Indef: Indonesia Berpotensi Ekspor Pupuk 2 Juta Ton ke Pasar Global

Putri Rosmalia Octaviyani
14/4/2026 19:55
Indef: Indonesia Berpotensi Ekspor Pupuk 2 Juta Ton ke Pasar Global
Ilustrasi pendistribusian pupuk.(Dok. MI/Dwi Apriani)

INSTITUTE for Development of Economics and Finance (Indef) menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan penetrasi di pasar global dengan mengekspor sekitar 1,5 juta hingga 2 juta ton pupuk. Momentum ini muncul di tengah terganggunya jalur distribusi pupuk dunia akibat eskalasi konflik Timur Tengah.

Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, menjelaskan bahwa potensi ekspor tersebut didukung oleh kapasitas produksi pupuk nasional yang sangat mumpuni. Saat ini, kapasitas produksi nasional mencapai 14,8 juta ton per tahun, di mana 9,4 juta ton di antaranya adalah pupuk jenis urea.

“Indonesia memiliki potensi besar sebagai eksportir pupuk, khususnya urea. Dengan kapasitas produksi mencapai 14,8 juta ton per tahun, kita punya potensi ekspor sekitar 1,5-2 juta ton setelah kebutuhan domestik dipastikan aman,” ujar Esther di Jakarta, Selasa (14/4).

Faktor Pendukung dan Negara Tujuan

Menurut Esther, peluang ekspor ini terbuka lebar karena Indonesia memiliki sisa produksi komersial yang cukup signifikan setelah memenuhi kebutuhan dalam negeri. Selain kapasitas produksi yang besar, ketersediaan bahan baku dan efisiensi industri menjadi keunggulan kompetitif Indonesia.

Beberapa negara yang dibidik sebagai tujuan utama ekspor pupuk Indonesia meliputi India, Australia, Filipina, dan pasar pupuk organik di berbagai negara lainnya.

“Tingginya permintaan global saat ini dipicu oleh gangguan pasokan di jalur-jalur utama. Ini adalah kesempatan bagi Indonesia untuk menambah devisa sekaligus memperkuat posisi di pasar pupuk global,” tambahnya.

Gangguan distribusi global di Selat Hormuz akibat dinamika geopolitik konflik Timur Tengah telah menghambat sekitar sepertiga distribusi pupuk dunia. Hal ini membuat banyak negara mulai mencari alternatif pasokan dari Indonesia.

Prioritas Kebutuhan Domestik

Meski peluang ekspor sangat menggiurkan, Indef mengingatkan pemerintah untuk tetap waspada dan menempatkan kebutuhan petani dalam negeri sebagai prioritas utama. Pengelolaan ekspor yang tepat menjadi kunci agar stabilitas harga dan pasokan di tingkat nasional tidak terganggu.

“Pemerintah harus tetap memprioritaskan kebutuhan domestik. Ekspor hanya boleh dilakukan saat stok dalam negeri sudah benar-benar aman. Petani domestik harus tetap diprioritaskan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi guna menjaga produktivitas pertanian nasional,” tegas Esther.

Sebelumnya, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono juga menyatakan kesiapan Indonesia untuk mengekspor sekitar 1,5 juta ton pupuk. Langkah ini dipandang strategis tidak hanya untuk kepentingan ekonomi, tetapi juga sebagai kontribusi Indonesia dalam menjaga ketahanan pangan regional di tengah ketidakpastian global. (Ant/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya