PEMERINTAHAN yang baik dan benar ialah pemerintahan yang meninggalkan 'jejak manis' bagi penerusnya. Legacy itu amat penting agar pemerintahan baru bisa memulai kerja dengan mulus tanpa harus mati-matian 'mencuci piring' buah dari 'pesta' pemerintahan sebelumnya.
Namun, setelah melihat gelagat pemerintahan saat ini, khususnya di ujung kerja kabinet, kita patut merasa amat risau. Alih-alih merumuskan kebijakan sebagai warisan penting untuk pemerintahan mendatang, para pejabat pemerintahan, khususnya yang berasal dari partai politik, malah lebih asyik mengurusi kepentingan individu dan partai.
Setelah Pemilihan Umum Legislatif 2014, kesibukan sejumlah menteri mengurus partai bukannya mengurang, melainkan malah bertambah. Ada menteri yang sibuk setengah mati demi menjaga agar kursi pemimpin partai tak lepas akibat 'badai' guncangan dari kader partai lainnya. Ada juga yang harus pontang-panting membantu sang ketua umum agar tetap aman melaju menjadi calon presiden dari partai. Ada pula sejumlah menteri yang kebetulan merangkap menjadi ketua umum partai yang kian rajin bersilaturahim ke partai lain untuk memastikan diri agar tidak ketinggalan kereta koalisi.
Menteri-menteri asal partai politik lainnya yang bukan pucuk pimpinan partai, tapi menjadi calon anggota legislatif, juga tak kalah sibuknya. Mereka harus rajin memelototi hasil rekapitulasi pemungutan suara untuk memastikan suara yang diperoleh cukup untuk mengantarkan mereka melenggang ke Senayan.
Para menteri yang tidak berurusan langsung dengan pemilu pun seperti ikut-ikutan 'lesu darah'. Mereka tidak mendapatkan ruang yang cukup untuk merancang agenda besar ke depan, termasuk menuntaskan pekerjaan kekinian.
Padahal, pekerjaan rumah negeri ini masih menumpuk. Belum lagi tantangan jangka pendek ke depan yang mustahil langsung bisa dilakukan pemerintahan baru mengingat belum cukupnya waktu.
Pekerjaan membereskan infrastruktur, menyiapkan peraturan-peraturan sebagai implementasi undang-undang, hingga menyiapkan road map di bidang energi, misalnya, masih jauh dari selesai. Beberapa di antaranya malah terbengkalai.
Kesiapan menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sudah di depan mata, yang dimulai pada 1 Januari 2015, juga masih merisaukan. Kamar Dagang dan Industri (Kadin), misalnya, pernah menyatakan sebagian besar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia tidak siap menghadapi era MEA 2015.
UMKM nasional saat ini tidak mendapat dukungan dari para pemodal. Bank Indonesia memang pernah meminta bank untuk menyalurkan kredit 20% ke UMKM, tapi bunga kredit dari bank masih 12%. Padahal, Malaysia berani memberikan kredit kepada UMKM dengan bunga hanya 4% per tahun sehingga UMKM mereka bisa dengan cepat merambah dunia internasional.
Berkali-kali melalui forum ini kita mengingatkan agar pemerintah tidak melalaikan tugas utama pemerintahannya, yakni mengurus rakyat dan menyiapkan fondasi penting untuk pemerintahan berikutnya. Bukankah peringatan, bahkan instruksi, serupa juga berkali-kali disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono?
Peringatan itu perlu kita gemakan lagi karena sesungguhnya rakyat sudah lelah dengan janji-janji kesejahteraan yang tak kunjung bisa ditepati.
Karena itu, mumpung masih ada waktu untuk menyelesaikan pekerjaan hingga Oktober nanti, berikanlah persembahan yang terbaik buat rakyat walaupun hanya sedikit.
Siapa tahu, tindakan akhir di ujung pemerintahan itu akan menjadi 'warisan baik' untuk melempengkan jalan menuju kesejahteraan.
Berita Lainnya
-
28/4/2026 05:00
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
-
27/4/2026 05:00
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
-
25/4/2026 05:00
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
-
24/4/2026 05:00
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
-
23/4/2026 05:00
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
-
22/4/2026 05:00
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
-
21/4/2026 05:00
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
-
20/4/2026 05:00
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
-
18/4/2026 05:00
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
-
17/4/2026 05:00
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
-
16/4/2026 05:00
AKSI premanisme kembali mengoyak rasa aman publik.
-
15/4/2026 05:00
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
-
14/4/2026 05:00
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
-
13/4/2026 05:00
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
-
11/4/2026 05:00
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
-
10/4/2026 05:00
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.