Menguji Kualitas Kampanye

15/3/2014 00:00

SALAH satu babak penting perjalanan demokrasi di negeri ini akan dimulai besok. Hal itu ditandai dengan digulirkannya kampanye terbuka partai politik menjelang Pemilu Legislatif 9 April 2014.

Melalui para calon anggota legislatif dan juru kampanye, partai politik mulai menawarkan gagasan dan janji-janji demi mendulang simpati dan suara. Di situlah makna mengapa kita menyebut fase kampanye terbuka sebagai bagian penting demokrasi elektoral di Republik ini.

Dengan kampanye terbuka, publik akan tahu sampai seberapa jauh harapan mereka layak digantungkan. Rakyat akan bisa menilai sekuat apakah gagasan para calon wakil mereka, sekaligus bisa mencatat, merekam, untuk kemudian menagihnya kelak jika sang caleg sudah jadi wakil rakyat.

Bagi para caleg dan partai politik, kampanye terbuka mulai besok hingga 21 hari mendatang mestinya menjadi ajang menawarkan gagasan besar perubahan. Bagi publik, kampanye terbuka bisa jadi tempat untuk menguji calon pemimpin.

Kampanye terbuka bisa dimanfaatkan oleh rakyat untuk aktif menyorongkan agenda perubahan dengan memaksa partai politik dan para juru kampanye menawarkan gagasan-gagasan cerdas dan membawa kemaslahatan untuk lima tahun ke depan.

Selama ini, masyarakat dicekoki oleh laku lancung para wakil rakyat dan pragmatisme akut partai politik. Perkembangan demokrasi Indonesia didarahi praktik politik kotor di bawah penguasaan uang lewat ruang-ruang pengap transaksi menjijikkan.

Dalam kurun hampir satu dasawarsa, demokrasi kita dirayakan oleh kedangkalan, baik kedangkalan konsep maupun etika. Ruang-ruang nalar dan etika ditaruh di 'halaman belakang', sedangkan 'teras rumah demokrasi' kita dijejali oleh politik pencitraan yang kelewat dosis.

Politik sekadar dihiasi oleh pola gerak tutur dan pengelolaan kesan. Substansi etika politik sebagai perkhidmatan kepada kebajikan hidup bersama terkubur dalam-dalam.

Karena itulah, publik perlu cerdas serta cermat dalam menilai dan memilah mana emas sungguhan dan mana emas sepuhan. Emas sungguhan akan terus berkilau kendati bungkusnya kurang meyakinkan.

Sebaliknya, emas sepuhan hanya kinclong sesaat, lalu karatan hanya dalam waktu sekejap. Ia seperti menjanjikan, tetapi substansinya ialah kepalsuan.

Kampanye terbuka juga akan menguji apakah para politikus benar-benar siap untuk mengedepankan kejujuran kendati agak pahit dari sisi popularitas. Juga bisa terlihat apakah justru politisi kita mengejar popularitas buta sembari menghalalkan segala cara, termasuk jika perlu melakukan kampanye hitam dan menebar ujaran kebencian.

Jika semua itu bisa dijalankan, kampanye terbuka akan bermakna dan berkualitas. Akan tetapi, jika tidak, kampanye terbuka hanya akan menjadi slogan dan janji kosong tanpa isi.




Berita Lainnya