Ancaman Siber di Indonesia kian Masif, 5,2 Miliar Anomali Terdeteksi hingga Akhir 2025

Naufal Zuhdi
16/4/2026 18:21
Ancaman Siber di Indonesia kian Masif, 5,2 Miliar Anomali Terdeteksi hingga Akhir 2025
Ilustrasi(MI/Naufal Zuhdi)

ANCAMAN siber di Indonesia menunjukkan tren yang semakin kompleks dan masif. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat, sepanjang periode Januari hingga 15 November 2025, terdeteksi sekitar 5,2 miliar anomali trafik internet yang berpotensi menjadi indikasi serangan siber.

“Dalam satu detik, rata-rata terdapat 182 anomali trafik. Ini menjadi perhatian serius karena meskipun tidak semuanya merupakan serangan, anomali tersebut berpotensi berkembang menjadi ancaman siber,” kata Deputi Keamanan Siber dan Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas dalam acara “Selalu Waspada : Forum Kolaboratif Penanganan Fraud dan Scam Digital” yang digelar di Jakarta, Kamis (16/4).

Dari total anomali yang terdeteksi, sekitar 93,78% di antaranya berkaitan dengan malware yang berpotensi berkembang menjadi ransomware. Kondisi ini menunjukkan tingginya risiko serangan yang dapat mengganggu sistem digital, termasuk sektor strategis seperti perbankan.

Slamet mengungkapkan, dalam sektor perbankan terdapat tiga titik utama yang menjadi sumber kerentanan serangan siber. Pertama adalah sisi nasabah, yang kerap menjadi target melalui metode seperti phishing, social engineering, hingga penyebaran malware pada layanan mobile banking maupun internet banking.

Kedua, kerentanan juga muncul pada sistem pendukung perbankan yang melibatkan pihak ketiga atau supply chain, seperti payment gateway dan switching system. Pada titik ini, serangan dapat menyasar sistem middleware atau open banking dengan metode seperti account takeover maupun malware.

Adapun titik ketiga berada pada core system perbankan itu sendiri. Menurut Slamet, serangan pada lapisan ini bisa berasal dari pihak eksternal maupun internal, termasuk potensi penyalahgunaan akses oleh oknum pegawai atau mitra yang memiliki akses ke sistem.

“Objek yang disasar bisa sistem inti maupun middleware, dengan berbagai metode seperti phishing, malware, ransomware, hingga internal fraud dan system takeover,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa lanskap ancaman siber saat ini tidak lagi hanya berfokus pada sistem utama, melainkan juga menyasar pengguna dan ekosistem pendukung secara menyeluruh.

Untuk itu, BSSN mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi ancaman tersebut. Sinergi antara pemerintah, industri perbankan, perusahaan teknologi informasi, industri keamanan siber, asosiasi, serta kalangan akademisi dinilai menjadi kunci dalam mencegah dan menangani potensi serangan, khususnya yang berkaitan dengan penipuan digital (scam) dan fraud. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya