Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEKUASAAN yang terlampau absolut, tanpa kekuatan penyeimbang, sangat rawan diselewengkan. Begitu pun dengan pemerintah yang terlalu jemawa, amat mungkin jalan mereka lebih mudah salah arah. Demokrasi tersesat. Ujung-ujungnya seluruh negeri ini yang bakal kena getah.
Dalam perspektif itulah sesungguhnya kita hendak memetik pelajaran dari bubarnya Koalisi Merah Putih (KMP) setelah satu per satu partai pendukungnya hengkang. Partai Amanat Nasional (PAN) sudah terlebih dahulu bergabung ke pemerintah. Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pun sudah memberikan sinyal merapat dan memberikan dukungan ke pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.
Publik memang sudah lelah dengan kegaduhan-kegaduhan di masa-masa awal Jokowi berkuasa ketika KMP dan KIH (Koalisi Indonesia Hebat) hampir tak pernah berhenti bertengkar. Pertengkaran itu tak hanya membuat bosan, tapi juga mengakibatkan pemerintahan, politik, dan bahkan perekonomian tak berjalan efektif.
Namun, ketika itu, negeri ini setidaknya masih memegang prinsip checks and balances. Sekalipun kerap kebablasan, KMP mampu menjadi kekuatan penyeimbang yang kritis layaknya oposisi yang tak dikenal di sistem politik kita. Meski terkadang menjengkelkan bagi sebagian orang, sesungguhnya mereka merupakan bagian penting dari sebuah konstelasi keseimbangan politik.
Namun, kini KMP bubar karena rupa-rupa kepentingan sebagai penyebabnya. Inilah lagi-lagi bukti bahwa dalam politik tidak ada koalisi permanen. Yang ada hanyalah koalisi kepentingan. Demi kepentingan, koalisi dianggap basi, fungsi checks and balances pun mereka abaikan. Demi hasrat ikut memegang secuil kekuasaan, mereka tinggalkan fungsi kontrol dan pengawasan. Demi ambisi, mereka merapat hanya kepada yang berkuasa.
Mesti menjadi kecemasan kita bersama, pemerintah malah menyambut baik para partai politik itu lari dari koalisi mereka dan masuk ke pangkuan pemerintah. Betul bahwa dalam demokrasi Pancasila spirit gotong royong demi membangun kejayaan bangsa harus diutamakan.
Namun, bagaimana pula pemerintahan negeri ini akan berjalan lurus bila tidak ada kekuatan penyeimbang yang 'menuntun' pemerintah berkuasa?
Bukan tidak mungkin pemerintah justru akan tergelincir dan cenderung berubah menjadi otoriter. Kalaupun tidak sampai mengarah ke otoriter, beramai-ramainya kubu 'oposisi' mendekat ke pemerintah perlu diwaspadai sebagai awal lahirnya kembali sebuah koalisi pemerintah yang gemuk. Kita tentu belum lupa ketika kegemukan menjadi handycap dari pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Koalisi supergemuk tidak menjamin roda pemerintahan berjalan efektif. Malah sebaliknya, yang terjadi ialah sandera-menyandera. Kerap ditemui di antara anggota koalisi sa¬ling menyandera, bahkan berseberangan dengan kebijakan pemerintah. Aneh, tapi itulah yang terjadi ketika itu. Karena itu, dalam forum ini kita ingin mengingatkan kepada pemerintah, fakta-fakta yang terjadi belakangan ini semestinya dimaknai sebagai lampu kuning untuk masa depan politik dan pemerintahan negeri ini. Boleh saja merangkul partai sebanyak-banyaknya demi menambah vitamin koalisi pemerintah. Namun, kelebihan vitamin bisa pula membahayakan kesehatan koalisi.
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved