TNI yang Kuat BIN yang Tanggap

04/7/2015 00:00
LENGKAP sudah komposisi pejabat pemerintahan di bawah Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Itu terjadi setelah Sidang Paripurna Ke-36 DPR RI, kemarin, secara bulat menyetujui penunjukan Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai Panglima TNI menggantikan Jenderal Moeldoko serta Letjen (Purn) Sutiyoso sebagai Kepala Badan Intelijen Negara menggantikan Marciano Norman.

Dalam suasana politik di Tanah Air yang belum sepenuhnya sembuh dari rivalitas politik antara DPR yang dikuasai Koalisi Merah Putih dan Koalisi Indonesia Hebat yang menyokong pemerintah, mulusnya pencalonan dua kandidat yang disodorkan Presiden Jokowi tersebut jelas merupakan angin segar. Ia menjadi modal berharga bagi pemerintah bahwa kekhawatiran bakal permanennya rivalitas politik sehingga mengganggu stabilitas pemerintahan, bisa ditepis.

'Pembelahan' politik yang menjadi residu dari hasil Pemilihan Presiden 2014 lalu akhirnya tidak benar-benar terjadi dan telah ada titik temu di banyak persoalan yang penting. Kondisi seperti itulah yang amat didambakan rakyat terhadap para elitenya. Rakyat yang sedang bersabung menghadapi rupa-rupa kesulitan, terutama naiknya harga-harga barang, berharap agar para pengurus negara akur sehingga cepat menemukan cara bersama mengatasi masalah yang membelit itu.

Karena itu, kita mengapresiasi DPR dan pemerintah dalam penunjukan Kepala BIN dan Panglima TNI, yang bersedia menyingkirkan ego individu dan kelompok. Kita juga mengucapkan selamat kepada Jenderal Gatot Nurmantyo dan Letjen (Purn) Sutiyoso yang telah terpilih menduduki dua jabatan itu. Namun, keduanya jelas tidak boleh berlama-lama untuk langsung tancap gas. Berbagai persoalan besar di dunia intelijen dan TNI sudah menunggu untuk segera dibereskan.

Karena itu, begitu selesai dilantik Presiden Jokowi, keduanya mesti bergegas bergerak. Panglima TNI, misalnya, sudah dihadapkan pada pembenahan alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang sudah dalam kondisi darurat akibat usia yang renta. Sudah terlalu banyak korban jiwa, baik prajurit TNI, keluarga prajurit, maupun rakyat sipil yang menjadi korban mematikan akibat alutsista yang uzur itu.

Selain itu, Panglima TNI harus menuntaskan penyelidikan ihwal temuan penggunaan suku cadang palsu untuk alutsista yang diduga melibatkan anggota TNI, rekanan, dan para broker. Tugas utama menjaga kedaulatan bukan semata terjadi ketika diserang musuh, melainkan juga saat situasi tenang, yang justru bukan tidak mungkin lebih sulit karena musuh tidak kelihatan.

Bagi Kepala BIN yang baru, Sutiyoso, beragam celah yang masih terjadi di dunia intelijen kita selama ini sudah harus dibereskan. Salah satu lubang paling menganga di intelijen kita ialah ihwal deteksi dini atas rupa-rupa gangguan keamanan. Beragam kejahatan transnasional seperti terorisme, penyelundupan narkoba, dan masifnya penyelundupan barang-barang impor ilegal jelas membutuhkan deteksi dini yang cermat, tepat, dan cepat.

Selain itu, mantan Gubernur DKI dan Pangdam Jaya tersebut dituntut untuk mampu membawa BIN ke arah yang semata-mata demi kepentingan bangsa, bukan kepentingan kelompok. Dalam menjalankan segala misinya, BIN yang profesional juga dituntut untuk menghormati hak asasi manusia dengan sepenuh-penuhnya. Jika semuanya bisa berjalan dalam irama yang sama, cita-cita menuju bangsa yang sejahtera bakal cepat terlaksana.





Berita Lainnya