Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PT Adaro Energy (ADRO) Tbk membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$109,39 juta atau Rp 1,6 triliun (kurs Rp 14.700) pada triwulan III tahun ini. Jumlah itu merosot jauh (-73%) dari laba US$405,99 juta atau setara Rp 5,9 triliun pada September 2019.
Penurunan laba terjadi karena menurunnya pendapatan usaha menjadi US$1,95 miliar (Rp 28,66 triliun), terkoreksi -25% dari periode sama sebelumnya yang sebesar US$2,6 miliar (Rp 38,22 triliun.
Hal ini didorong oleh penurunan Average Selling Price (ASP) dan volume penjualan, yang masing-masing turun 18% dan 9%. Pasar batu bara belum kondusif karena permintaan batu bara global masih lemah.
Walaupun pasar batu bara termal seaborne turun secara y-o-y, berkat disiplin terhadap suplai, mulai terlihat tanda-tanda rebalancing pada kuartal III-2020. Pada periode ini, produksi dan penjualan batu bara masing-masing mencapai 41,10 juta ton dan 40,76 juta ton, setara dengan penurunan 7% dan 9% y-o-y.
Beban pokok pendapatan perusahaan juga turun 24% menjadi US$1,4 miliar (Rp 20,5 triliun), dari September 2019 yang sebesar US$1,85 miliar (Rp 27,19 triliun).
Hal ini terutama karena penurunan pada nisbah kupas serta pembayaran royalti kepada pemerintah pada kuartal III-2020. Biaya kas batu bara per ton (tidak termasuk royalti) turun 17% y-o-y akibat penurunan nisbah kupas maupun harga bahan bakar.
Pada kuartal, biaya bahan bakar turun 28%, karena harga bahan bakar turun secara y-o-y dan konsumsi bahan bakar turun 18% seiring menurunnya produksi dan nisbah kupas.
Presiden Direktur dan Chief Executive Officer ADRO , Garibaldi Thohir mengatakan jatuhnya laba, sebagai akibat penurunan permintaan karena melambatnya pertumbuhan ekonomi dan minat beli yang lemah di negara-negara pengimpor utama.
Di masa yang sulit ini, perusahaan terus berfokus terhadap operasi dan efisiensi biaya, serta mengimplementasikan strategi untuk memperkuat bisnis inti.
"Kami juga mengambil sikap waspada terhadap pengeluaran dan mengeksekusi rencana belanja modal dengan hati-hati. Meskipun disiplin terhadap suplai telah mulai dilakukan, kami perkirakan bahwa pemulihan pasar akan membutuhkan waktu yang lebih lama," kata Garibaldi melalui rilis yang diterima, Selasa (3/11).
Meskipun dibayangi oleh tantangan ekonomi makro, perusahan masih dapat mempertahankan operasi. Kondisi pasar batu bara yang sulit akibat ekonomi global yang masih belum kondusif karena pandemi yang berkepanjangan terus menekan profitabilitas perusahaan.
Meskipun ketidakpastian masih ada, model bisnis perusahaan yang terintegrasi memungkinkan untuk beroperasi dengan efisien dalam menghadapi tantangan ini. Di sisi yang positif, perusahaan mulai melihat beberapa tanda rebalancing di pasar batu bara berkat disiplin terhadap suplai.
"Kami tetap optimistis terhadap fundamental industri di jangka panjang, dan dalam menghadapi tantangan jangka pendek, kami berfokus untuk menjaga kas, memperkuat struktur permodalan dan posisi keuangan, bertahan di jalur yang sudah ada, terus mengeksekusi strategi untuk memastikan kelangsungan bisnis, dan tetap bersumbangsih terhadap pembangunan nasional," tutup Garibaldi. (E-1)
Anggota Komisi XI DPR Amin Ak peringatkan potensi kebocoran ekspor batu bara US$20 miliar akibat mis-invoicing yang rugikan APBN hingga Rp85 triliun.
NEXT Indonesia Center menyampaikan hasil riset dugaan praktik misinvoicing atau selisih pencatatan kepabeanan dalam kegiatan ekspor batu bara.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menetapkan harga batu bara acuan (HBA) periode kedua April 2026 naik.
DPR dorong penggunaan rupiah dalam transaksi pembelian batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik nasional melalui skema Domestic Market Obligation (DMO).
Pemerintah Jepang memutuskan tidak memberlakukan pembatasan terhadap pembangkit listrik tenaga batu bara yang kurang efisien pada 2026.
Harga batu bara acuan periode I April 2026 turun ke 99,87 dolar AS per ton (Rp1,69 juta). Tekanan pasar global berlanjut, meski ESDM membuka opsi relaksasi produksi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved