Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 mencapai Rp 257,8 triliun, atau 1,57% dari Produk Domestik Bruto (PDB)
"Defisit anggaran semester I 2020 terealisir Rp 257,8 triliun atau negatif dibanding (periode sama) tahun lalu Rp 135,8 triliun. Ini mencapai 1,57% dari PDB, lebih dalam dibandingkan defisit tahun lalu sebesar 0,86% dari PDB," papar Ani, sapaan akrabnya, dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, Kamis (9/7).
Dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2020, defisit APBN diproyeksikan sebesar 6,34% dari PDB. Pada semester I 2020, pendapatan negara tercatat Rp 811,2 triliun, atau 47,7% dari target Rp 1.699,9 triliun. Realisasi tersebut mengalami pertumbuhan minus 9,8%, jika dibandingkan periode serupa tahun lalu.
Baca juga: Menkeu: Pertumbuhan Ekonomi -0,4% hingga 1,1% di Semester I
Pendapatan negara semester I 2020 mencakup penerimaan perpajakan sebesar Rp 624,9 triliun, atau 44,5% dari target Rp 1.404,5 triliun. Penerimaan perpajakan berupa penerimaan pajak sebesar Rp 513,7 triliun, serta kepabeanan dan cukai sebesar Rp 93,2 triliun.
Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) semester I 2020 tercatat Rp 184,5 triliun, atau 62,7% dari target Rp 294,1 triliun. Angka tersebut berasal dari realisasi PNBP sumber daya alam (SDA) sebesar Rp 54,5 triliun dan PNBP non-SDA sebesar Rp 130 triliun.
"Dari penerimaan hibah realisasinya Rp 1,7 triliun atau 133% dari (target) Perpres 72/2020. Namun, jumlahnya sangat kecil, sehingga tidak terlalu memengaruhi seluruh postur pendapatan negara," jelas mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia.
Baca juga: Realisasi Program Sejuta Rumah Lambat, Tapera Jadi Solusi
Menyoroti belanja negara, Bendahara Negara mencatat realisasi pada semester I 2020 sebesar Rp 1.068,9 triliun, atau 39% dari target Rp 2.739,2 triliun. Realisasi belanja negara semester I 2020 meliputi belanja pemerintah pusat sebesar Rp 668,5 triliun dan Transfer Ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) sebesar Rp 400,4 triliun.
Sedangkan, realisasi pembiayaan pada semester I 2020 tercatat Rp 416,2 triliun, atau 40% dari target sebesar Rp 1.039,2 triliun. "Ini mengakibatkan adanya SILPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan) sebesar Rp 158,4 triliun, yang masih masuk dalam kas Bank Indonesia," pungkasnya.(OL-11)

Ekonom Indef menilai optimisme pemerintah soal fiskal perlu diimbangi konsolidasi konkret agar APBN tetap kuat menghadapi tekanan global jangka panjang.
Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan keanggotaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) tidak menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Presiden menegaskan, besarnya nilai aset yang berhasil diselamatkan itu berpotensi memberikan dampak besar bagi pembangunan nasional.
Ibas juga menyoroti perlunya keseimbangan antara menjaga kesehatan postur APBN dan kewajiban negara dalam memberikan perlindungan sosial.
DPR mempertanyakan kekuatan APBN menghadapi lonjakan harga minyak dunia. Dolfie menyebut potensi tambahan subsidi bisa mencapai Rp204 triliun.
Ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet ingatkan risiko APBN jika subsidi BBM bengkak. Pemerintah siapkan SAL Rp420 triliun sebagai bantalan fiskal hingga 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved