Saatnya Berantas Mafia Bola

20/6/2015 00:00
SUDAH teramat lama persepakbolaan nasional diduga bertekuk lutut di kaki para mafia. Namun, sudah teramat lama pula aksi jahat para mafia itu hanya berkutat dalam prasangka. Inilah saatnya untuk membuktikan bahwa mafia sepak bola Indonesia memang ada dan mesti dibongkar sampai ke akar-akarnya.

Para mafia telah leluasa mengatur dan menguasai persepakbolaan di Tanah Air bukanlah cerita baru. Mereka sudah berpuluh-puluh tahun menjadikan permainan sepak bola nasional sebagai objek untuk mengeruk untung lewat permainan judi.

Atur-mengatur skor, siapa yang harus kalah dan siapa pula yang mesti menang, sampai jumlah gol per babak menjadi kekuasaan para mafia. Dari manajemen klub, pelatih, pemain, hingga wasit pun tunduk pada mereka karena iming-iming uang yang jumlahnya membuat silau mata.

Tidak cuma kompetisi lokal, tim nasional Indonesia juga menjadi komoditas para mafia. Dengan bermodalkan uang berlimpah, para mafia meracuni para pihak yang terlibat di timnas untuk menuruti kemauan mereka. Uang begitu berkuasa sehingga nasionalisme gampang dibeli.

Namun, sekali lagi, semua itu baru sebatas dugaan. Ia sekadar rumor yang terus terpelihara dari waktu ke waktu. Terlebih lagi, keanehan demi keanehan dan kontroversi demi kontroversi tiada henti mewarnai baik kompetisi Liga Indonesia maupun tatkala skuat 'Merah Putih' beraksi.

Untuk kompetisi, misalnya, sang juara bahkan disebut-sebut sudah ketahuan sebelum persaingan bergulir. Sepak bola gajah juga belum sirna dari jagat sepak bola di negeri ini. Untuk timnas, skor-skor mencolok yang tak masuk akal terus memantik spekulasi adanya campur tangan mafia.

Selama mafia masih berkuasa, selama itu pula sepak bola kita tak mungkin dapat berjaya. Karena itu, sudah saatnya kita memastikan ada-tidaknya mafia di persepakbolaan nasional untuk selanjutnya memberangusnya.

Pintu untuk memerangi mafia bola pun telah terbuka lebar. Sepak terjang para mafia yang selama ini sekadar rumor mulai menemukan pembenaran. Tiga pelaku sepak bola terang-terangan menyebut sepak terjang mereka.

Setelah BS mengungkap rekaman telepon antara dirinya dan seorang bandar soal dugaan pengaturan skor kala timnas U-23 menghadapi Vietnam di SEA Games Singapura, dua mantan pelatih memberikan testimoni.

Keduanya ialah Gunawan yang pernah menukangi Persipur Purwodadi dan Agus Yuwono, bekas arsitek Persidafon Dafonsoro dan Persegres Gresik United.

Ketiganya kompak bersuara, betapa mafia telah begitu dalam menancapkan taring mereka di leher persepakbolaan nasional.

Keberanian mereka buka-bukaan soal sepak terjang mafia ialah modal amat berharga bagi negeri ini untuk membersihkan sepak bola dari segala macam parasit. Kita berharap keberanian itu menyebar ke seluruh pelaku sepak bola untuk membuka praktik-praktik jahat para mafia.

Namun, untuk bisa menindak para mafia, testimoni saja tidak cukup. Harus ada bukti kuat sebagai pijakan aparat kepolisian mengambil tindakan hukum terhadap mereka. Mudah-mudahan, mereka yang gigih memperjuangkan sepak bola bersih punya bukti-bukti itu. Semoga Polri punya kemauan dan keseriusan menangani perkara tersebut.

Inilah momentum terbaik untuk memberantas mafia bola yang puluhan tahun tak tersentuh karena tiadanya keberanian dan kesungguhan para pihak untuk memberangus mereka. Jika momentum kali ini disia-siakan, para mafia akan terus merajalela dan sepak bola kita terus-terusan berkubang di lumpur kegagalan.

Berita Lainnya