Transformasi Mudik

16/7/2015 00:00
HARI Raya Idul Fitri di depan mata. Sejak akhir pekan lalu, puluhan juta penduduk bergerak dari tempat mereka tinggal dan bekerja menuju kampung halaman masing-masing. Mereka membawa serta sebagian upah hasil kerja keras sejak selepas Lebaran tahun lalu. Bank Indonesia mencatat selama periode Ramadan hingga awal pekan ini, jumlah uang kartal beredar di masyarakat sebesar Rp110 triliun.

Sampai dengan akhir periode arus balik, jumlah kebutuhan uang diperkirakan mencapai Rp125 triliun. Dana yang tergolong besar untuk kebutuhan perhelatan yang hanya berlangsung sebulan dan terpusat di dua pekan terakhir. Itu belum termasuk uang elektronik yang banyak dipakai untuk membayar tarif tol dan belanja di toko retail.

Umumnya para pemudik bergerak dari kota-kota besar ke perdesaan. Bersama mereka, triliunan rupiah pun termobilisasi, menyemarakkan perekonomian di desa-desa. Hasrat besar masyarakat untuk membelanjakan uang mereka, baik di tempat tinggal maupun di kampung halaman, membuat roda ekonomi bergerak lebih cepat.

Perekonomian nasional yang lesu terangkat oleh aktivitas perayaan Lebaran. Bukan hanya manusia dan uang yang bergerak. Kebahagiaan pun menjadi komoditas yang turut mengiringi mobilisasi keduanya. Bahagia terbit saat bisa kembali ke kampung halaman. Bahagia muncul ketika berjumpa orangtua dan sanak saudara.

Senyum lebar juga terlihat di wajah-wajah keluarga yang disambangi. Masyarakat perkotaan yang tidak berkesempatan menjalani tradisi mudik ikut merasakan. Lalu lintas jalan yang biasanya diwarnai kemacetan di sana sini, kini lengang. Waktu tempuh perjalanan menjadi jauh lebih singkat. Jalan yang lancar ternyata bisa memicu rasa bahagia.

Kita tidak bisa menampik bahwa di balik mobilisasi manusia dan uang secara besar-besaran tiap tahun, sesungguhnya tersimpan persoalan. Ketimpangan kesejahteraan antara perkotaan dan perdesaan menjadi salah satu penyebab. Persoalan berpangkal pada kesenjangan pembangunan.

Prasarana dan sarana di perkotaan tumbuh lebih cepat, membuat kawasan perdesaan terus tertinggal. Sebuah persoalan yang membutuhkan pemecahan jitu dari pemerintah. Memang bukan tidak mungkin ketika ketimpangan kesejahteraan antarwilayah mengecil, angkatan kerja muda tetap memilih mengadu nasib jauh dari kampung halaman mereka.

Ketika hasrat untuk merantau masih melekat kuat, tradisi mudik pun terpelihara. Itu artinya tugas untuk memberi kenyamanan dan keamanan bagi para pemudik tetap harus ada. Tentunya dengan kualitas yang diharapkan terus meningkat. Mudik Lebaran semestinya bukan cuma sarana mobilisasi duit dari kota ke desa, melainkan juga menjadi momentum untuk bertransformasi, tidak hanya transformasi ekonomi, tetapi juga transformasi pembangunan yang lebih seimbang, serta transformasi mental yang lebih melayani.





Berita Lainnya