Jalan Tol tidak Bebas Hambatan

16/6/2015 00:00
SATU demi satu ruas tol trans-Jawa resmi beroperasi. Yang terbaru ialah ruas Cikopo-Palimanan, Jawa Barat, dengan panjang 116,75 kilometer yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada Jumat (12/6) lalu. Ruas tol tersebut menuntaskan proyek trans-Jawa yang terletak di Jawa Barat. Sisa bolong-bolong proyek kini hanya ada di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur dan penyelesaiannya tengah dikebut.

Kehadiran tol trans-Jawa jelas memberikan dampak positif memperlancar arus kendaraan di Pulau Jawa. Logistik yang melewati jalan darat dapat mencapai tujuan dengan lebih cepat. Kemacetan di jalan sepanjang pantai utara, alias pantura, Jawa terurai oleh beralihnya sebagian lalu lintas ke trans-Jawa. Beban pun terbagi.

Kerusakan jalan yang menuntut kehadiran proyek abadi perbaikan jalan pantura diharapkan berkurang. Semua itu tentu saja bisa memberikan daya tarik kepada lebih banyak investor untuk mengembangkan usaha di Pulau Jawa. Proyek-proyek semacam tol trans-Jawa sudah selayaknya hadir di pulau-pulau utama di Indonesia. Tujuannya agar investasi dan pembangunan merata di seluruh wilayah negeri.

Tentu akan lebih baik bila jalan nasional dengan kualitas setara dengan rata-rata tol diadakan pula, bukan melulu jalan berbayar. Perlu diingat, jalan tergolong infrastruktur dasar. Kewajiban pemerintahlah membangun infrastruktur dasar. Meski begitu, untuk saat ini kita bisa memaklumi keterbatasan pendanaan pemerintah. Pelibatan badan usaha, baik swasta maupun BUMN, merupakan jalan keluar yang cukup tepat untuk menghindari kemandekan pembangunan jalan.

Di luar Jawa, baru tol trans-Sumatra yang telah dimulai pembangunannya. Itu pun baru pada tahapan awal dan penyelesaiannya sulit diprediksikan karena terhadang oleh masalah pembebasan lahan. Itu sebuah masalah yang hingga kini belum bisa diatasi dengan solusi efektif dan mungkin akan terus menjadi penghalang proyek jalan bebas hambatan di Sulawesi, Kalimantan, dan Papua.

Lagi-lagi pemerintah diharapkan bisa mendapatkan obat yang mujarab untuk persoalan pembebasan lahan. Tidak hanya itu, dampak positif hanya satu dari dua sisi mata pisau tol trans. Proyek itu juga akan menimbulkan dampak negatif. Sudah terbayang di depan mata, para pemudik akan sangat antusias menggunakan kendaraan pribadi untuk mencapai kampung halaman.

Penggunaan mobil pribadi bakal meningkat pesat dan lama-kelamaan membuat kapasitas jalan tol menjadi tidak lagi mencukupi. Jalan yang seharusnya bebas hambatan akan menjadi penuh hambatan oleh lalu lintas yang tersendat. Oleh karena itu, cukup bijak jika proyek-proyek jalan bebas hambatan dibarengi pula dengan konsep pengembangan angkutan umum.

Itu tidak sekadar memastikan bus-bus, kapal, kereta api, dari kota satu ke kota lainnya. Yang tidak kalah penting ialah menyediakan transportasi publik yang memudahkan mobilitas pemudik di kampung halaman. Berat, memang, kerja pemerintah karena terlalu banyaknya persoalan yang membelit negeri. Namun, untuk itulah pemimpin negeri dan daerah dipilih. Persoalan negeri merupakan ujian layak atau tidakkah Anda mendapatkan nilai yang baik dari rakyat.





Berita Lainnya