Ginandjar Kartasasmita Beberkan Cara Jitu Kembalikan Nilai Tukar pada Masa Reformasi

Naufal Zuhdi
09/4/2026 16:26
Ginandjar Kartasasmita Beberkan Cara Jitu Kembalikan Nilai Tukar pada Masa Reformasi
Menperin Agus Gumiwang (kedua kanan)(MI/Naufal Zuhdi)

MANTAN Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri Indonesia ke-6 (1998-1999), Ginandjar Kartasasmita mengungkapkan cara pemerintahan pada masa reformasi 1998 mengembalikan nilai tukar rupiah yang pada saat itu melonjak ke level terlemah di kisaran Rp16.000-Rp16.900.

“Jawaban yang paling utama adalah mengembalikan kepercayaan. Kepercayaan pasar kepada ekonomi kita, kepercayaan masyarakat Indonesia kepada pemerintah,” ucap Ginandjar saat acara Peluncuran Buku “Ginandjar Kartasasmita Pengabdian dari Masa ke Masa : Perjalanan, Pergulatan Hidup, dan Pemikiran” yang digelar di Jakarta, Kamis (9/4).

Dalam buku tersebut, Ginandjar melihat bahwa krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada periode 1997-1998 bukan sekadar gejolak moneter atau fluktuasi nilai tukar semata, melainkan sebuah persoalan fundamental yang berakar pada hilangnya kepercayaan pasar (market).

"Krisis itu bukan krisis ekonomi semata, melainkan masalah ketidakpercayaan pasar pada pemerintah. Lalu, terjadilah inflasi," kata Ginandjar dikutip dari buku tersebut.

Ia menggambarkan situasi tersebut sebagai kondisi ketika pasar dilanda keraguan dan ketidakpastian. Saat pelaku pasar kehilangan keyakinan pada fundamental ekonomi Indonesia, imbasnya langsung terasa, terutama pada nilai tukar.

Ginandjar menjelaskan, pada masa reformasi 1998, pemerintah Indonesia mendapatkan bantuan dari berbagai lembaga internasional seperti International Money Foundation (IMF) hingga World Bank untuk membantu memulihkan kondisi perekonomian.

“Kita tentu dibantu oleh lembaga internasional, oleh IMF. Karena apa? Karena pada waktu itu devisa kita sudah habis, terus keluar. Karena devisanya dibeli, diborong, jadi di bank-bank itu kosong. Jadi, untuk sementara, kita dapat dukungan devisa dari IMF, dari World Bank, dan memang dipersyaratkan dengan berbagai syaratnya. Karena itu kita butuhkan untuk menjaga agar (nilai tukar) rupiahnya tidak lebih banyak menurun dan secara perlahan meningkat,” terangnya.

Selain itu, Ginandjar juga menyatakan bahwa kerja sama antara menteri-menteri khususnya di bidang ekonomi yang bisa dijaga dengan baik pada saat itu menjadi kunci pemerintah bisa mengembalikan nilai tukar rupiah.

“Yang utama kan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, itu dua yang paling utama. Jadi kepercayaan kepada rupiah harus kembali, jadi rakyat tidak lagi membuang rupiah, membeli dolar, tapi kembali dia membeli rupiah untuk investasi, untuk impor dan sebagainya,” tegas Ginandjar.

Dalam peluncuran buku tersebut, juga hadir Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia, Rachmat Pambudy yang menegaskan bahwa sosok Ginandjar Kartasasmita sosok seorang ‘legenda’ karena telah meletakkan dasar-dasar bagi pembangunan Indonesia modern.

“Kalau ide-ide Pak Ginandjar ini dilanjutkan, Insya Allah kita selamat, selamat mencapai Indonesia Emas tahun 2045,” tutur Rachmat. (Fal/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya