Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
RENCAMA Danantara menjadi pemegang saham Bursa Efek Indonesia (BEI) pasca-demutualisasi menuai perhatian pengamat. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menilai langkah tersebut berpotensi memperkuat pasar modal, namun menyimpan risiko serius jika tidak dibarengi tata kelola yang ketat.
Rizal menyebut, secara prinsip kehadiran Danantara dapat diterima sepanjang perannya dibatasi sebagai anchor investor yang pasif dan berorientasi jangka panjang. Dalam skema ideal, Danantara tidak terlibat dalam pengambilan kebijakan strategis bursa.
“Jika ditempatkan sebagai investor pasif, Danantara bisa memperkuat kapasitas pembiayaan, mendukung modernisasi infrastruktur bursa, serta mendorong pendalaman pasar, khususnya bagi investor institusional domestik yang selama ini masih terbatas,” ujar Rizal saat dihubungi, Sabtu (31/1).
Namun demikian, ia menegaskan bahwa risiko tata kelola tidak boleh diabaikan. Menurut Rizal, masalah utama bukan pada kepemilikan saham semata, melainkan pada potensi pemusatan kekuatan dan ruang intervensi negara terhadap arah kebijakan bursa.
“Pasar modal menuntut independensi yang kuat. BEI harus tetap berfungsi sebagai market organizer yang netral, bukan menjadi instrumen kebijakan fiskal atau kepentingan investasi negara,” tegasnya.
Rizal mengingatkan, tanpa desain governance yang jelas, khususnya pemisahan tegas antara peran pemilik, regulator, dan operator, masuknya entitas negara seperti Danantara justru dapat memunculkan persepsi konflik kepentingan. Persepsi tersebut, kata dia, berpotensi merusak kredibilitas pasar dan menekan kepercayaan investor.
Dari sisi respons pasar, Rizal memproyeksikan sikap investor akan cenderung selektif dan berhati-hati. Investor jangka panjang kemungkinan melihat peluang nilai tambah jika Danantara mampu memperkuat stabilitas, likuiditas, dan disiplin tata kelola. Sebaliknya, investor portofolio akan sangat bergantung pada kejelasan struktur kepemilikan, pembatasan hak suara, serta komitmen menjaga independensi bursa.
“Pada akhirnya, pasar tidak menilai dari siapa pemegang sahamnya, melainkan dari seberapa kuat arsitektur tata kelola yang dibangun,” pungkasnya. (Z-10)
MSCI soroti reformasi pasar modal Indonesia. OJK klaim transparansi dan integritas meningkat, jadi sinyal kuat bagi investor global jelang review indeks 2026.
BEI terus menjalin komunikasi dengan MSCI dan investor global. Meski reformasi diakui, MSCI masih menahan kebijakan terhadap Indonesia hingga review Juni 2026.
OJK, BEI, dan KSEI tuntaskan 4 agenda reformasi pasar modal, termasuk kenaikan free float 15% dan transparansi kepemilikan saham di atas 1%.
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan sebanyak 15 perusahaan saat ini berada dalam antrean (pipeline) untuk melaksanakan penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering.
Prajogo Pangestu jadi sorotan setelah saham BREN masuk daftar emiten dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi versi BEI, ini dampaknya bagi investor.
IHSG turun 0,99% ke 7.026 pada pekan 30 Maret-2 April 2026. Kapitalisasi pasar BEI menyusut, asing catat net sell Rp33,83 triliun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved