Jiwa-Jiwa Selamat Rayakan Lebaran

10/7/2015 00:00
SETIAP tahun, kegembiraan perayaan Hari Raya Lebaran sangat terasa di sendi-sendi kehidupan masyarakat kita. Orang beramai-ramai menukarkan uang menjadi pecahan lebih kecil untuk diberikan kepada sanak saudara muda yang belum berpenghasilan. Tua dan muda bersemangat membeli perlengkapan Lebaran kendati dana yang dialokasikan untuk belanja tahun ini mungkin lebih sedikit.

Tradisi lain yang juga selalu menyertai kemeriahan Lebaran ialah mudik. Berkumpul bersama-sama keluarga di kampung halaman merupakan dahaga yang harus dipuaskan. Masyarakat berbondong-bondong menempuh perjalanan berjam-jam hingga berhari-hari untuk menjumpai orangtua dan keluarga yang mereka rindukan.  Tahun ini, tidak kurang dari 27 juta jiwa diperkirakan ikut serta dalam mobilisasi massa musiman tersebut.

Semua moda transportasi kebanjiran penumpang. Jumlah pengguna kendaraan pribadi juga diprediksi naik. Pemudik dengan mobil diperkirakan sekitar 1,6 juta orang dan pengguna kendaraan roda dua tidak kurang dari 2 juta orang. Mereka semua tidak hanya diliputi kegembiraan, tetapi juga dihantui 'mesin pembunuh'. Sudah jamak, ribuan kasus kecelakaan lalu lintas mewarnai periode mudik Lebaran. Sebanyak 578 jiwa melayang tahun lalu.

Memang jumlah kecelakaan fatal itu menurun bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 600 jiwa. Namun, jangan sampai kita terjebak pada target menurunkan angka kecelakaan dan korban jiwa. Nyawa, walaupun hanya satu, sangat berharga. Target yang dituju semestinya bukan penurunan korban jiwa, melainkan kecelakaan fatal yang nihil alias tidak menelan satu pun nyawa.

Banyak antisipasi yang ditempuh pemerintah dan aparatnya tahun ini. Pemasangan pita kejut di jalan tol terpanjang Cikopo-Palimanan yang baru saja diresmikan merupakan salah satu yang patut mendapatkan apresiasi. Pun, langkah Kementerian Perhubungan menggencarkan pemeriksaan pemenuhan standar pelayanan minimal di angkutan umum merupakan ikhtiar lain mengurangi kemungkinan kecelakaan.

Namun, yang perlu diperhatikan ialah kecelakaan lalu lintas tidak jarang disebabkan kelengahan pengemudi, bukan semata karena jalan dan sarana yang kurang memadai. Jalan mulus, lancar, dan lurus justru bisa membuat pengemudi menurunkan kewaspadaan sehingga mudah terlibat kecelakaan. Nafsu untuk segera mencapai tempat tujuan juga dapat mengantar ke rumah sakit, bahkan hingga ke liang kubur.

Menjaga keselamatan dan kenyamanan mudik bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Para pemudik dituntut untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak sembrono mengabaikan rambu-rambu lalu lintas. Semua itu agar mulai tahun ini, tradisi mudik membawa kegembiraan dengan mengantar jiwa-jiwa yang selamat, tidak lagi dihiasi kedukaan karena terpisahnya nyawa dari raga.





Berita Lainnya