SEBAGIAN besar ketidakmampuan anak bangsa ini memecahkan masalah hari ini disebabkan ketidakmampuan merawat warisan terbaik dari masa lalu. Legacy yang diupayakan dengan susah payah oleh para pendiri bangsa kerap dianggap sebagai bagian masa lalu yang usang.
Tengoklah ketika banyak elite di Republik ini menanggalkan begitu saja warisan termahal para pendiri bangsa, yakni karakter bangsa yang dirumuskan lewat Pancasila. Ketika suatu golongan dibiarkan diberangus di altar kebencian oleh golongan lain, misalnya, tak banyak yang bisa bangsa ini lakukan.
Padahal, para pendiri bangsa sudah mencontohkan bagaimana mereka berempati terhadap sejarah pengorbanan rakyat sehingga membuat mereka memiliki jiwa kepahlawanan. Lihatlah begitu heroiknya mereka saat berpidato menyerukan kemerdekaan dengan dasar negara Pancasila yang diidealisasikan di tengah bala tentara Jepang bersenjatakan bayonet.
Tidak mengherankan jika banyak yang mengkritik kita mengalami amnesia yang parah tentang makna kemerdekaan dan perjuangan melahirkan ideologi kebangsaan.
Sebagai warisan yang digali dan dirumuskan bersama, Bung Kao meyakini keampuhan Pancasila sebagai leitstar atau bintang pimpinan. Sebagai bintang pimpinan, kata Bung Kao, Pancasila adalah satu alat mempersatu bangsa dari Sabang sampai ke Merauke.
Bukan saja alat mempersatu untuk di atasnya kita letakkan negara RI, melainkan juga pada hakikatnya satu alat mempersatu dalam perjuangan kita melenyapkan segala penyakit yang kita lawan berpuluh-puluh tahun, yaitu imperialisme. Namun, akibat penyelewengan atas nilai-nilai Pancasila itu, peran Pancasila sebagai bintang pimpinan itu pun redup.
Karena itu, kita mengapresiasi sangat tinggi langkah Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Zulkifli Hasan yang mencanangkan gerakan 'Ini Baru Indonesia' saat memperingati Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2015. Gerakan tersebut, kata Ketua MPR, sebagai cara baru untuk mengingatkan pentingnya nilai-nilai kebangsaan.
Cara baru yang dimaksud adalah model mengingatkan pentingnya nilai-nila kebangsaan secara lebih simpel, kreatif, dan kekinian. Tujuannya untuk merangkul seluruh komponen masyarakat agar membawa nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam manifesto gerakan itu di antaranya tertulis 'Dari Sabang sampai Merauke kita akan melihat lebih banyak lagi senyum ramah dan tegur sapa, gotong royong dan tolong menolong. Kesantunan bukan anjuran tapi kebiasaan, kepedulian menjadi dorongan.
Dari terbit hingga terbenamnya matahari, kita melihat orang-orang berpeluh tanpa mengeluh, berkeringat karena semangat, kerja keras menjadi ibadah, ketaatan menjadi kesadaran, kejujuran menjadi harga diri dan kehormatan.
Wajah mereka adalah wajah Indonesia yang sebenaya, tangan mereka adalah tangan Indonesia yang sejati, keluhuran budi mereka adalah keluhuran Indonesia yang sesungguhnya.
Namun, beberapa kali di forum ini kita sampaikan bahwa gerakan apapun tidak boleh sekadar panas di awal lalu pelan-pelan redup oleh rutinitas. Yang celaka ialah bila gerakan yang hebat itu minim keteladanan dari para elite.
Dalam masyarakat kita yang masih mengedepankan patronase, keteladanan elite merupakan cara paling efektif untuk menjadikan gerakan sebagai kesadaran kehidupan. Tanpa itu, gerakan apapun kerap berhenti menjadi slogan kosong.
Rakyat sudah lama merindukan keteladanan. Mereka butuh teladan untuk mengedepankan kepentingan bangsa ketimbang kepentingan lainnya, teladan untuk jujur tanpa pura-pura, teladan untuk berkorban demi kemaslahatan bersama.
Berita Lainnya
-
09/8/2025 05:00
BANTUAN sosial atau bansos pada dasarnya merupakan insiatif yang mulia.
-
08/8/2025 05:00
PEMERIKSAAN dua menteri dari era Presiden Joko Widodo oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi menjadi sorotan publik.
-
07/8/2025 05:00
SAMA seperti perang terhadap korupsi, perang melawan narkoba di negeri ini sering dipecundangi dari dalam.
-
06/8/2025 05:00
EKONOMI Indonesia melambung di tengah pesimisme yang masih menyelimuti kondisi perekonomian global maupun domestik.
-
05/8/2025 05:00
BERAGAM cara dapat dipakai rakyat untuk mengekspresikan ketidakpuasan, mulai dari sekadar keluh kesah, pengaduan, hingga kritik sosial kepada penguasa.
-
04/8/2025 05:00
MANTAN Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong dan mantan Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto telah resmi bebas dari tahanan.
-
02/8/2025 05:00
Kebijakan itu berpotensi menciptakan preseden dalam pemberantasan korupsi.
-
01/8/2025 05:00
ENTAH karena terlalu banyak pekerjaan, atau justru lagi enggak ada kerjaan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) memblokir puluhan juta rekening milik masyarakat.
-
31/7/2025 05:00
KASUS suap proses pergantian antarwaktu (PAW) untuk kader PDI Perjuangan Harun Masiku ke kursi DPR RI masih jauh dari tutup buku alias belum tuntas.
-
30/7/2025 05:00
Intoleransi dalam bentuk apa pun sesungguhnya tidak bisa dibenarkan.
-
29/7/2025 05:00
KEPALA Desa ibarat etalase dalam urusan akuntabilitas dan pelayanan publik.
-
28/7/2025 05:00
KONFLIK lama Thailand-Kamboja yang kembali pecah sejak Kamis (24/7) tentu saja merupakan bahaya besar.
-
26/7/2025 05:00
NEGERI ini memang penuh ironi. Di saat musim hujan, banjir selalu melanda dan tidak pernah tertangani dengan tuntas. Selepas banjir, muncul kemarau.
-
25/7/2025 05:00
Berbagai unsur pemerintah pun sontak berusaha mengklarifikasi keterangan dari AS soal data itu.
-
24/7/2025 05:00
EKS marinir TNI-AL yang kini jadi tentara bayaran Rusia, Satria Arta Kumbara, kembali membuat sensasi.
-
23/7/2025 05:00
SEJAK dahulu, koperasi oleh Mohammad Hatta dicita-citakan menjadi soko guru perekonomian Indonesia.