Memastikan Keselamatan Pemudik

27/6/2015 00:00
MESKI ekonomi lesu, prosesi mudik di Lebaran tahun ini bakal tetap semarak. Kementerian Perhubungan memprediksi 27 juta orang akan pulang ke kampung halaman.

Bahkan budaya mudik menjadi momentum untuk menggairahkan ekonomi karena di sana ada mekanisme konsumsi. Bukankah ekonomi kita digerakkan oleh konsumsi?

Untuk periode Lebaran kali ini, Bank Indonesia memprediksi kebutuhan uang tunai saja mencapai Rp125 triliun. Bahkan, ada adagium mudik itu bagi-bagi rezeki. Bukan sekadar berbagi rezeki untuk sanak saudara, melainkan berbagi rezeki dalam arti luas, menggeliatkan perekonomian di daerah.

Uang sebesar itu akan mengalir ke daerah, bergerak bersama dengan para pemudik. Mudik dapat menjadi proses mengalirnya dana serta sumber daya materi dari kota ke desa. Proses itu jelas membuka kesempatan bagi daerah untuk mendapatkan pemasukan nonpendapatan asli daerah (PAD).

Para perantau di kota besar bekerja keras, mengumpulkan tabungan, lalu dibelanjakan saat Lebaran.

Namun, tak hanya cerita manis yang ada di balik drama mudik. Dari tahun ke tahun, mudik masih saja menyisakan kisah pilu. Kecelakaan terus membayangi tradisi mudik. Tahun lalu, 515 orang meninggal dalam perjalanan, akumulasi dari H-7 hingga H+3.

Seiring dengan naiknya arus mudik, tentu pekerjaan pemerintah akan lebih berat. Jumlah penumpang angkutan umum melonjak. Misalkan angkutan penyeberangan diperkirakan naik 3,58%, kereta api 8,54%, laut 3,05%, dan udara 2%. Hanya angkutan darat yang mengalami penurunan.

Namun, jumlah orang yang menggunakan mobil dan motor pribadi untuk mudik justru bertambah. Pertumbuhan volume mobil pribadi diprediksi mencapai 5,8%. Adapun sepeda motor tumbuh rata-rata 7,77%. Persiapan harus matang karena moda transportasi itulah yang tercatat paling banyak mengalami kecelakaan.

Pemerintah harus matang mempersiapkan sarana dan prasarana selama mudik. Keselamatan harus jadi parameter utama. Miris rasanya membaca kabar ratusan orang meninggal di jalan raya setiap tahun selama Lebaran.

Upaya pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla untuk mempercepat persiapan sarana mudik telah dilakukan. Tol Cikopo-Palimanan akan mengurai benang kusut kemacetan di jalur pantura, yang selama ini menjadi rutinitas.

Penyediaan angkutan kapal laut gratis untuk pemudik menggunakan sepeda motor akan membuat tingkat kecelakaan bisa ditekan. Namun, hal itu belum efektif karena masih banyak pemudik menggunakan sepeda motor, bahkan diprediksi akan meningkat.

Masih banyak yang harus dibenahi untuk meningkatkan kualitas pelayanan terhadap pemudik, termasuk masalah infrastruktur jalan. Selain itu, kerja lebih keras seluruh instansi amat dibutuhkan terutama polisi lalu lintas yang mengatur arus mudik dan arus balik Lebaran. Begitu pula, pihak berwenang harus memastikan armada bus umum memenuhi standar fisik dan pelayanan yang baik.

Keberhasilan dalam manajemen arus mudik dan balik akan menjadi catatan harum tersendiri bagi pemerintahan Presiden Jokowi. Negara harus memastikan para pemudik selamat mengantar rezeki mereka, bukan nyawa mereka.

Berita Lainnya