Menumbuhkan Pusat-Pusat Keteladanan

18/4/2014 00:00
BANYAK orang mengeluhkan bangsa yang besar seperti Indonesia saat ini telah kehilangan pusat-pusat keteladanan. Para elite yang mestinya menjadi panutan di tengah masyarakat sebagai mercusuar di kegelapan, malah memupuk kegelapan itu menjadi kian pekat.

Negeri ini terus menyebut diri sebagai bangsa religius. Nabi Muhammad, Isa Almasih (Yesus Kristus), dan Sidharta Gautama yang telah tiada ratusan tahun lamanya, perangai mereka terus dikumandangkan sebagai sosok yang harus diteladani.

Tapi anehnya, para penganjur itu sendiri gagal mencontoh panutan mereka. Fakta telanjang dari kian redupnya pusat-pusat teladan ialah sejumlah kejadian dalam Pemilu Lesgilatif 2014 ini.

Para elite sangat haus untuk berburu kursi kekuasaan sembari melupakan dan menabrak segala aturan main. Bahkan, perilaku lancung yang menerobos segala cara dilakukan dengan tanpa sedikitpun rasa bersalah. Di antara calon anggota legislatif, masih banyak yang lebih mengedepankan saling sikut dalam kontestasi dan kompetisi politik sembari mengubur dalam-dalam nalar dan etika dalam berpolitik.

Ada caleg yang sudah menggelontorkan bantuan untuk pembangunan tempat ibadah, namun karena suara yang didapatkannya dalam pemilu tidak signifikan, menarik kembali bantuan tersebut. Ada pula yang memblokade fasilitas publik berupa jalan raya, juga karena alasan yang sama.
Kita juga menyaksikan politik uang dipraktikkan secara telanjang, bahkan dengan cara 'bermain mata' antara caleg dan penyelenggara pemungutan suara. Sebagian pemilih pun seperti menikmati extravaganza dengan menyebut bahwa kehadiran pemilu merupakan saat pesta memanen rezeki. Yang mengenaskan, ada pula yang meneruskan kemarahan dengan cara membakar gedung tempat dokumen rekapitulasi pemungutan suara disimpan.

Itulah yang terjadi di Kecamatan Sindue dan Sindue Tobata, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Akibatnya, hasil perolehan suara Pemilu Legislatif 2014 di dua kecamatan tersebut, berikut seluruh dokumennya hangus terbakar. Tidak ada satu pun dokumen yang tersisa, dan kotak suara habis terbakar.

Perilaku seperti itulah yang membuat negeri ini mengalami kemiskinan wahana untuk mencetak nilai-nilai luhur bangsa yang diidamkan menjadi karakter bangsa. Jangankan berkorban untuk bangsa sebagaimana yang ditunjukkan oleh para pemimpin kita tempo dulu, juga oleh ajaran-ajaran agama yang masih terus digaungkan, sekadar memberi contoh kecil saja, mereka pun gagal.

Padahal, bangsa ini pun sesungguhnya memiliki pahlawan-pahlawan keagungan dalam berbagai bidang kehidupan. Akan tetapi, kisah-kisah keteladanan mereka tidak terpatri dalam sanubari para lokomotif politik di negeri ini. Karena itu, suatu usaha harus dilakukan untuk mengangkat mutiara bangsa yang terpendam ini ke altar kesadaran publik.

Setiap momen penting perayaan keagamaan, seperti peringatan wafatnya Isa Almasih hari ini, harus mampu kita gulirkan sebagai saat krusial untuk becermin dan bertekad memperbaiki keadaan.

Para elite mesti memberi teladan dengan mengedepankan harmoni dalam kompetisi. Penegak keadilan harus memberi teladan dengan menegakkan hukum setegak-tegaknya tanpa padang bulu. Jika itu bisa kita capai, rakyat pun akan menjadikan kebenaran sebagai kebiasaan, bukan membenarkan kebiasaan, apalagi jika kebiasaan itu adalah kebiasaan buruk.


Berita Lainnya