Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
MEDIA sosial ibarat sebilah pisau. Netralitas pisau hilang ketika berada di tangan seorang dokter untuk membedah atau di tangan pembunuh untuk membantai.
Pisau bermata dua bernama media sosial itu menerpa negeri ini. Kemajuan teknologi komunikasi itu mestinya bisa dimanfaatkan sepenuhnya untuk memperkukuh persatuan dan memajukan demokrasi. Namun, ini yang membuat kita prihatin, pada sisi lain media sosial memiliki daya rusak yang luar biasa.
Daya rusak itu berupa lalu lintas berita bohong atau hoax yang memenuhi jagat pengguna Facebook, Twitter, ataupun aplikasi percakapan Whatsapp. Salah satu contoh hoax yang menjadi viral ialah Presiden Joko Widodo mencopot jabatan Panglima TNI yang diemban Jenderal TNI Gatot Nurmantyo. Presiden pun buru-buru membantah berita bohong itu dan memerintahkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk mengusut penyebaran informasi bohong itu.
Harus jujur diakui bahwa media sosial menjadi riuh oleh kebencian yang dilakukan tak hanya oleh haters, tetapi tidak sedikit dari deretan orang ternama, mulai para ilmuwan sampai agamawan.
Media sosial berdaya rusak tinggi kala pengguna tidak bijak memakainya. Media sosial mestinya mendudukkan proses dialog yang sehat, tempat mengadu konsep dan strategi secara kreatif. Kawan dan lawan bisa berkompetisi dalam harmoni. Alangkah eloknya bila media sosial menjadi ajang silaturahim untuk mempererat rasa persaudaraan di dunia maya.
Akan tetapi, terutama saat memasuki masa kampanye pilkada serentak, media sosial justru menjadi arena benturan kepentingan politik yang dikemas melalui aroma agama dan ujaran kebencian. Para calon pemimpin tampak menjaga citra kesantunan di dunia nyata, tapi mereka atau tim sukses bisa berwujud serigala di dunia maya.
Para calon pemimpin yang tidak satu kata dengan perbuatan di dunia nyata dan maya bukanlah negarawan. Mereka hanyalah pemimpi. Kondisi itu semakin mengonfirmasikan atmosfer politik negeri ini yang disesaki politisi, bukan negarawan.
Harus tegas dikatakan bahwa di tangan politisi pemimpi, politik sebagai sebuah seni meraih kekuasaan yang seharusnya terlihat indah justru di media sosial menjelma menjadi hutan belantara permainan kepentingan. Tidak ada kesejukan, jauh panggang dari suasana damai. Hutan politik itu menjadi gersang dari nilai-nilai kepatutan.
Terus terang, ujaran kebencian di media sosial sudah berdampak pada pelanggaran hak asasi manusia, mulai level ringan hingga berat. Bahwa benar, pada awalnya hanya mengunggah kata-kata atau visual yang diedit sana sini, tapi efeknya mampu menggerakkan massa hingga berpotensi memicu konflik horizontal dan vertikal.
Negara tidak boleh diam, apalagi kalah, untuk membendung ujaran kebencian di media sosial. Sudah saatnya pemerintah terus-menerus menggerakkan literasi internet sehingga media sosial mampu mendorong transparansi, menjaga demokrasi, dan partisipasi publik.
Pada saat bersamaan dengan menggerakkan literasi internet, aparat penegak hukum jangan berpangku tangan, harus turun tangan untuk memidana pelaku ujaran kebencian. Toh, aturan hukumnya sudah memadai, ada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Ada pula Surat Edaran Kapolri Nomor SE/06/X/2015 tentang Penanganan Ujaran Kebencian. Jangan biarkan dua aturan itu hanya menjadi macan kertas.
Literasi internet dan penegakan hukum yang dilakukan secara bersamaan diharapkan bisa memaksa setiap orang untuk bijak berselancar di media sosial.
BANTUAN sosial atau bansos pada dasarnya merupakan insiatif yang mulia.
PEMERIKSAAN dua menteri dari era Presiden Joko Widodo oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi menjadi sorotan publik.
SAMA seperti perang terhadap korupsi, perang melawan narkoba di negeri ini sering dipecundangi dari dalam.
EKONOMI Indonesia melambung di tengah pesimisme yang masih menyelimuti kondisi perekonomian global maupun domestik.
BERAGAM cara dapat dipakai rakyat untuk mengekspresikan ketidakpuasan, mulai dari sekadar keluh kesah, pengaduan, hingga kritik sosial kepada penguasa.
MANTAN Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong dan mantan Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto telah resmi bebas dari tahanan.
Kebijakan itu berpotensi menciptakan preseden dalam pemberantasan korupsi.
ENTAH karena terlalu banyak pekerjaan, atau justru lagi enggak ada kerjaan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) memblokir puluhan juta rekening milik masyarakat.
KASUS suap proses pergantian antarwaktu (PAW) untuk kader PDI Perjuangan Harun Masiku ke kursi DPR RI masih jauh dari tutup buku alias belum tuntas.
Intoleransi dalam bentuk apa pun sesungguhnya tidak bisa dibenarkan.
KEPALA Desa ibarat etalase dalam urusan akuntabilitas dan pelayanan publik.
KONFLIK lama Thailand-Kamboja yang kembali pecah sejak Kamis (24/7) tentu saja merupakan bahaya besar.
NEGERI ini memang penuh ironi. Di saat musim hujan, banjir selalu melanda dan tidak pernah tertangani dengan tuntas. Selepas banjir, muncul kemarau.
Berbagai unsur pemerintah pun sontak berusaha mengklarifikasi keterangan dari AS soal data itu.
EKS marinir TNI-AL yang kini jadi tentara bayaran Rusia, Satria Arta Kumbara, kembali membuat sensasi.
SEJAK dahulu, koperasi oleh Mohammad Hatta dicita-citakan menjadi soko guru perekonomian Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved