Membenahi Demokrasi Meningkatkan Partisipasi

05/4/2014 00:00
PRAGMATISME dan transaksionalisme yang tumbuh subur dalam praktik politik di negeri ini membuat kepercayaan rakyat terhadap partai politik semakin surut.

Parpol sebagai institusi penting dalam sistem demokrasi seperti mengalami krisis kredibilitas dan kepercayaan teramat parah.

Indikasinya, sebagaimana dikatakan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dalam perbincangan dengan wartawan di Semarang, kemarin, minimnya partisipasi masyarakat dalam kampanye sepanjang tiga pekan terakhir.

Gejala apati publik yang masif itu tentu saja sangat mengkhawatirkan. Apalagi bila itu terus berlangsung hingga hari Pemilu Legislatif 9 April 2014.

Kita tidak bisa menyalahkan rakyat atas rendahnya partisipasi tersebut. Boleh jadi penyebabnya ialah demokrasi kita yang terlampau liberal.

Demokrasi semacam itu menghasilkan elite politik yang egoistis. Para penyelenggara negara bahkan gemar menghasilkan undang-undang dan kebijakan yang menguntungkan parpol, kelompok, dan pribadi.

Rakyat nyaris hanya menjadi tameng dan objek undang-undang dan kebijakan tersebut. Itulah sebabnya dalam 10 tahun terakhir partisipasi rakyat dalam implementasi kebijakan sekadar pas banderol.

Kita tentu berharap partisipasi rakyat dalam Pemilu 9 April 2014 relatif tinggi. Rakyat semestinya menjadikan pemilu sebagai momentum perubahan untuk menghasilkan penyelenggara negara yang berkualitas dan berintegritas.

Kita berharap penyelenggara negara yang dihasilkan lewat pemilu kelak mau membaca ulang dan membenahi demokrasi kita. Kita mendambakan demokrasi yang sejalan dengan kearifan lokal di masyarakat, bukan demokrasi yang terlampau liberal yang justru mengabaikan rakyat.

Demokrasi kita ialah demokrasi yang sungguh-sungguh berpihak pada rakyat, bukan pada golongan semata. Demokrasi yang akan menghasilkan undang-undang dan kebijakan yang menjadikan rakyat sebagai subjek.

Dengan begitu, rakyat bakal bersukacita mendukung dan berpartisipasi dalam setiap kebijakan negara. Bukankah substansi demokrasi ialah partisipasi segenap rakyat?

Bila kita gagal membangun demokrasi ideal tersebut, bukan cuma partisipasi rakyat yang akan terus surut, melainkan juga kondisi bangsa akan terperosok lebih dalam ke jurang krisis berkepanjangan.

Dalam tataran ketatanegaraan, partisipasi rakyat yang tinggi dan berkualitas juga akan menciptakan pemerintahan yang kuat dan bermartabat. Itu artinya kita akan kembali mempraktikkan sistem pemerintahan presidensial sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Dasar.


Berita Lainnya