UMKM Bisa Jadi Penopang Perbankan di Tengah Tekanan Global

Naufal Zuhdi
06/4/2026 13:12
UMKM Bisa Jadi Penopang Perbankan di Tengah Tekanan Global
ilustrasi(Antara)

Penguatan segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dinilai menjadi strategi penting bagi perbankan dalam menghadapi tekanan ekonomi global yang meningkat. Ekonom Senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, Ryan Kiryanto, menyatakan bahwa secara historis UMKM memiliki daya tahan yang lebih baik dalam menghadapi krisis, baik yang bersumber dari faktor domestik maupun eksternal.

“UMKM memiliki kelincahan dan fleksibilitas yang tinggi dalam menghadapi tekanan ekonomi, termasuk dampak geopolitik seperti konflik global,” ujarnya.

Ia pun mengapresiasi langkah sejumlah bank pelat merah yang mulai memperkuat penyaluran kredit ke sektor UMKM, khususnya yang sejalan dengan program pemerintah. Meski demikian, Ryan menekankan pentingnya penerapan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit, termasuk melalui analisis 5C, yaitu Character, Capacity, Capital, Condition, dan Collateral, guna menjaga kualitas portofolio tetap sehat. Selain itu, bank juga diingatkan untuk tetap fokus pada sektor unggulan masing-masing agar ekspansi kredit tidak mengorbankan stabilitas bisnis.

“Sebagai bank milik negara, wajar jika mendukung program pemerintah, termasuk yang bersifat populis. Namun, tetap harus sesuai dengan keahlian dan fokus bisnis masing-masing bank,” jelasnya.

Dalam konteks tersebut, penguatan sektor UMKM dinilai tidak hanya sebagai bentuk dukungan terhadap ekonomi kerakyatan, tetapi juga sebagai peluang bagi perbankan untuk menjaga pertumbuhan aset dan pendapatan di tengah tekanan global. Jangkauan bank pelat merah yang luas hingga ke daerah dinilai menjadi keunggulan dalam menggali potensi usaha lokal yang prospektif, sesuai dengan karakteristik wilayah masing-masing.

Sebagai contoh, Bank Mandiri menjadi salah satu bank yang mencatatkan kinerja positif melalui penyaluran kredit ke sektor produktif. Hingga Februari 2026, kredit Bank Mandiri mencapai Rp1.513,1 triliun atau tumbuh 15,7% secara tahunan (YoY), diikuti oleh penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1.644,8 triliun yang meningkat 16,3% YoY.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menyebut pertumbuhan tersebut juga didorong oleh meningkatnya aktivitas transaksi digital, khususnya melalui Livin’ by Mandiri. Laba bersih Bank Mandiri tercatat tumbuh 16,7% YoY menjadi Rp8,9 triliun hingga Februari 2026, seiring dengan peningkatan pendapatan berbasis komisi dari layanan digital.

Selain itu, volume transaksi Livin’ by Mandiri mencapai lebih dari 738,7 juta transaksi sejak awal tahun atau tumbuh sekitar 28% YoY, didorong oleh meningkatnya penggunaan layanan digital oleh masyarakat.

Dari sisi intermediasi, pendapatan bunga bersih (NII) mencapai Rp13,7 triliun atau tumbuh 9,16% YoY, sementara efisiensi operasional tercermin dari penurunan rasio cost-to-income ratio (CIR) ke level 37,21%. Kualitas aset juga tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 0,98% serta coverage ratio yang kuat di level 246,5%.

Dengan fundamental tersebut, Bank Mandiri optimistis dapat menjaga momentum pertumbuhan ke depan, sekaligus memperkuat perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendukung pengembangan ekonomi nasional. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya