas, kita ekspor ketika kebutuhan dalam negeri sudah tercukupi,” ujar Rahmad dikutip dari siaran pers yang diterima, Jumat (17/4).

Menurutnya, di tengah disrupsi global, Indonesia justru berada dalam posisi strategis sebagai salah satu produsen urea terbesar dunia. Kondisi ini membuka peluang bagi Indonesia untuk berperan sebagai penyeimbang pasokan pupuk global.

“Di tengah gejolak global, sektor pupuk kita tidak rentan. Bahkan kita bisa mengambil peran sebagai penyelamat ekosistem pangan regional,” katanya.

Sebelumnya, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyebut sejumlah negara telah menjalin komunikasi untuk mengimpor urea dari Indonesia. Negara-negara tersebut antara lain Australia, India, Filipina, dan Brasil, seiring terganggunya distribusi global akibat situasi di Selat Hormuz.

Meski demikian, Rahmad menegaskan bahwa ekspor akan dilakukan secara selektif dan mempertimbangkan siklus musim tanam dalam negeri. Pupuk Indonesia tidak akan mengekspor pada periode kritis kebutuhan petani.

“Kita tidak mungkin mengekspor saat musim tanam. Ekspor dilakukan di luar periode tersebut dan berdasarkan penugasan resmi pemerintah,” tegasnya.

Dari sisi kapasitas, Pupuk Indonesia memiliki kemampuan produksi urea mencapai 9,4 juta ton per tahun, lebih tinggi dibandingkan kebutuhan domestik yang berada di kisaran 6–7 juta ton. Keunggulan ini didukung oleh ketersediaan gas alam sebagai bahan baku utama.

Selain itu, stok pupuk nasional hingga 14 April 2026 tercatat sekitar 1,2 juta ton, baik subsidi maupun nonsubsidi. Produksi harian juga berjalan optimal dengan output sekitar 25 ribu ton urea per hari dan 15 ribu ton pupuk NPK.

Rahmad memastikan, ketersediaan tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sekaligus membuka ruang ekspor terbatas.

Di sisi harga, pemerintah tetap menjaga stabilitas pupuk subsidi di tengah kenaikan harga global. Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi bahkan telah diturunkan sebesar 20 persen sejak Oktober 2025.

“Ketika harga dunia naik, harga pupuk subsidi di Indonesia tetap terjaga. Ini bentuk perlindungan pemerintah kepada petani,” tandasnya. (E-4).



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya