PERKARA dugaan pencatutan jabatan Presiden dan Wakil Presiden oleh Ketua DPR Setya Novanto sesungguhnya sebuah pertarungan moral.
Sebuah pertarungan moral pada hakikatnya pertarungan yang harus dihadapi bangsa, bukan pertarungan satu kelompok dengan kelompok lain di dalam bangsa tersebut.
Celakanya, ada yang memaknai kasus dugaan pencatutan jabatan Presiden dan Wapres itu sebagai pertarungan antara satu kelompok dan kelompok lain. Yang memberi makna seperti itu tiada lain Koalisi Merah Putih.
KMP ialah koalisi di DPR yang meliputi Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Persatuan Pembangunan. Setya Novanto berasal dari Partai Golkar.
Novanto diduga mencatut jabatan presiden dan wakil presiden untuk mendapat jatah saham PT Freeport Indonesia serta saham PLTA Urumuka, Timika, Papua. Sebagai imbalannya, Novanto diduga menjanjikan memuluskan perpanjangan kontrak perusahaan tambang emas asal Amerika Serikat itu.
Bila dugaan itu benar, Novanto sebagai pejabat negara telah melakukan pelanggaran berat etika. Bukan cuma itu, ia juga diduga melakukan pelanggaran pidana, berupa penipuan, pencemaran nama baik, termasuk korupsi.
Atas laporan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said, Mahkamah Kehormatan Dewan Perwakilan Rakyat atau MKD akan mengusut perkara tersebut. Bila saja Presiden dan atau Wapres melapor ke penegak hukum, bukan tidak mungkin kasus Novanto tidak berhenti di perkara etika, tetapi berlanjut ke proses hukum.
Namun, dalam pertemuan Jumat (20/10) malam, KMP bersepakat mendukung dan mempertahankan Novanto sebagai Ketua DPR. Bahkan, Ketua Fraksi Partai Golkar Ade Komaruddin menginstruksikan kadernya di MKD untuk 'mengawal' Novanto.
Terang benderang KMP memperlakukan desakan publik untuk mengusut tuntas perkara dugaan pelanggaran etika dan moral sebagai serangan terhadap kelompok mereka. Padahal, desakan publik itu tiada lain ialah upaya memenuhi pertarungan melawan ketidakpatutan moral dan etika.
Sebagai bagian bangsa, KMP semestinya berdiri di barisan yang sama dengan publik untuk memerangi perbuatan janggal sekalipun perbuatan itu dilakukan oleh anggota sendiri. KMP harus memahami bahwa yang sedang diperangi rakyat bukan individu atau kelompok, melainkan perbuatan.
Bila berdiri sebaris dengan rakyat, KMP akan mendapat apresiasi. Apresiasi berlebih bahkan akan didapat KMP karena mau 'menghukum' anggotanya sendiri yang diduga kuat melanggar etika.
Cara berdiri segaris dengan rakyat sesungguhnya simpel. Serahkan saja kepada MKD untuk memproses perkara ini secara adil dan transparan, bukan malah menginstruksikan kader partai yang tergabung dalam KMP di MKD untuk 'mengawalnya', yang amat mungkin dimaknai 'mengamankannya'.
Sebaliknya, bila kukuh pada sikap membela Novanto yang diduga mencatut jabatan presiden dan wakil presiden untuk memperoleh saham Freeport, KMP akan berhadapan dengan rakyat. Buta dan tuli terhadap kehendak rakyat ialah pangkal kehancuran. Rakyat punya mekanisme sendiri untuk menghukum pembela pelaku pelanggaran etika.
Rakyat berkehendak bangsa ini memenangi pertarungan moral melawan ketidakpatutan moral dan pelanggaran etika seperti yang diduga terjadi dalam perkara Novanto itu. MKD mesti mendengar kehendak rakyat itu. Jejak tersebut akan dimulai hari ini saat MKD menggelar sidang perdana dugaan pencatutan jabatan presiden dan wapres tersebut.
Berita Lainnya
-
09/8/2025 05:00
BANTUAN sosial atau bansos pada dasarnya merupakan insiatif yang mulia.
-
08/8/2025 05:00
PEMERIKSAAN dua menteri dari era Presiden Joko Widodo oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi menjadi sorotan publik.
-
07/8/2025 05:00
SAMA seperti perang terhadap korupsi, perang melawan narkoba di negeri ini sering dipecundangi dari dalam.
-
06/8/2025 05:00
EKONOMI Indonesia melambung di tengah pesimisme yang masih menyelimuti kondisi perekonomian global maupun domestik.
-
05/8/2025 05:00
BERAGAM cara dapat dipakai rakyat untuk mengekspresikan ketidakpuasan, mulai dari sekadar keluh kesah, pengaduan, hingga kritik sosial kepada penguasa.
-
04/8/2025 05:00
MANTAN Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong dan mantan Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto telah resmi bebas dari tahanan.
-
02/8/2025 05:00
Kebijakan itu berpotensi menciptakan preseden dalam pemberantasan korupsi.
-
01/8/2025 05:00
ENTAH karena terlalu banyak pekerjaan, atau justru lagi enggak ada kerjaan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) memblokir puluhan juta rekening milik masyarakat.
-
31/7/2025 05:00
KASUS suap proses pergantian antarwaktu (PAW) untuk kader PDI Perjuangan Harun Masiku ke kursi DPR RI masih jauh dari tutup buku alias belum tuntas.
-
30/7/2025 05:00
Intoleransi dalam bentuk apa pun sesungguhnya tidak bisa dibenarkan.
-
29/7/2025 05:00
KEPALA Desa ibarat etalase dalam urusan akuntabilitas dan pelayanan publik.
-
28/7/2025 05:00
KONFLIK lama Thailand-Kamboja yang kembali pecah sejak Kamis (24/7) tentu saja merupakan bahaya besar.
-
26/7/2025 05:00
NEGERI ini memang penuh ironi. Di saat musim hujan, banjir selalu melanda dan tidak pernah tertangani dengan tuntas. Selepas banjir, muncul kemarau.
-
25/7/2025 05:00
Berbagai unsur pemerintah pun sontak berusaha mengklarifikasi keterangan dari AS soal data itu.
-
24/7/2025 05:00
EKS marinir TNI-AL yang kini jadi tentara bayaran Rusia, Satria Arta Kumbara, kembali membuat sensasi.
-
23/7/2025 05:00
SEJAK dahulu, koperasi oleh Mohammad Hatta dicita-citakan menjadi soko guru perekonomian Indonesia.