HASIL rekapitulasi penghitungan suara Pemilu Legislatif 2014 di sejumlah daerah sudah berakhir. Ada secercah harapan karena muncul sejumlah nama baru yang bakal masuk ke Senayan.
Namun, yang paling dominan ialah munculnya sejumlah 'kejutan' yang merisaukan jika kita menilik hasil rekapitulasi suara tersebut. Kerisauan itu dipicu kejadian sejumlah nama lama, yang dalam kurun lima tahun terakhir menunjukkan kinerja relatif baik di parlemen, terlempar dari jalur menuju Senayan.
Demikian pula dengan sejumlah calon anggota legislatif muka baru, yang dikenal luas memiliki rekam jejak baik dan diharapkan melenggang mulus jadi wakil rakyat, malah gagal masuk. Sejumlah pesohor dengan rekam jejak yang tidak terlalu menonjol dalam kiprah mereka, selain kiprah keartisan, justru telah menggenggam tiket menuju kursi DPR.
Caleg dan calon anggota Dewan Perwakilan Daerah yang berstatus tersangka kasus dugaan korupsi, pernah diperiksa terkait dengan kasus dugaan korupsi, juga yang telah dicopot dari jabatan kepala daerah karena kasus menikahi perempuan di bawah umur, bahkan bisa lolos melenggang.
Hingga kemarin, setidaknya sudah ada sembilan pesohor yang hampir pasti lolos menjadi anggota DPR. Jumlah tersebut bisa bertambah mengingat sebagian wilayah masih merampungkan rekap penghitungan perolehan suara. Memang, kursi dewan bukanlah wilayah 'haram' bagi para pesohor, termasuk kalangan artis. Sebagaimana warga negara lainnya, asal memenuhi syarat cukup, mereka berhak ikut berkompetisi dan berkontestasi dalam pemilu.
Persoalannya, syarat cukup saja tidak akan memadai jika negeri ini menghendaki terwujudnya demokrasi yang berkualitas dan sejati. Demokrasi yang sejati ditandai, salah satunya, oleh terwujudnya pelembagaan institusi demokrasi, termasuk institusi DPR.
Pelembagaan demokrasi, dalam praktiknya, akan terlihat bila setiap elemen dalam institusi demokrasi sungguh-sungguh bekerja untuk negara dan demi mewujudkan kesejahteraan rakyat. Bentuk kerja tersebut juga harus bisa diukur, misalnya berapa legislator menginisiasi undang-undang yang penting bagi hajat hidup orang banyak.
Sejauh ini, peran sebagian besar pesohor di parlemen praktis tidak menonjol. Kurang dari separuh artis yang duduk di DPR periode 2009-2014 yang lumayan cemerlang memainkan peran sebagai legislator.
Sebagian besar dari mereka tidak terdengar memiliki peran penting dalam wacana yang terkait dengan tugas mereka sebagai anggota legislatif. Pada posisi seperti itulah mengapa publik kerap mempersoalkan masuknya para pesohor di parlemen.
Publik jelas berharap para wakil mereka hadir ke Senayan bukan sekadar sebagai etalase demokrasi. Rakyat menaruh harapan agar wakil mereka mati-matian berkorban dan memperjuangkan kepentingan rakyat.
Berkali-kali melalui forum ini kita menyampaikan, jika demokrasi hanya dipahami sebatas perebutan kuasa di medan politik, kualitas demokrasi dipastikan mengalami stagnasi. Demokrasi pun mengalami pendangkalan karena dibajak mereka yang hanya mencari peruntungan.
Karena itu, kita berharap para pesohor yang sudah mengantongi tiket ke Senayan segera bersiap diri. Jawablah segala keraguan, kritikan, bahkan cibiran dengan persiapan matang dan konsep-konsep besar memperbaiki Indonesia ke depan mumpung masih ada waktu sebelum pelantikan.
Rakyat yang sudah lelah menunggu datangnya perubahan jangan terus dijejali janji-janji manis dan hiburan sesaat pengurang kepeningan.
Berita Lainnya
-
09/8/2025 05:00
BANTUAN sosial atau bansos pada dasarnya merupakan insiatif yang mulia.
-
08/8/2025 05:00
PEMERIKSAAN dua menteri dari era Presiden Joko Widodo oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi menjadi sorotan publik.
-
07/8/2025 05:00
SAMA seperti perang terhadap korupsi, perang melawan narkoba di negeri ini sering dipecundangi dari dalam.
-
06/8/2025 05:00
EKONOMI Indonesia melambung di tengah pesimisme yang masih menyelimuti kondisi perekonomian global maupun domestik.
-
05/8/2025 05:00
BERAGAM cara dapat dipakai rakyat untuk mengekspresikan ketidakpuasan, mulai dari sekadar keluh kesah, pengaduan, hingga kritik sosial kepada penguasa.
-
04/8/2025 05:00
MANTAN Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong dan mantan Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto telah resmi bebas dari tahanan.
-
02/8/2025 05:00
Kebijakan itu berpotensi menciptakan preseden dalam pemberantasan korupsi.
-
01/8/2025 05:00
ENTAH karena terlalu banyak pekerjaan, atau justru lagi enggak ada kerjaan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) memblokir puluhan juta rekening milik masyarakat.
-
31/7/2025 05:00
KASUS suap proses pergantian antarwaktu (PAW) untuk kader PDI Perjuangan Harun Masiku ke kursi DPR RI masih jauh dari tutup buku alias belum tuntas.
-
30/7/2025 05:00
Intoleransi dalam bentuk apa pun sesungguhnya tidak bisa dibenarkan.
-
29/7/2025 05:00
KEPALA Desa ibarat etalase dalam urusan akuntabilitas dan pelayanan publik.
-
28/7/2025 05:00
KONFLIK lama Thailand-Kamboja yang kembali pecah sejak Kamis (24/7) tentu saja merupakan bahaya besar.
-
26/7/2025 05:00
NEGERI ini memang penuh ironi. Di saat musim hujan, banjir selalu melanda dan tidak pernah tertangani dengan tuntas. Selepas banjir, muncul kemarau.
-
25/7/2025 05:00
Berbagai unsur pemerintah pun sontak berusaha mengklarifikasi keterangan dari AS soal data itu.
-
24/7/2025 05:00
EKS marinir TNI-AL yang kini jadi tentara bayaran Rusia, Satria Arta Kumbara, kembali membuat sensasi.
-
23/7/2025 05:00
SEJAK dahulu, koperasi oleh Mohammad Hatta dicita-citakan menjadi soko guru perekonomian Indonesia.