Pahlawan Kesiangan Mencari Citra

07/1/2014 00:00
SAAT-SAAT menjelang pemilihan umum seperti sekarang ini merupakan waktu yang tepat bagi pemerintah, partai politik, dan semua petualang politik untuk mencari muka di hadapan rakyat. Apa pun yang menyentuh kepentingan rakyat sedapat mungkin dijadikan panggung untuk menuai simpati.

Penaikan harga elpiji tabung 12 kilogram pun tak luput mereka jadikan panggung untuk mengawali tahun ini. Pemerintah sebagai aktor utamanya dan sejumlah parpol di lingkaran penguasa menjadi figuran yang siap berakting mengatasnamakan rakyat, kapan saja diperlukan.

Bola panas penaikan harga elpiji nonsubsidi tabung 12 kg yang mestinya sepenuhnya di tangan PT Pertamina sebagai langkah korporasi dibelokkan menjadi sebuah isu untuk mempertontonkan keberpihakan segelintir pejabat dan politikus terhadap rakyat. Sebuah cara yang sebetulnya usang, tetapi masih dianggap efektif untuk mengatrol citra dalam sekejap.

Niat Pertamina menaikkan harga elpiji 12 kg sebesar Rp3.959 per kilogram untuk mengurangi kerugian yang menurut BPK mencapai Rp7,7 triliun pada 2011-2012 pun pupus. Ketika penaikan baru sebentar direalisasikan, mulai 1 Januari 2014, dan masyarakat berteriak kencang, pemerintah di atas panggungnya lalu tampil sebagai pahlawan kesiangan.

Disebut pahlawan kesiangan karena penaikan harga elpiji pasti atas persetujuan pemerintah karena Pertamina adalah korporasi negara, tetapi pemerintah pula yang mendadak meminta Pertamina meninjau ulang penaikan harga tersebut.

Kemarin, penaikan versi Pertamina dianulir, diganti dengan penaikan 'versi pemerintah’ sebesar Rp1.000 per kilogram. Dengan begitu, mulai hari ini harga elpiji 12 kg turun dari Rp117.708 per tabung menjadi Rp82.200 per tabung.

Kita sangat menyayangkan isu itu justru lebih banyak dimanfaatkan sekelompok orang untuk mendongkrak citra. Amat mudah diduga, besaran penaikan harga yang baru akhirnya hanya menjadi peluru bagi penguasa untuk memanen simpati.

Sejumlah partai dan tokoh politik mendadak menjadi pembela rakyat dengan menolak penaikan harga elpiji. Lalu, ke mana saja mereka sebelumnya karena wacana penaikan harga elpiji berlangsung sejak lama?

Ketika Pertamina menaikkan harga atas persetujuan pemerintah, ibarat pahlawan kesiangan yang membela rakyat, mereka mengecam penaikan harga elpiji itu. Rakyat lagi-lagi hanya menjadi objek dari jurus-jurus pencitraan tak sedap.

Di satu sisi mereka terlihat seperti pihak yang dibela habis-habisan oleh pemerintah, parpol, dan tokoh politik, tetapi di sisi lain sesungguhnya rakyat tengah dimanfaatkan untuk kepentingan sesaat. Begitu pula dengan Pertamina yang akhirnya cuma menjadi tameng dari semua siasat yang tengah dimainkan oleh mereka yang berburu citra.

Dengan amat lihai pemerintah melakoni perannya sebagai pemegang saham BUMN terbesar di sektor energi itu untuk menyalahkan dan kemudian menekan mereka agar merevisi penaikan harga elpiji 12 kg, meski itu bukan produk subsidi.

Menjelang pemilu, pemerintah dan parpol bakal terus mencari panggung demi mendongkrak citra. Rakyat pun mesti bersiap menyaksikan drama-drama miris lain di sisa waktu sebelum pemilu digelar. Namun, kita percaya rakyat semakin pintar, tak akan mudah terharu dengan politik pencitraan para pahlawan kesiangan itu.





Berita Lainnya