Pertobatan Ekologis

16/1/2014 00:00
ANCAMAN banjir di wilayah urban telah berkembang secara intensif sekaligus ekstensif pada musim penghujan kali ini. Intensif karena frekuensinya terus meningkat. Ekstensif karena wilayah cakupannya semakin meluas.

Bukan hanya Jakarta, kota-kota besar lain di luar Jawa pun kini mulai dilanda bencana yang disebabkan ketidakseimbangan ekologis itu. Dalam kaitan itu, banjir bandang yang melanda Kota Manado, kemarin, menjadi sebuah fenomena ekologis terkini yang harus dicermati dan diwaspadai.

Ibu kota Provinsi Sulawesi Utara itu bisa dilanda banjir yang teramat masif. Wilayah-wilayah di  kota berpenduduk sekitar 500 ribu jiwa itu terendam air dengan ketinggian 2 hingga 4 meter akibat luapan Sungai Tondano yang tidak terkendali.

Jembatan-jembatan putus, ribuan warga mengungsi, dan hingga tadi malam delapan orang dilaporkan tewas. Manado pun lumpuh.

Kita terkejut, sangat terkejut, sekaligus prihatin atas bencana itu. Kita menyampaikan  simpati yang mendalam sekaligus dukacita kepada warga Manado yang tengah menjalani musibah itu.

Namun, kita harus mulai menyadari betapa bencana yang melanda Manado dan wilayah-wilayah lain di Tanah Air itu bukan datang tanpa sebab. Sudah kerap dikemukakan bahwa banjir datang bersamaan dengan menghilangnya wilayah-wilayah resapan air berupa hutan lindung dan hutan tutupan di hulu-hulu sungai.

Menghilangnya hutan di wilayah hulu itu membuat air hujan yang jatuh tidak dapat diserap tanah sehingga volume air yang melaju di permukaan meningkat terlalu besar. Celakanya, saluran-saluran air di wilayah-wilayah urban juga tidak terawat sehingga air yang datang pun tidak lagi tertampung.

Fakta itu sudah lama kita ketahui bersama. Rekomendasi untuk mencegah dan mengatasinya pun sudah berkali-kali ditekankan para ahli.

Hentikan deforestasi. Hentikan konversi lahan menjadi permukiman dan bersihkan serta perbaiki kualitas selokan dan drainase.

Faktanya, bukan itu yang kita jalankan. Kita jauh lebih sering mengabaikan daripada mencamkan saran para ahli itu.

Bahkan dari hari ke hari, atas nama pertumbuhan ekonomi, atas nama pertambahan populasi, dan atas nama entah apa lagi, kita justru terus menambah dosa-dosa ekologis kita.

Jangan salahkan bila wilayah urban yang dilanda banjir dan bencana ekologis lain pun terus meningkat dan meluas. Menurut data Walhi, pada 2012 banjir dan longsor hanya terjadi 475 kali dan korban jiwa 125 orang, sedangkan pada 2013 angka itu menjadi 1.392 kali, atau meningkat 293%.

Kini, bukan hanya Jakarta dan Manado, banjir juga melanda wilayah-wilayah lain seperti Bandung, Semarang, Cirebon, Jambi, serta Makassar.

Banjir bandang di Manado semestinya menjadi momentum yang mampu menyadarkan kita bahwa bencana ekologis yang fatal bisa menimpa kita di mana saja dan kapan pun  jika kita tidak mampu menghentikan gaya hidup yang merusak.

Sudah saatnya kita melakukan pertobatan ekologis.


Berita Lainnya