Menanti Kiprah para Pesohor

26/4/2014 00:00
HASIL rekapitulasi penghitungan suara Pemilu Legislatif 2014 di sejumlah daerah sudah berakhir. Ada secercah harapan karena muncul sejumlah nama baru yang bakal masuk ke Senayan.

Namun, yang paling dominan ialah munculnya sejumlah 'kejutan' yang merisaukan jika kita menilik hasil rekapitulasi suara tersebut. Kerisauan itu dipicu kejadian sejumlah nama lama, yang dalam kurun lima tahun terakhir menunjukkan kinerja relatif baik di parlemen, terlempar dari jalur menuju Senayan.

Demikian pula dengan sejumlah calon anggota legislatif muka baru, yang dikenal luas memiliki rekam jejak baik dan diharapkan melenggang mulus jadi wakil rakyat, malah gagal masuk. Sejumlah pesohor dengan rekam jejak yang tidak terlalu menonjol dalam kiprah mereka, selain kiprah keartisan, justru telah menggenggam tiket menuju kursi DPR.

Caleg dan calon anggota Dewan Perwakilan Daerah yang berstatus tersangka kasus dugaan korupsi, pernah diperiksa terkait dengan kasus dugaan korupsi, juga yang telah dicopot dari jabatan kepala daerah karena kasus menikahi perempuan di bawah umur, bahkan bisa lolos melenggang.

Hingga kemarin, setidaknya sudah ada sembilan pesohor yang hampir pasti lolos menjadi anggota DPR. Jumlah tersebut bisa bertambah mengingat sebagian wilayah masih merampungkan rekap penghitungan perolehan suara. Memang, kursi dewan bukanlah wilayah 'haram' bagi para pesohor, termasuk kalangan artis. Sebagaimana warga negara lainnya, asal memenuhi syarat cukup, mereka berhak ikut berkompetisi dan berkontestasi dalam pemilu.

Persoalannya, syarat cukup saja tidak akan memadai jika negeri ini menghendaki terwujudnya demokrasi yang berkualitas dan sejati. Demokrasi yang sejati ditandai, salah satunya, oleh terwujudnya pelembagaan institusi demokrasi, termasuk institusi DPR.

Pelembagaan demokrasi, dalam praktiknya, akan terlihat bila setiap elemen dalam institusi demokrasi sungguh-sungguh bekerja untuk negara dan demi mewujudkan kesejahteraan rakyat. Bentuk kerja tersebut juga harus bisa diukur, misalnya berapa legislator menginisiasi undang-undang yang penting bagi hajat hidup orang banyak.

Sejauh ini, peran sebagian besar pesohor di parlemen praktis tidak menonjol. Kurang dari separuh artis yang duduk di DPR periode 2009-2014 yang lumayan cemerlang memainkan peran sebagai legislator.

Sebagian besar dari mereka tidak terdengar memiliki peran penting dalam wacana yang terkait dengan tugas mereka sebagai anggota legislatif. Pada posisi seperti itulah mengapa publik kerap mempersoalkan masuknya para pesohor di parlemen.

Publik jelas berharap para wakil mereka hadir ke Senayan bukan sekadar sebagai etalase demokrasi. Rakyat menaruh harapan agar wakil mereka mati-matian berkorban dan memperjuangkan kepentingan rakyat.

Berkali-kali melalui forum ini kita menyampaikan, jika demokrasi hanya dipahami sebatas perebutan kuasa di medan politik, kualitas demokrasi dipastikan mengalami stagnasi. Demokrasi pun mengalami pendangkalan karena dibajak mereka yang hanya mencari peruntungan.

Karena itu, kita berharap para pesohor yang sudah mengantongi tiket ke Senayan segera bersiap diri. Jawablah segala keraguan, kritikan, bahkan cibiran dengan persiapan matang dan konsep-konsep besar memperbaiki Indonesia ke depan mumpung masih ada waktu sebelum pelantikan.

Rakyat yang sudah lelah menunggu datangnya perubahan jangan terus dijejali janji-janji manis dan hiburan sesaat pengurang kepeningan.


Berita Lainnya