Saatnya Konsolidasi Ekonomi

13/6/2015 00:00
SITUASI tidak menggembirakan masih saja mewarnai kondisi perekonomian nasional. Sejumlah indikator utama yang menggambarkan hal itu tidak bisa begitu saja kita tepiskan.

Setelah perlambatan di triwulan pertama yang membuat ekonomi kita hanya mampu tumbuh 4,7%, nilai mata uang kita juga melemah terhadap dolar Amerika Serikat dan hanya mampu bergerak secara defensif di level 13.300 per dolar AS. Indeks harga saham gabungan (IHSG) juga tidak terlalu menggembirakan. Pergerakan IHSG dalam pekan-pekan terakhir melemah dalam rentang 1,5% hingga 2,45%.

Di sisi lain, tingkat inflasi dalam tiga bulan terakhir naik signifikan. Pada Maret 6,38%, April 6,79%, dan Mei 7,15%. Saat mendekati Ramadan dan Lebaran, hampir pasti terjadi kenaikan lebih tinggi lagi pada indikator itu. Artinya, setelah pada bulan-bulan terakhir masyarakat merasakan harga-harga berbagai kebutuhan yang terus naik, memasuki Ramadan dan Idul Fitri nanti, kenaikan harga yang lebih tinggi lagi harus kita antisipasi.

Semua indikator tersebut jelas bukan persoalan yang boleh dianggap sebagai kelaziman dan ditangani sekenanya. Apalagi prospek perekonomian di masa depan juga tidak terlalu menggembirakan.

Secara eksternal, kondisi perekonomian dunia masih akan terpengaruh oleh kebijakan Federal Reserve, atau Bank Sentral AS, yang memutuskan untuk melanjutkan kebijakan penaikan suku bunga acuan. Artinya, dolar akan tertarik ke AS, menguatkan nilai mata uang itu sekaligus melemahkan rupiah.

Akibat lain dari penaikan suku bunga acuan The Fed tersebut, salah satunya, ialah bahwa hal itu juga akan ikut menaikkan biaya bunga pinjaman. Kita tercatat memiliki pinjaman luar negeri. Bahkan, belakangan menambah lagi utang itu dan di masa depan mungkin masih akan menambahnya lagi. Artinya, kita harus membayar bunga pinjaman lebih besar daripada sebelumnya.

Belum lagi perang mata uang yang tengah digencarkan negara-negara maju untuk mendongkrak ekspor mereka tentu menambah runyam persoalan.

Di luar soal ekspektasi tekanan terhadap mata uang kita, kondisi makro perekonomian global juga perlu kita cermati. Bank Dunia baru saja mengoreksi perkiraan pertumbuhan negara-negara emerging market, termasuk Indonesia.

Menurut dokumen Global Economic Prospects yang diumumkan secara langsung oleh Presiden Bank Dunia Jim Yong-kim, Kamis (11/6), pertumbuhan ekonomi 2015 di negara-negara emerging market yang diprediksi pada akhir tahun lalu akan mencapai 4,8% dikalkulasi Bank Dunia hanya akan mencapai 4,4%.

Memang, dalam dokumen dua tahunan itu, Bank Dunia tidak memprediksikan kondisi yang seluruhnya memicu pesimisme bagi perekonomian kita. Namun, harus dikatakan bahwa secara eksternal estimasi tekanan terhadap ekonomi kita jauh lebih besar daripada kesempatan bertumbuh lebih progresif. Situasi itu jelas tidak boleh dipandang remeh.

Karena itu, kita mendesak pemerintah untuk bersikap lebih agresif dalam mengantisipasi estimasi yang tidak menggembirakan tersebut.

Pernyataan bahwa perlambatan itu merupakan pengaruh kondisi global yang tidak bisa dihindari jelas tidak cukup untuk mengatasi. Itu bahkan dapat memperburuk situasi karena ia dapat dipersepsikan pasar sebagai sinyal bahwa pemerintah tidak berbuat apa pun untuk mengatasi kelesuan.

Pemerintah harus menyatukan langkah dan mengonsolidasikan upaya memperkuat ekonomi. Aksi yang mendesak ialah mempercepat belanja dan penyerapan anggaran yang masih tersendat-sendat, mempercepat gerakan pembangunan infrastruktur, dan memberikan pesan positif kepada pasar.

Itulah pekerjaan mendesak tim ekonomi Kabinet Kerja yang segera ingin kita lihat hasil awalnya.

Berita Lainnya