Wajah Muram Parlemen Kita

22/4/2014 00:00
PERTARUNGAN memperebutkan kursi di parlemen sudah usai. Proses penghitungan tengah dilakukan untuk menentukan siapa-siapa saja yang  akan menduduki kursi panas di Senayan.

Kini, saatnya kita mereka-reka bakal seperti apakah wajah parlemen negeri ini lima tahun ke depan.

Apakah masih sama seperti wajah para wakil rakyat periode 2009-2014 yang penuh dempul untuk menutup bopeng-bopeng mereka? Atau sebaliknya, akankah terbentuk satu wajah parlemen baru yang bersih, segar, bermutu tinggi, sekaligus tanpa tipu daya?

Jika melihat sejumlah hasil penghitungan sementara suara calon anggota legislatif, tampaknya kita belum akan melihat perubahan wajah penghuni Senayan yang melegakan. Betul bahwa akan ada muka-muka baru yang tentu saja diharapkan bakal membawa kesegaran baru di antara muka-muka lama yang masih bertahan.

Akan tetapi, apakah tampilnya wajah-wajah baru itu akan menjamin DPR ke depan akan lebih baik? Bagaimana dengan kualitas mereka? Bagaimana pula integritas mereka? Beberapa pihak bahkan telah dengan tegas meragukan hal itu.

Keraguan tersebut cukup bisa dimengerti sebab tidak sedikit dari para debutan legislator itu berhasil melenggang ke Senayan karena faktor polesan konsultan, bukan karena orisinalitas kemampuan dan kualitas.

Proses keterpilihan mereka sangat artifisial karena hanya mengandalkan kemahiran konsultan untuk menjual nama mereka ke masyarakat pemilih.

Mereka tidak lahir, tidak pula dibentuk sebuah sistem kaderisasi partai politik yang memang melempem sejak dulu. Akibatnya, meski menyegarkan secara tampilan, mereka diyakini tak akan bisa berbuat banyak di DPR karena pada dasarnya mereka hanya menjadikan politik sebagai taruhan. Mereka bukan orang-orang yang betul-betul memilih politik sebagai jalan perjuangan.

Coba bayangkan jika orang-orang seperti itu bergabung dengan muka-muka lama yang selama ini justru lebih asyik mewakili syahwat pribadi dan golongan ketimbang mewakili rakyat.

Kita amat khawatir dengan bayangan seram itu karena beberapa politikus lawas yang disebut-sebut bakal lolos lagi ke DPR, sebagian ialah legislator yang oleh sejumlah lembaga, seperti Indonesia Corruption Watch, dinilai tidak bersih alias bermasalah.

Ada yang tersangkut korupsi, ada yang namanya kerap disebut-sebut dalam persidangan tindak pidana korupsi, ada pula yang relatif bersih dari kasus rasywah tapi getol menyuarakan pelemahan KPK. Padahal, merekalah yang mungkin nantinya akan menjadi mentor para debutan yang pada saat sama memang sedang membutuhkan guru politik.

Banyak caleg yang berkualitas justru tidak terpilih. Mereka umumnya pantang berbuat curang serta emoh menggunakan konsultan. Saat melihat maraknya temuan kecurangan, kita khawatir banyak anggota parlemen melenggang ke kursi legislatif karena berbuat curang. Apa jadinya bila gedung parlemen diduduki para pelancung?

Namun, kita tentu tak boleh kehilangan harapan. Apa pun kondisinya, munculnya banyak wajah baru hasil pemilu legislatif tetap patut disyukuri. Tugas kita untuk mengingatkan dan mengarahkan mereka agar mampu memutus mata rantai setan dengan politikus-politikus lama yang bermasalah.

Jangan sampai malah muka-muka segar itu terperangkap dalam lilitan gurita parlemen kita yang selama ini senantiasa sibuk menutupi bopeng-bopeng mereka sendiri.


Berita Lainnya