Kredit Perbankan Februari 2026 Capai Rp8.559 Triliun, Tumbuh 9,37 Persen

Ihfa Firdausya
06/4/2026 12:50
Kredit Perbankan Februari 2026 Capai Rp8.559 Triliun, Tumbuh 9,37 Persen
ilustrasi(Antara)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan kredit perbankan pada Februari 2026 tumbuh sebesar 9,37% menjadi sebesar Rp8.559 triliun secara year-on-year. Angka itu lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Januari 2026 yang sebesar 9,96%.

“Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi tumbuh tertinggi yaitu sebesar 20,72%. Adapun berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi tumbuh tertinggi sebesar 14,74% year-on-year. Sementara ditinjau dari kepemilikan, kredit bank BUMN tumbuh paling tinggi yaitu sebesar 12,78% year-on-year,” papar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Maret 2026, Senin (6/4).

Di sisi lain, dana pihak ketiga atau DPK tumbuh sebesar 13,18% year-on-year dibandingkan bulan Januari sebesar 13,48% year-on-year menjadi sebesar Rp10.102 triliun. Giro, deposito dan tabungan masing-masing tumbuh sebesar 18,56%, 13% dan 8,12% year-on-year.

Sementara itu, Dian menyebut likuiditas industri perbankan pada Januari 2026 tetap memadai dengan rasio alat likuid non-core deposit atau ILNCD sebesar 121,29%, dibandingkan Januari sebesar 121,23%.

Kemudian alat likuid dana pihak ketiga atau LDPK sebesar 27,4%, dibandingkan Januari sebesar 27,54%. Keduanya masih di atas threshold masing-masing sebesar 50% dan 10%. Sementara itu, liquidity coverage ratio atau LCR berada di level 195,64%.

“Sementara itu, kualitas kredit juga tetap terjaga dengan rasio NPL growth sebesar 2,17%. Januari yang lalu tercatat sebesar 2,14%. Lalu NPL net sebesar 0,83%, Januari yang lalu tercatat sebesar 0,82%,” papar Dian.

“Sementara loan at risk atau LAR tercatat sebesar 9,24%. Januari yang lalu tercatat sebesar 9,01%. Secara umum, tingkat profitabilitas bank atau ROA sebesar 2,37%. Januari yang lalu tercatat sebesar 2,49%,” imbuhnya.

Ketahanan perbankan juga disebut tetap kuat. Hal itu tercermin dari permodalan atau capital adequacy ratio sebesar 25,83% dibandingkan Januari yang lalu adalah sebesar 25,87%. Dian mengatakan capaian itu menjadi buffer mitigasi risiko yang kuat di tengah ketidakpastian global dewasa ini.

“Berdasarkan survei orientasi bisnis perbankan OJK atau SBPO, triwulan I-2026 menunjukkan bahwa kinerja perbankan tetap solid dengan risiko yang terjaga. Sementara keyakinan kinerja perbankan tercermin dari indeks orientasi bisnis perbankan atau IBP pada triwulan I-2026 masih di zona optimis,” katanya.

Di sisi pengembangan dan penguatan di bidang perbankan, OJK telah melakukan beberapa inisiatif. Yang pertama adalah meluncurkan dua publikasi terkait perkembangan risiko iklim di sektor perbankan dalam Indonesia Climate Banking Forum yaitu Climate Risk and Banking Resilience Assessment atau CBRA dan Banking Sustainability Maturity Assessment Report atau SMART.

Yang kedua adalah menerbitkan 12 izin penggabungan terhadap BPR dan BPRS dalam rangka konsolidasi perbankan selama triwulan I-2026. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya