Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
MAHKAMAH Konstitusi sebagai benteng terakhir penegakan konstitusi dan ideologi di negeri ini roboh sudah. Bagaimana bisa disebut benteng kalau tiang-tiangnya saja amat rapuh? Benteng seharusnya kuat, tapi pertahanan MK nyatanya sangat lemah dan rentan. Tak perlu palu godam untuk meruntuhkan mahkamah tersebut. Cukup dengan imingiming fulus kepada hakim, lembaga itu sudah dapat dirobohkan. Setidaknya sudah dua kali kewibawaan penjaga muruah konstitusi dan ideologi itu hancur dalam empat tahun terakhir.
Dua-duanya karena suap alias duit. Dua-duanya karena ketamakan dua hakimnya. Publik tentu belum lupa betapa MK yang dulunya punya kehormatan dan reputasi bagus sebagai pengawal konstitusi langsung terjerembap ke titik nihil setelah KPK tanpa ampun menangkap Ketua MK Akil Mochtar, Oktober 2013 silam. Akil terbukti menerima suap terkait dengan penanganan sejumlah kasus sengketa pil kada di MK. Kini, ketika akibat dari kehancuran yang pertama itu belum sepenuhnya bisa dipulihkan, satu tiang MK kembali rontok.
Ha kim konstitusi Patrialis Akbar, Rabu (25/1), terjaring operasi tangkap tangan (OTT) KPK. Penangkapan Patrialis terkait dengan dugaan suap upaya judicial riview UU Nomor 41/2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Kita tentu menghargai permohonan ampun kepada Tuhan sekaligus permintaan maaf kepada rakyat yang dilontarkan Ketua MK Arief Hidayat. Namun, apakah permohonan ampun dan maaf itu mampu menegakkan kembali MK yang roboh?
Apakah itu semua mampu menghapus kegeraman publik karena begitu mudahnya lembaga itu diporak-porandakan gelombang korupsi? Publik memang patut murka jika terus disuguhi kebebalan yang kian akut dari sebagian pejabat negara. Sudah puluhan OTT dilakukan KPK dengan publikasi di media yang mestinya bisa membuat orang jeri untuk melakukan kekotoran yang sa ma. Sudah banyak kasus rasywah diungkap lembaga antikorupsi itu dan menjadi sorotan publik.
Namun, faktanya, semua itu tak menjerakan. Terlalu banyak orang yang kelewat berani, amat rakus, tak punya malu, atau kita sebut saja bebal. Bagi kaum bebal ini, korupsi tak boleh berhenti. Mereka belajar dari kasus-kasus sebelumnya, tapi yang mereka pelajari ialah celah-celah yang memungkinkan korupsi jalan terus. Sungguh disayangkan, kaum itu ternyata bermukim pula di MK. Sejak kasus Akil terkuak, ditambah dengan terbongkarnya kelancungan Patrialis, tidak bisa tidak, hanya reformasi yang mampu menegakkan kembali MK yang telanjur roboh.
Satu kuncinya tentu saja ada di pembenahan hakim. Rekrutmen, se leksi, dan pengangkatan hakim menjadi hal yang krusial di lakukan. Harus diakui, Patrialis ialah produk rekrutmen hakim konstitusi yang tidak benar secara proses. Ia diangkat menjadi hakim MK berdasarkan penunjukan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tanpa proses pemilihan dan perekrutan yang semestinya. Artinya, pengangkatan Patrialis sangat kental unsur politis dan tidak sesuai dengan undang-undang.
Ketidaktaatan pada proses seperti itu tak boleh diulangi jika kita menginginkan MK di masa mendatang memiliki jajaran hakim dengan rekam jejak antikorupsi yang bagus, berintegritas tinggi, serta memiliki kapabilitas mumpuni. Jangan sampai kita abai dan kemudian hanya bisa menyesali kenyataan karena MK kembali diisi hakim-hakim titipan dari kaum bebal yang mudah tergoda dan gampang disusupi kepentingan dengan iming-iming uang.
BANTUAN sosial atau bansos pada dasarnya merupakan insiatif yang mulia.
PEMERIKSAAN dua menteri dari era Presiden Joko Widodo oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi menjadi sorotan publik.
SAMA seperti perang terhadap korupsi, perang melawan narkoba di negeri ini sering dipecundangi dari dalam.
EKONOMI Indonesia melambung di tengah pesimisme yang masih menyelimuti kondisi perekonomian global maupun domestik.
BERAGAM cara dapat dipakai rakyat untuk mengekspresikan ketidakpuasan, mulai dari sekadar keluh kesah, pengaduan, hingga kritik sosial kepada penguasa.
MANTAN Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong dan mantan Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto telah resmi bebas dari tahanan.
Kebijakan itu berpotensi menciptakan preseden dalam pemberantasan korupsi.
ENTAH karena terlalu banyak pekerjaan, atau justru lagi enggak ada kerjaan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) memblokir puluhan juta rekening milik masyarakat.
KASUS suap proses pergantian antarwaktu (PAW) untuk kader PDI Perjuangan Harun Masiku ke kursi DPR RI masih jauh dari tutup buku alias belum tuntas.
Intoleransi dalam bentuk apa pun sesungguhnya tidak bisa dibenarkan.
KEPALA Desa ibarat etalase dalam urusan akuntabilitas dan pelayanan publik.
KONFLIK lama Thailand-Kamboja yang kembali pecah sejak Kamis (24/7) tentu saja merupakan bahaya besar.
NEGERI ini memang penuh ironi. Di saat musim hujan, banjir selalu melanda dan tidak pernah tertangani dengan tuntas. Selepas banjir, muncul kemarau.
Berbagai unsur pemerintah pun sontak berusaha mengklarifikasi keterangan dari AS soal data itu.
EKS marinir TNI-AL yang kini jadi tentara bayaran Rusia, Satria Arta Kumbara, kembali membuat sensasi.
SEJAK dahulu, koperasi oleh Mohammad Hatta dicita-citakan menjadi soko guru perekonomian Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved