Menimbang Cawapres

21/4/2014 00:00
WAKIL presiden berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 ialah pembantu presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Namun, kualitas bantuan yang diberikan wapres berada di atas kualitas bantuan menteri.

Sebagai pembantu presiden, wapres memiliki kedudukan istimewa dan luar biasa. Wapres ialah simbol resmi negara yang kualitas tindakannya setara dengan seorang kepala negara.

Jelas sekali posisi wapres sangat strategis dalam ketatanegaraan kita. Wapres harus punya kualitas setara dengan presiden. Kualitas yang dimaksud tentu kualitas seorang negarawan. Apalagi, bila presiden berhalangan tetap, wapreslah yang otomatis menggantikan presiden.

Di masa pasca-Orde Baru, posisi wapres semakin terhormat, terlebih ketika presiden dan wapres dipilih langsung oleh rakyat. Kini wapres bukan ban serep lagi. Dewasa ini presiden dan wakil presiden bersepakat berbagi tugas.

Namun, bagaimanapun, wapres tetaplah pembantu presiden. Wapres harus berada selangkah di belakang presiden. Suaranya harus satu tone di bawah presiden. Dalam konteks ini, kearifan komunikasi politik wapres amatlah penting.

Di sisi lain, presiden harus senantiasa berada satu langkah di depan wapres serta memiliki suara satu tone  di atas wapres. Presiden harus sigap mengimbangi wapresnya.

Kita harus mengingatkan hal itu karena ia sering menjadi pangkal perselisihan presiden dan wapres. Kita tidak ingin kelak duet menjadi duel. Kita menginginkan presiden dan wakil presiden punya hubungan harmonis dalam mengurus negara dan pemerintahan.

Hari-hari belakangan ini para capres dan parpol poros koalisi sibuk menimang-nimang cawapres. Silakan saja bila capres dan parpol menjadikan koalisi sebagai pertimbangan.
 
Koalisi menjadi pertimbangan penting karena ia menjadi syarat gabungan parpol mengajukan capres dan cawapres di tengah tiadanya parpol yang memperoleh suara mayoritas dominan pada Pemilu Legislatif 2014.  

Namun, koalisi bukan satu-satunya pertimbangan. Bila ia menjadi satu-satunya pertimbangan, koalisi tak ubahnya perkumpulan bagi-bagi kekuasaan.

Kita berharap capres atau parpol hendaknya juga mempertimbangkan kualitas kenegarawanan serta kearifan komunikasi politik dari seorang cawapres yang kelak mereka pilih.

Pertaruhan capres dan parpol kini terletak pada kecermatan mereka memilih cawapres. Jika mereka sanggup memilih cawapres yang tepat, rakyat boleh berharap duet presiden dan wapres kali ini akan membawa negara ini menuju perubahan dan perbaikan.
Sebaliknya, bila capres dan parpol gagal memilih cawapres yang mumpuni, rakyat pun bertanya, akan dibawa ke mana negara kita.



Berita Lainnya