Di Bandara Kita tak Berdaya

07/7/2015 00:00
BANDARA Soekarno-Hatta belum juga berhenti memamerkan kebobrokan. Mulai listrik mati yang mengacaukan seluruh jadwal penerbangan hingga radar pengatur lalu lintas pesawat yang tidak berfungsi. Kali ini terjadi kebakaran yang menimbulkan kepanikan penumpang luar biasa dan mengacaukan jadwal penerbangan.

Kebakaran terjadi di JW Sky Lounge di Terminal 2E Bandara Soekarno-Hatta pada Minggu (5/7) sekitar pukul 05.50 WIB. Peristiwa itu mengakibatkan 30 penerbangan terlambat di atas 30 menit. Maskapai penerbangan Garuda Indonesia terpaksa membatalkan 49 penerbangan. Akibatnya, sekitar 3.900 penumpang batal diterbangkan ke tempat tujuan.

Ada persoalan besar, sangat besar, di balik peristiwa kebakaran tersebut, yaitu menyangkut manajemen krisis. Manajemen krisis yang dimaksud ialah respons pertama otoritas bandara terhadap sebuah kejadian yang dapat mengubah jalannya operasi bisnis yang telah berjalan normal. Harus jujur dikatakan bahwa otoritas bandara sepertinya gagap menginformasikan perihal kebakaran sehingga menyebabkan penumpang mengalami kepanikan luar biasa.

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengakui baik pengelola bandara maupun maskapai penerbangan belum menerapkan manajemen krisis yang maksimal. Sejauh ini, manajemen krisis yang dipunyai Bandara Soekarno-Hatta hanya meliputi tempat parkir pesawat hingga landasan pacu. Dari terminal hingga lokasi parkir kendaraan, mereka belum punya manajemen krisis.

Pengakuan Jonan patut diapresiasi. Akan tetapi, harus tegas pula dikatakan bahwa Jonan tidak bisa mencuci tangan dengan melemparkan seluruh kesalahan kepada pengelola bandara.

Sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, penerbangan dikuasai negara dan pembinaannya dilakukan pemerintah. Pembinaan yang dimaksud meliputi aspek pengaturan, pengendalian, dan pengawasan. Karena itulah, Kementerian Perhubungan harus memastikan ada standar baru manajemen krisis di Bandara Soekarno-Hatta dan mengawasi secara ketat.

Diakui atau tidak bahwa terlalu lama Bandara Soekarno-Hatta dibiarkan berjalan tanpa manajemen krisis yang baik. Listrik mati yang mengacaukan jadwal penerbangan, radar yang tidak berfungsi, dan kebakaran yang memicu kepanikan harus menjadi pelajaran berharga. Belajarlah dari pengalaman agar tidak terus-menerus memamerkan kebobrokan. Keledai saja enggan terperosok pada lubang yang sama.

Bandara Soekarno-Hatta itu ibarat gerbang masuk udara yang menghubungkan dengan dunia luar. Ia menjadi etalase bagi bangsa ini. Ironisnya, justru di pintu gerbang itulah negeri ini kedodoran, tidak berdaya.

Tidak hanya itu, kualitas Bandara Soekarno-Hatta mestinya menjadi acuan bandara lainnya, terutama di masa libur Lebaran 2015. Bagaimana bisa dijadikan acuan bila persoalan elementer terkait dengan manajemen krisisnya saja masih kedodoran, terseok-seok.

Kita merindukan otoritas bandara yang memiliki visi panjang dengan cara pandang antisipatif, bukan reaktif. Kita tidak butuh otoritas bergaya pemadam kebakaran, begitu ada persoalan, baru bergerak memadamkan. Kita berharap Menteri Perhubungan mampu menyelesaikan persoalan laten di Bandara Soekarno-Hatta. Ini tantangan bagi Jonan.

Berita Lainnya