Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
KETIKA ratusan ribu orang turun ke jalan berunjuk rasa, amat kecil kemungkinan mereka betul-betul satu niat dan tujuan.
Boleh jadi di antara arus besar untuk memperjuangkan sesuatu, ada pihak yang punya kepentingan lain.
Pun demikian dengan demonstrasi besar-besaran pada 4 November silam, atau populer dengan peristiwa 411.
Demo itu melibatkan ratusan ribu, bahkan ada yang menyebut lebih dari 1 juta orang.
Demo itu bertujuan mendesak agar Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama diproses hukum karena diduga melakukan penistaan agama.
Namun, benarkah semua yang meramaikan aksi 411 punya interes sama dan suara senada?
Bagi aparat, jawabannya: tidak.
Bagi kita pun, sulit untuk mengatakan bahwa di antara massa yang luar biasa banyak itu tidak ada kelompok tertentu yang punya tujuan berbeda.
Istilahnya, mereka mendompleng demo damai untuk memaksakan kepentingan sendiri.
Celakanya, tak cuma menyimpang dari tujuan utama unjuk rasa, kepentingan itu justru mengancam kedamaian dan keutuhan bangsa.
Tak tanggung-tanggung, menurut Polri, ada kelompok yang terkait dengan jaringan teroris Islamic State (IS) yang menyusup dalam unjuk rasa tersebut.
Sebanyak sembilan orang pendukung IS yang diketahui ambil bagian dalam aksi 411 sudah ditangkap.
Mereka hendak merebut senjata aparat untuk membuat rusuh dan menghadirkan teror, tetapi gagal total karena polisi yang mengawal unjuk rasa memang tidak dipersenjatai.
Kita tidak hendak mengatakan kelompok radikal yang berkiblat ke IS juga akan menunggangi demonstrasi lanjutan pada 2 Desember atau aksi 212 jadi dilaksanakan.
Namun, tidak ada salahnya bila kita semua waspada agar tak tersandung IS dan menyesalinya kelak.
Publik tahu siapa IS.
Mereka mengklaim ingin memperjuangkan agama, tetapi pada praktiknya menjadi penista paling nyata terhadap agama.
Agama yang seharusnya menjadi rahmat bagi sekalian alam mereka bajak, mereka nodai dengan tindakan-tindakan brutal tak berperikemanusiaan.
Sulit dibayangkan apa jadinya jika kelompok IS di Indonesia sukses menjalankan skenario jahat mereka dengan memanfaatkan unjuk rasa.
Apalagi, ancaman teror benar-benar nyata setelah polisi pekan lalu membekuk tersangka teroris di Majalengka, Jawa Barat.
Bersamanya diamankan bahan peledak yang daya rusaknya jauh lebih besar ketimbang bom Bali.
Apalagi tersangka teroris hendak menyasar antara lain simbol-simbol negara yang sering kali juga menjadi sasaran berbagai unjuk rasa.
Istilah tunggang-menunggangi memang terdengar klise yang di era Orde Baru menjadi media ampuh untuk menekan kebebasan.
Namun, kita yakin pernyataan polisi bahwa ada simpatisan IS yang telah dan akan menyusup dan menunggangi unjuk rasa umat Islam bukan bualan semata.
Ia menjadi peringatan serius, sangat serius agar bangsa ini serius pula mengantisipasi.
Kita tak pernah bosan mengingatkan bahwa kasus Ahok sedang diproses hukum sehingga sudah semestinya semua pihak menghormati proses itu.
Terlebih lagi, polisi sebagai penyidik sudah bekerja cepat dan telah melimpahkan berkas perkara Ahok ke Kejaksaan Agung.
Mengawal proses hukum kasus Ahok akan lebih elok dilakukan dalam koridor hukum ketimbang dengan aksi massa di jalanan.
Benar bahwa unjuk rasa merupakan hak yang dijamin undang-undang, tetapi sudah semestinya pula kita menghargai hak orang lain untuk menikmati ketertiban dan ketenteraman.
Setertib apa pun demonstrasi, ia tetap memunculkan efek samping paling tidak mengganggu publik karena digelar di ruang milik publik.
Ia juga memberikan celah bagi para penyusup yang berhaluan kekerasan berulah sehingga demonstrasi yang dirancang damai dapat berujung musibah.
Kita menyambut baik imbauan sejumlah organisasi keagamaan semisal MUI dan PBNU agar unjuk rasa 2 Desember urung digelar.
Imbauan itu amat relevan karena selain tuntutan agar Ahok diproses hukum sudah dipenuhi, demonstrasi juga rawan disusupi para pengacau yang bernafsu mengacaukan negeri ini.
Lagi pula kita sudah terlalu porah membuang energi hanya untuk mengurusi masalah itu.
BANTUAN sosial atau bansos pada dasarnya merupakan insiatif yang mulia.
PEMERIKSAAN dua menteri dari era Presiden Joko Widodo oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi menjadi sorotan publik.
SAMA seperti perang terhadap korupsi, perang melawan narkoba di negeri ini sering dipecundangi dari dalam.
EKONOMI Indonesia melambung di tengah pesimisme yang masih menyelimuti kondisi perekonomian global maupun domestik.
BERAGAM cara dapat dipakai rakyat untuk mengekspresikan ketidakpuasan, mulai dari sekadar keluh kesah, pengaduan, hingga kritik sosial kepada penguasa.
MANTAN Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong dan mantan Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto telah resmi bebas dari tahanan.
Kebijakan itu berpotensi menciptakan preseden dalam pemberantasan korupsi.
ENTAH karena terlalu banyak pekerjaan, atau justru lagi enggak ada kerjaan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) memblokir puluhan juta rekening milik masyarakat.
KASUS suap proses pergantian antarwaktu (PAW) untuk kader PDI Perjuangan Harun Masiku ke kursi DPR RI masih jauh dari tutup buku alias belum tuntas.
Intoleransi dalam bentuk apa pun sesungguhnya tidak bisa dibenarkan.
KEPALA Desa ibarat etalase dalam urusan akuntabilitas dan pelayanan publik.
KONFLIK lama Thailand-Kamboja yang kembali pecah sejak Kamis (24/7) tentu saja merupakan bahaya besar.
NEGERI ini memang penuh ironi. Di saat musim hujan, banjir selalu melanda dan tidak pernah tertangani dengan tuntas. Selepas banjir, muncul kemarau.
Berbagai unsur pemerintah pun sontak berusaha mengklarifikasi keterangan dari AS soal data itu.
EKS marinir TNI-AL yang kini jadi tentara bayaran Rusia, Satria Arta Kumbara, kembali membuat sensasi.
SEJAK dahulu, koperasi oleh Mohammad Hatta dicita-citakan menjadi soko guru perekonomian Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved